Ini tentang sudut pandang yang berbeda, Aku hanya mampu bersuara dalam embusan napas yang mereka artikan sebagai kehidupanku yang semu. Pagi ini, seperti biasa aku selalu melihat ibu yang sedang sibuk menyiapkan beberapa helai baju untukku. Satu celana panjang dan kaus biru yang kan kukenakan.

“Eh, Alif udah bangun, kita mandi yuk,” ibu sudah menyadari anaknya yang masih terbaring ini sudah bangun.

Aku hanya tertawa pada Ibu. Tawa polos yang memperlihatkan gigi seri-ku, kupikir mungkin hanya bagian anggota tubuh itu yang berkembang baik dan normal dibanding yang lain.

Kemudian Ibu bersiap melucuti pakaianku. Tangan ibu terasa hangat menyangga kepalaku. Piama biru yang kukenakan penuh dengan ingusku, begitu pula dengan celana ini, rasanya pantatku terasa basah dan tidak nyaman. Penuh dengan genangan kotoranku.

Tanpa jijik Ibu menarik celanaku, dan mengambil popok besar yang sudah hampir 10 tahun ini kukenakan. Bau pesing menyengat berhamburan ke seluruh ruangan. Nenek pun datang mengambil pakaian kotorku.

Advertisement

“Ty, kapan suamimu pulang?” tanya nenek tentang Ayah.

“Ibu mungkin lupa, ya? Kan tahun kemarin Kang Imam pulang. Jadi si akang pulangnya 3 tahun lagi, Bu,” jawab ibu sembari bersiap menggendongku ke kamar mandi.

Setelah itu nenek menunduk dan berekspresi sedih. Kemudian ia menatap Ibu kembali, “Ibu kasihan sama kamu, Ty. Kalau suamimu ada di sini ‘kan, kamu enggak akan kerepotan ngurus Alif. Sudah 12 tahun, loh. Apa kamu enggak cape?”

Nenek benar, adanya aku malah membuat ibu terbebani seumur hidupnya. Andai aku bisa bicara seperti ini, “Bu, Maafin Alif,” apalah daya… takdir tak mengenankanku tuk bisa mengatakannya. Sekeras apa pun aku berusaha berteriak, tetap saja tak ada yang mampu mendengarnya.

Selama 12 tahun ini, aku hidup seperti bayi yang tak mampu melakukan apa pun meskipun waktu terus menambatkan usia padaku. Aku hanya mampu mengeluarkan tawa, hanya untuk mengusir rasa penat dan kekhawatiran ibu selama mengurusku.

Selesai memandikan dan memakaikan pakaian padaku, lalu ibu menyuapiku. Rasanya aku ingin menangis merasa menjadi anak yang tak berguna, saat ibu mendudukkan badanku yang beranjak tinggi dan besar di atas pangkuannya. Perlahan ia menyendok nasi tim dengan telur rebus dan menyuapiku.

Meskipun gigi ini tumbuh dengan baik, tapi aku tidak bisa mengunyah dengan baik. Makanan yang masuk, selalu melember ke mana-mana. Tapi, ibu dengan telaten menyusutnya.

***

Wajah Ayah terlihat di balik layar. Aku sering mendengar dari ibu benda itu namanya ponsel. Setiap malam, ibu selalu menghubungi Ayah lewat video call, kata ibu seperti itu.

Aku senang melihat Ayah yang sedang tersenyum dan menyapaku,“assalamualaikum, Alif. Nak, jaga ibu baik-baik di sana, yah! Ayah rindu Alif,” kata Ayah. Aku hanya tertawa polos. Lagi. Dan lagi. Suara apa pun itu, aku hanya menjawabnya dengan tawa, tawa seorang bayi.

Ibu pun menatap dan mencium keningku. Kemudian berkata, “Ayah, Alif juga pengin ke Jepang,” ibu mewakiliku.

Kemudian Ayah tersenyum dan memperlihatkan sehelai daun berwarna kuning kemerahan padaku. “Alif, di sini lagi musim gugur. Alif lihat, ini daun ginkgo… kalau musim gugur di sana banyak daun, Nak. Nak, cepat lari dan datang ke sini sama Ayah, ya!” sahut Ayah. Aku terus tertawa-tawa merespon ucapan Ayah.

Aku ingin bilang, “Seandainya aku bisa berlari, aku ingin peluk, Ayah. Alif rindu Ayah. Alif juga ingin bisa berjalan, Yah.”

Semalam ini aku dan ibu menghabiskan waktu berbincang dengan Ayah, meskipun tersekat oleh jarak. Saat ini Ibu berbaring di sampingku, sambil terus menyanyikan lagu nina bobo begitupula dengan Ayah.

Aku terbaring di atas ranjang, tapi posisi tubuhku tidak terlentang sempurna. Kaki kanan ini melilit kaki kiriku. Tangan ibu terasa hangat dan lembut mengusapi kakiku saat aku sudah hampir tertidur. Ayah pun tadi sudah pamitan padaku, katanya sekali lagi ia bilang merindukanku.

Di balik kelopak mataku yang mulai terpejam, harapanku pada Tuhan agar aku bisa tetap hidup sebagai anak Ibu dan Ayah dan bisa menjadi anak normal yang lainnya. Aku ingin meringankan beban Ibu, aku ingin mengejar Ayah pula yang jauh di sana.

Tapi… rasanya malam ini adalah terakhir kalinya aku melihat wajah mereka berdua. Aku ingin menunjukkan airmata ini pada mereka, tapi rasanya napas ini tak mampu terus bertahan di balik tubuhku.

Ibu, Ayah… maafkan anakmu ini. Aku tidak mau terus membebani ibu dengan terus merawatku seperti bayi dan aku juga tidak mau terus membuat Ayah bekerja sejauh itu demi mencari biaya pengobatan untukku. Mungkin inilah cara terbaik Tuhan untuk meringankan beban kalian, Bu, Yah. Aku tunggu di surga. Aku sayang kalian.