Kau datang menawarkan rasa yang sama. Kau datang seperti sebuah mozaik yang siap melengkapi kepingan-kepingannya di hatiku. Kau datang dari tempat yang jauh dalam sebuah kesempatan yang Tuhan berikan. Sejak itu kau mulai menghubungiku. Kau bercerita tentang apa saja yang terkadang membuatku tertawa sekaligus melambung tinggi. Terkadang di dalam setiap perkataanmu mengandung makna ganjil yang seolah mengarah kepada rasa. Bahkan tak jarang pula kau menyinggung perkara hati. Aku menunggumu untuk mengungkapan itu semua, tapi tak ada perbincangan khusus yang mengarah kepada keseriusan.

Namun, kau masih menawarkan rasa yang sama, ya aku tahu dari setiap caramu memberi sinyal dan setiap perkataan yang keluar darimu. Seiring berjalannya waktu, ketika aku melihatmu bersama dengan wanita lain, hatiku tersayat perih dan tanpa sadar aku selalu bertanya padamu tentang wanita siapa itu dan apa yang kalian lakukan, seolah aku memiliki cemburu pada sesuatu yang tak mampu kumiliki.

Apa hanya aku yang memiliki rasa dan tertikam suasana? Kurasa tidak, seringkali juga kau menanyakan tentang laki-laki yang kau lihat tengah bersamaku. Kau bertanya tentang status-statusku yang mengarah ke hal percintaan. Bahkan kau sempat mengirimi suatu ungkapan yang menyatakan cinta. Hanya saja, sampai saat itu aku belum mendengar secara lugas pernyataan cintamu kepadaku.

Semua masih terus berjalan walaupun aku sendiri tak tahu harus menyebut hubungan ini apa. Kita memiliki rasa yang sama, tapi tak pernah ada deklarasi langsung. Kita sama-sama memiliki cemburu, tapi untuk sesuatu yang tak kita miliki. Aku seorang perempuan, aku tidak mampu mengatakan, aku hanya bisa menunggu. Namun, satu kata yang ingin kudengar tak pernah terucap olehmu. Apa aku harus meminta? Seharusnya kau tahu bahwa aku terlalu malu untuk memintanya darimu.

Hingga lambat laun perasaan memiliki itu muncul di hatiku. Aku merasa memiliki hatimu hanya saja dalam hubungan yang semu. Jarak di antara kita yang terpisahkan lautan semakin membuatku menaruh rasa curiga kepadamu. Apalagi semakin lama frekuensi untuk berbicara secara tidak langsung mulai berkurang. Sekali lagi, aku tak mampu memulai, aku hanya mampu menunggu. Hanya saja mungkin kau sibuk di sana hingga tak sempat menghubungiku.

Advertisement

Hingga di tahun itu, tahun di mana seharusnya kita bertemu dalam kesempatan yang hanya itu satu-satunya cara agar bisa bertemu denganmu lagi untuk kedua kalinya. Namun, Tuhan memiliki scenario lain. Aku kehilangan kesempatan itu dan kau mendapatkan kesempatan itu. Kau tak mengabariku apapun tentang kesempatan yang kau dapatkan. Aku menunggumu untuk memulai percakapan denganku.

Sayangnya, waktu terus berlalu. Aku menunggumu hingga 2 tahun lamanya tak jua kudengar kabar darimu. Selama 2 tahun itu pula aku terus bertanya-tanya apa yang membuatmu berubah dan apa yang membuatmu pergi meninggalkanku tanpa sebab. Dan kenapa waktunya tepat ketika kesempatan yang seharusnya menjadi momen pas untuk bertemu gagal kuraih.

Hatiku tersayat ketika aku sadar masih belum bisa melepasmu. Aku menyesal memiliki rasa yang sama dan menjalin hubungan tanpa status seperti ini. Aku terhimpit situasi dan rasa. Aku ingin sekali bertanya mengapa kamu pergi meninggalkanku, mengapa kamu berubah seolah menghilang dari kehidupanku, tapi di satu sisi aku yang bukan siapa-siapamu, aku merasa tak berhak atas pertanyaan itu. Namun, sekali lagi aku seorang wanita. Aku butuh kepastian, setidaknya sebuah jawaban yang mungkin dapat mengangkat atau justru memutuskan tali hatiku yang sedang terkatung-katung. Hingga saat ini, kau resmi menghilang dari hidupku. Ironi, seseorang yang dulu dekat dengan kita, tiba-tiba menghilang tanpa sebab.

Cinta memang abstrak tapi dengan mudahnya aku mau menguraikannya, menjadikanku tertikam rindu kepada hati yang abu-abu.