Bidadari penyelamat mungkin hanya sebuah ungkapan seorang laki-laki kepada wanita yang mungkin dianggapnya sebagai motivasi gebrakan perubahan diri seorang lelaki untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Namun jika semuanya hanya sementara apakah bisa tetap disebut sebagai bidadari penyelamat. Itu semua bergantung permikiran kita masing-masing.

Kegagalan dalam suatu ikatan bukanlah gejolak intimidasi bagi setiap orang, karena sebuah ikatan pasti melalui proses yang akan menciptakan alur kisah romantis dan hasilnya yaitu kebahagiaan yang hanya menjadi pemanis kisah tersebut. Awal kisah ini adalah kesepian yang terlalu dibawanya tenggelam dalam palung keresahan. Saat itu mulai membuka kembali pintu hati yang mungkin akan ada yang menjadi penghuni yang kekal, bukan hanya singgah sejenak lalu menoreh goresan yang tak berbekas.

Setiap orang pasti ingin mendapatkan pasangannya yang bisa saling melengkapi. Bukan yang sempurna, namun yang bisa saling menutupi ketidaksempurnaan satu sama lain.

Empat mata satu tatapan

Empat tangan satu genggaman

Advertisement

Empat kaki satu tujuan

Dua kepala satu pikiran

Dua hati satu komitmen

Setahun lebih aku mengenalnya, hanya saja saat itu aku menghargai sebuah ikatan dia dengan orang lain dan tak ingin membuat ikatan mereka menjadi hancur. Berawal dari saling sapa dan sekedar menanyakan kabar melalui media sosial, hingga akhirnya menjadi suatu kejanggalan jika sehari saja tak menyapanya. Bisa dikatakan jika saat itu benih cintaku mulai muncul, namun masih ada tanda tanya besar dalam benakku.

Apakah dia masih memiliki ikatan dengan seseorang atau saat ini ikatan mereka sedang renggang atau mungkin dia juga memiliki perasaan yang sama denganku. Setelah kurang lebih dua bulan saling menyamankan posisi dari setiap interaksi yang kami lakukan, aku mencoba memberanikan diri untuk mengungkapkan semua perasaanku terhadapnya bahwa aku telah menemukan bidadari penyelamat yang selama ini aku cari serta apakah isi hatinya sama dengan yang aku rasakan.

Entah apa yang aku rasakan saat itu. Yang jelas, jingga hadir dikala senja mulai menatap indahnya hari baru. Kurang lebih 1125 km jarak terbentang mengikat dua hati. Kisah cinta yang kujalani ini adalah hubungan jarak jauh dan harus selalu berdamai dengan jarak. Kerinduan akan selalu hadir setiap denyut nadi ini, namun keadaan mengharuskan untuk melawan ego dan menabung kerinduan itu agar bisa membongkarnya saat keadaan itu sudah tak bisa terbendung lagi maka rencanakanlah serta melangkahlah untuk bersua.

Tak seharipun kulewatkan untuk tidak berkomunikasi dengannya walaupun hanya sebatas melalui media sosial. Karena kalau bukan komunikasi yang baik, apalagi yang bisa dilakukan serta kepercayaan terhadap masing-masing diri. Tak akan bisa dibayangkan debaran hati saat sudah mulai berencana untuk melunasi kerinduan yang mendalam. Begitu banyaknya topik pembahasan untuk memaksimalkan momen itu.

Begitulah rindu yang memang hanya sebuah ungkapan hati namun tak ada penawarnya kecuali bicara, menatap, atau bahkan memeluk. Segala upaya yang dilakukan atas nama kerinduan adalah untuk meyakinkan bahwa ini benar-benar ikatan cinta. Walaupun tak akan pernah tahu kemungkinan atau ketidakmungkinan akan bisa hakiki, tetapi itu semua akan selalu tersemogakan dalam setiap doa.

Baca: @Jogjamu, Rinduku, Dan Kisah Kita

Mungkin kalian semua tak percaya jika dari setiap upaya yang dilakukan tak akan pernah diketahui akhir dari setiap prosesnya. Berawal dari masalah kecil, kelabilan, keegoisan, dan tingkahku yang terlalu berlebihan hingga membuat suasana menjadi dingin tanpa ada gejolak untuk memaklumi dan memaafkan kesalahanku itu atau mungkin sudah terlalu sering aku seperti itu hingga membuatnya muak dan akhirnya komitmen itu hilang dari dirinya.

Pada akhirnya keputusannya untuk meniadakan lagi sebuah status hubungan asmara adalah pilihan yang bijak ketika ikatan itu hanya menjadi benalu dan ketidakjelasan yang menyeret pada tanda tanya besar. Menghargainya lebih dari semua kisah yang pernah dijalani, diusahakan, diperjuangkan, diyakini, dan terlewati.

Begitulah adanya kisah yang pernah tertoreh dalam bentangan jarak. Bukan sebuah harapan yang sirna, namun bisa digaris bawahi bahwa ada rencana Tuhan yang mungkin bisa membuka jendela mata menatap dunia yang mereka anggap fana. Menyerah sama realistis itu beda tipis, tetapi apa gunanya tersesat dalam keresahan dan kegalauan yang belum tentu hal tersebut adalah yang terbaik. Tak pernah menyesali perjuangan dan pengorbanan yang sudah diupayakan bersama, cukup jadikan semua itu sebagai proses untuk saling meyakinkan pada saat itu.