Berapa hari kamu bekerja dalam sebulan? Apakah kamu masih tinggal bersama Ibu?

Apa obrolan terakhir kamu dengan Ibu kamu? Kapan kamu terakhir tertawa bersama dengan Ibu?

Apa makanan kesukaan Ibu? Kapan terakhir kali kamu makan bersama dengan Ibu?

Apakah kamu pernah mengatakan kepadanya bahwa kamu sangat mencintainya ?

Apa yang membuat Ibu bahagia?

Ditengah-tengah aktivitas yang padat, ada kah terlintas macam pertanyaan seperti itu? Mungkin dari beberapa atau banyak orang tidak bisa tinggal bersama Ibunya karena suatu pekerjaan ataupun urusan pendidikan. Namun tak ada alasan untuk tidak memikirkannya.

Ibu adalah sosok malaikat tanpa sayap yang Tuhan hadirkan dalam kehidupan kita. Seseorang yang memperkenalkan kita tentang baik buruknya kehidupan, seseorang yang pertama kali merasa bahagia tentang keberhasilan kita, seseorang yang pertama kali tetap tersenyum memberikan semangat saat kita lemah dan seseorang yang selalu ingin kita dalam kehidupan yang benar.

Setiap hari, tidak semua orang berkesempatan makan bersama ibunya. Jika berkesempatan makan bersama dengan Ibu, apa yang akan kamu lakukan?

Aku hanya ingin melihat Ibu tersenyum. Aku ingin Ibu makan makanan yang enak. Aku ingin melayani ibuku seperti ia melayaniku. Aku ingin mendengarkan tawanya.

Advertisement

Ibu, maafkan aku jika aku mulai sibuk dengan segala aktivitasku, Ibu. Maafkan aku tidak bisa menemanimu makan seperti sedia kala. Maafkan aku jika aku tumbuh terlalu cepat dan tidak sering di sampingmu lagi.

“Nada-nada yang indah selalu terurai darinya

Tangisan nakal dari bibirku takkan jadi deritanya

Tangan halus dan suci tlah mengangkat diri ini

Jiwa raga dan seluruh hidup rela dia berikan”

Ibu, maafkan aku jika saat dalam masa-masa sulit dan kita mempunyai pendapat yang berbeda. Maafkan aku bu, bukan maksudku untuk tidak menghargai Ibu dan membuatmu kesal.

Ibu, saat aku menangis karna masalah yang ada, aku mohon jangan ikut menangis. Itu hanya akan membuat hatiku perih dan makin bersalah, bu. Baiklah aku akan atur dan sembunyikan tangisan nakalku.

Ibu, maafkan aku jika aku mendadak menjadi bisu dan merasa nyaman berbicara pada dinding kamar. Aku hanya mencoba untuk memahami diriku dan memahami situasi-situasi sulit seperti ini. Aku tidak sekuat dan setegar sepertimu, Ibu.

Apa yang akan kamu katakan jika berkesempatan duduk berbincang bersama Ibu?

Aku ingin minta maaf. Aku ingin menjadi orang baik. Aku ingin membuat Ibu bahagia. Aku ingin memeluknya. Aku sangat mencintaimu Ibu.

Ibu, mungkin aku akan canggung untuk mengatakan “Aku mencintaimu Ibu” tapi yakin lah aku juga mempunyai cara yang berbeda untuk mengatakannya, sama seperti yang Ibu lakukan.

Tuhan panjangkan umurku, agar aku bisa merawatnya hingga ujung waktu. Begitu pun juga dengan Ayah dan Ibu.

Semoga Tuhan memberikan kedamaian dalam hidupmu. Putih kasihmu kan abadi dalam hidupku, Ibu.