Hujan kali ini tak lagi sama seperti hujan-hujan yang telah lalu.
Hujan kali ini genangannyapun tak lagi sama.
Tak ada lagi langkah kakimu yang berjalan menemani langkah kakiku.
Tak ada lagi jemarimu yang mengusap keningku karena percikan air hujan.
Ketika sebagian orang mengatakan hujan itu romantis, aku tak berpendapat demikian.
Bagiku hujan itu menyakitkan.
Rasanya aku telah berjalan begitu jauh sangat jauh.
Tapi yang kudapatkan tak lagi berarti.
Bukan, bukan karena aku kurang mensyukurinya, mungkin karena aku yang telah terbiasa sendiri tanpanya.
Dan sejak saat ini aku tak lagi menyukai hujan.
Tak lagi menikmati gemercik air yang tak jarang membasahiku.
Tujuan hidupku saat inipun tak lagi dapat kupahami.
Lelah? Aku mencoba untuk tetap mengikuti alur cerita-Nya.
Gelisah? Iya, belakangan aku merasakan kegelisahanku bahkan kegelisahan malam itu menjadi kegelisahanku yang begitu besar. Aku menangis sejadi – jadinya hingga aku tak lagi mendengar suaraku sendiri.
Marah? Kalaupun aku harus marah, aku akan memarahi bayanganku sendiri.
Kecewa? Apa yang akan aku kecewakan? Sedangkan nikmat-Nya hingga detik ini masih begitu besar.
Diam? Ya, mungkin itu akan jauh lebih baik.