Jika cinta tak lantas menjadikan kita bersatu, apakah salah aku memiliki rasa itu?

Tuhan yang mempertemukan kita, Tuhan yang menaruh rasa itu padaku, tapi Tuhan pula yang melarangku mengungkapkan rasa itu. Kasih, aku tidak mengerti dengan semua ini. Apa yang salah dengan rasa yang kumiliki? Bukankah rasa ini murni dari hati, bukankah tak ada satu pun manusia yang mampu menolak rasa itu, termasuk aku dan kamu. Lantas, mengapa harus ada sekat di antara kita yang membatasi semua ini bahkan menjadi tembok penghalang kita.

Aku tidak ingin menyalahkan waktu yang telah mempertemukan kita, aku tidak ingin menyalahkan momen yang terjadi mengiringi perjumpaan kita, karena bertemu denganmu membuatku mengerti banyak hal. Kau banyak mengajariku makna kehidupan. Kau banyak mengajari tentang serba serbi kehidupan yang tak kutahu sebelum perjumpaan kita. Namun, aku menyesali rasa yang terlanjur ada.

Bahkan dadaku sesak ketika kau mengatakan bahwa memiliki rasa yang sama. Di saat itu, palung hatiku berkata lain dengan semua dalil-dalil dan teori-teori yang menjalar ke otakku. Rasa yang kita miliki kenapa harus terbentur oleh agama? Kenapa Tuhan kita berbeda dan tak mengijinkan kita untuk bersatu dalam perbedaan ini?

Kasih, aku tak tahu harus berbuat apa. Aku mencintaimu, tapi aku menyesal. Aku menyesal kita berada dalam ruang yang berbeda. Seolah cinta yang tak akan pernah bisa bersua.

Advertisement

Kau tahu, banyak sekali mata yang melirikku seolah aku hina karena mencintaimu. Banyak sekali mata yang menyindirku karena mempertahankan cinta yang berbeda ini. Bahkan tak terhitung berapa banyak dari mereka yang berujar dalam hati mencercaku. Aku hanya tersenyum tipis. Aku tak menyalahkanmu yang menitipkan luka yang harus kutanggung ini. Aku maklum dengan semua perlakuan mereka, karena mereka tak pernah mengalami hal yang sama denganku. Karena mereka tak pernah mencintai seseorang yang berbeda. Andai mereka mengalami hal yang sama denganku, mungkin mereka akan tahu bahwa cinta tak pernah memilih tempat untuk singgah. Bahkan walaupun tempat persinggahan itu tak pernah ia sangka-sangka.

Terkadang aku berpikir apakah rasa yang kumiliki ini hanya sementara saja? Apakah cinta ini tak mampu berlanjut hingga menjadi pelabuhan terakhir? Apakah jurang perbedaan ini akan selamanya menganga?

Seribu kali aku bertanya hanya udara kosong yang mendengarnya, hanya gulita yang melihat kepekatan hatiku. Kita sama-sama yakin dengan keyakinan yang bertolak belakang dan mungkin hingga akhirnya jurang itu akan merapat jika salah satu di antara kita mengikuti yang lainnya.

Aku mencintaimu… aku menyayangimu… aku merindukanmu lebih dari merindukan cinta-cinta sebelumnya, tapi aku menyayangkan mengapa kita berada di jalan yang tak sama. Jika suatu saat nanti kau menemui diriku menjauh darimu bukan karena sudah tak ada rasa di hatiku, tapi rasa itu mulai kuubah dengan doa. Tak ada cara lain mencintaimu sebaik mengubah cinta itu menjadi doa. Ada doa yang terselip di setiap rasaku dan suatu saat nanti aku berharap Tuhan menjawab doa itu. Entah dengan jawaban yang kuminta atau jawaban yang menjadi kehendak-Nya.

Jika suatu saat nanti kita tak bisa bersatu, jangan sesali perjumpaan kita. Tak ada yang salah dengan ruang dan waktu. Perjumpaan kita adalah sebab untuk akibat yang belum terduga.

Aku tak ingin menghapus semua kenangan tentangmu. Aku tetap ingin merindumu sebagai sesuatu yang berbeda. Sebagai hal yang selalu kuangankan dan sebagai doa yang hingga detik ini kutunggu jawabnya.

Jika cinta ini berakhir di sini, kumohon jangan menyalahkan sebab yang menjadi alasannya. Jangan menyalahkan agama yang menjadi tembok kita. Tak ada yang salah dalam cinta, hanya kita yang terlalu cepat menyimpulkan rasa.