HUWAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA…”
Jantungku rasanya berhenti. Aku mengeluarkan suaraku begitu kuat hingga aku merasa tidak bisa berbicara lagi. Dan mungkin sekarang aku memang sedang tidak bisa berbicara. Tubuhku merapat di dinding. Masih di dalam selimut hangatku. Mataku terbelalak menatap ngeri, ingin terpejam tapi tidak bisa.
“Lo kenapa?”
“HUAAA JANGAN DEKET-DEKET!!!” teriakku. Lagi. Secara spontan saat makhluk itu akan naik ke ranjang empukku.
Oke, tarik nafas… Hembuskan.
Apa kalian pernah melihat setan, hantu, makhluk halus atau sejenisnya?
Seperti apa rupanya? Apa mirip seperti yang ada di cerita tentang kuntilanak, genderuwo, pocong, dan teman-temannya? Jelek, berdarah-darah dengan muka rusak atau tubuh cacat, semacam itu? Apa ada setan yang terlihat MANIS? Imut? Dan aduhai?
Karena di hadapanku sekarang ada sosok dengan wajah dan potongan rambut khas Asia. Poni panjang yang menutupi dahi dan bibir penuh yang menawan. Hanya saja ada lingkaran hitam di bawah matanya yang terlalu mencolok dan tidak normal. Ditambah lagi dia itu… Transparan. Alias tembus pandang.
Se manis apapun yang namanya setan ya tetep aja setan. Serem.
Perlahan aku beringsut kembali berbaring membelakanginya sambil menaikkan selimut hingga menutupi seluruh kepalaku. Tubuhku gemetar hingga seperti mati rasa. Susah untuk digerakkan.
Oke, tarik nafas lagi… Hembuskan.
Ini cuma mimpi. Aku lagi bermimpi. Tenang
, kamu cuma perlu bangun dari mimpi ini.
PLAK
“Jangan tidur!!”
“HUWAAAAAAAAAAAAAAA….”
Kali ini aku terlonjak bangun dan langsung merapat ke pojokan dinding sambil mencengkeram selimut kuat-kuat. Meskipun tembus pandang, ternyata makhluk itu bisa menyentuhku karena dia baru saja memukul bahu ku. Jangan-jangan dia kesemsem sama gue.
“Apa gue jelek?”
“Ha?”
Dia mengerucutkan bibirnya cemberut. “Apa gue jelek? Kenapa lo takut banget sama gue?”
Cegluk…
Aku menelan ludahku susah payah. “L-lo beneran setan?”
Wajah imut itu berubah menjadi murung, “Gue nggak tau…” dia mengalihkan tatapannya pada jendela kaca kamarku, “tapi gue nggak bisa ngelihat bayangan gue sendiri di kaca atau cermin.”
Aku ikut menoleh pada kaca jendela dan benar saja, tidak ada yang tampak di sana. “Ke-kenapa lo ada di sini?”
“Gue juga nggak tau… Waktu buka mata tiba-tiba gue udah ada di sini. Di kursi itu,” jawabnya sambil menunjuk kursi sofa di sebelah lemari pakaian dengan dagunya.
“Bi-bisa nggak lo pergi dari rumah gue?”
Mata bulat yang terlihat hitam itu membelalak, “Lo tega ngusir gue yang nggak tau apa-apa ini? Gue nggak inget apapun dan nggak tau apapun, kalau gue jadi gelandangan bagaimana?”
Jadi gelandangan pun siapa yang peduli? Toh dia sudah jadi setan. Apa orang lain juga bisa melihatnya? Tiba-tiba aku jadi penasaran. “Terus… Lo mau ngikutin gue gitu?”
“Nggak boleh?”
“Jelas nggak boleh! Gue nggak mau dikintilin setan.”
Wajahnya menjadi murung lagi. Tapi peduli setan, dikintilin sesama manusia aja aku nggak mau apalagi sama makhluk halus. Sepertinya aku harus mandi, siapa tau air bisa benar-benar membangunkanku dari hal aneh di subuh hari yang kualami ini.
Apa kalian juga pernah mengalaminya?
######
“… Kak… Bantu gue donk…”
Aku menghela nafas sambil memijat pelipisku pelan. Si setan, yang nggak tau dan nggak inget apapun bahkan namanya sendiri itu sekarang sedang duduk di lantai, bergelayutan di kakiku sambil merengek kayak kucing kelaperan minta digiles. Berisik banget.
Masalahnya aku nggak mungkin menjawab kata-katanya karena sekarang aku sedang ada di kantor. Kerja pagi.
Sudah tiga hari sejak dia muncul di hadapanku. Tadinya aku memang ketakutan. Siapa sih yang nggak takut bisa ngelihat penampakan? Tapi kenapa sekarang rasanya malah kesal ya? Si setan selalu ngebuntutin aku kemana pun dan nggak mau pergi. Untung saja cuma dia yang bisa kulihat. Nggak kebayang kalau aku bisa melihat makhluk lainnya juga, amit-amit jabang balita (berhubung bayi udah terlalu menstream)
Apa sebaiknya aku pergi ke orang pintar saja untuk melenyapkannya? Tapi dosa nggak sih? Sama aja ngebunuh kan? Ada undang-undangnya nggak kalau mau ngebunuh setan?
Aaarrrgh… Sepertinya aku butuh Aqua.
Ok. Abaikan!
“Kaa… Please… Gue juga ingin tau siapa gue. Apa gue beneran udah mati atau masih sekarat. Gue janji deh setelah tau bakal pergi, nggak ganggu lo lagi.” rayunya untuk yang kesekian kali.
Aku mengangkat tanganku, meminta ijin ke rekan kerja untuk pergi ke toilet. Kuseret kakiku untuk melangkah -karena si setan nggak mau ngelepasin pelukannya di kakiku- ke tempat yang sepi dan nggak ada siapa-siapa. Aku benar-benar harus bicara dengan makhluk ini.
“Bisa lepasin kaki gue? Berat tau!” keluhku saat hanya ada kami berdua.
Dia menurut. Melepaskan pelukannya pada kakiku lalu berdiri dan membuntutiku. Aku berhenti di bawah tangga dekat gudang peralatan yang tidak ada orang lain.
“Lo beneran akan pergi setelah gue bantu lo?” tanyaku to the point.
Si setan mengangguk. Dia menunduk tidak mau menatapku. Aku mengerutkan kening heran. Hanya perasaanku atau memang dia terlihat sedikit takut?
“Oke, gue bantu lo. Tapi lo janji buat tutup mulut kalau lagi di luar rumah. Orang lain bisa ngira gue sarap kalau mereka lihat gue lagi ngomong sendiri.”
“Oke, oke! Pergi yuk Kak,” sahutnya lalu memeluk lenganku. Setengah menyeretku untuk segera pergi dari tempat itu.
“Lo ngapain sih?” tanyaku risih sambil berjalan, berusaha melepas pelukannya di lengan tapi nggak berhasil.
“Di tangga, belakang lo ada cewek mukanya serem banget. Mata kirinya ilang_”
“ANJIRR!! Bilang dari tadi kampret!!!” umpatku sambil berlari.
######
Aku mengetuk buku tulis dengan ballpoint dalam genggamanku berulang kali. Bertemu dengan jalan buntu.
“Nama, alamat, apalagi nomer telepon, lo nggak tau. Nama orang tua juga nggak tau. Masih mati atau masih idup juga nggak tau. Kalau mati, nggak tau karena kecelakaan, ketabrak, tenggelem, atau bunuh diri. Kalau masih idup nggak tau sekarang ada di mana…”
Dengan polosnya si setan mengangguk tanpa dosa.
“Aaaaarrrghh!!!” ku lempar ballpoint ke sembarang arah, “terus gimana gue bisa nyari identitas elo? Kenapa pakek lupa segala sih? Emang setan bisa amnesia?”
“Mana gue tau…” sahutnya sambil cemberut. Tangannya sedang memainkan penggarisku. “kak … Nama lo bagus. Gue juga pingin punya nama…”
Deg…
Aku tertegun menatapnya. Meskipun kesal tapi kadang kasihan juga setiap kali gue sebut dia setan. Mau bagaimana lagi, dia memang setan kan?
“B'intang…” gumamku pelan saat mataku tanpa sengaja menatap bungkus permen yang ada gambar bintangnya. .
“Eh?”
“"B"intang… Boleh gue panggil elo begitu?” tanyaku pelan.
“Lo kasih gue nama?” tanyanya balik dengan tatapan berbinar-binar dan senyum mengembang.
“I-iya…” jawabku gugup. Ini pertama kalinya aku melihat wajahnya seperti itu. Senyumnya terlihat manis, seperti permen yang baru saja kumakan.
“Makasi kak!!” serunya lalu melukku tiba-tiba. Membuatku hampir terjungkal dari kursi. “sekarang gue punya nama…”
Lagi. Aku tertegun mendengarnya. Baru saja aku ingin mendorongnya menjauh tapi tenagaku seolah menguap mendengar kalimat itu. Seumur hidupku, aku tidak pernah mendengar seseorang atau siapapun mengucapkan kalimat yang rasanya dipenuhi dengan perasaan bahagia seperti itu.
Tubuh transparannya yang memelukku terasa dingin. Membuat sekujur tubuhku merinding. Ini juga pertama kalinya aku merasakan sebuah pelukan dalam bertahun-tahun hidupku. Memang terasa dingin, tapi… kenapa aku merasa hatiku menghangat?
#######
Biar kuberitahu sebelumnya. Rutinitas hidupku selama ini hanya tidur, makan, kuliah, kerja,mengerjakan tugas dan main game,main gitar,.
Aku tidak tau apa itu kasih sayang, cinta atau keluarga. Karena yang kutau selama ini aku sendiri. Tapi kurasa sekarang tidak lagi sejak setan –maksudku si "B"intang- muncul entah dari mana. Membuat waktu luangku untuk bermain game, tersita karena membantunya mencari identitas diri.
“Ngapain lo?” tanyaku saat melihatnya mengangkat kakiku.
“Pasti lo capek nyari di rumah sakit tadi. .”
Aku membiarkannya memijat kakiku yang pegal banget. Seharian ini setelah kuliah selesai aku mengecek di rumah sakit terdekat. Karena nggak ada fotonya ataupun identitas lainnya, terpaksa aku mengecek ke setiap ruangan pasien atau sekedar mengintip dari luar jendela pintu untuk memastikan muka pasiennya sama dengan muka . Selain itu aku juga harus melihat satu per satu foto pasien yang sudah meninggal.
Ini penyiksaan yang maha dahsyat. Mencari identitas hanya dengan berbekal muka seseorang tanpa foto yang bisa ditunjukkan itu rasanya mustahil. Bahkan detektif pun pasti akan angkat tangan menyerah untuk menanganinya. Bagaimana kalau ternyata "bintang" memang sudah meninggal dan tubuhnya sudah dikubur?
“Lo nggak makan dulu?” tanya nya dengan nada cemas sekaligus merasa bersalah.
“Gue nggak ada tenaga. Ngantuk, mau tidur dulu.”
dia melepas sepatuku lalu mengambil selimut sementara aku sudah setengah sadar terbang ke alam mimpi.
‘sampai kapan loe butuh gue!!’
Aku tersentak. Tiba-tiba saja terbangun saat potongan dari memori masa lalu itu melintas di bawah kesadaranku. Menarik kembali ingatan yang sudah terkubur di sudut otakku.
“Lo kenapa, Kak?”
Aku menatap 'Bintang. Mengamati wajahnya. Dia terlihat bingung. Aku mengusap wajahku lelah. Tidak menemukan apa yang kucari. Lagipula bagaimana bisa aku mengingat wajah sosok yang sudah bertahun-tahun terlupakan.
“kak, lo baik-baik saja?”
Aku mengangguk pelan lalu kembali berbaring. Berusaha memejamkan mata. Sepertinya aku memang butuh istirahat.
Samar, aku mendengar Bintang sedang menggumam, seperti menyenandungkan lagu lullaby. Aku tidak mengenal lagu apa itu, tapi cukup bisa membuatku tenang. Hingga akhirnya lelap menyambutku.
#######

Keesokan harinya kulihat facebook twiiter paht . Mungkin aku harus mencari tau dari orang yang pernah kukenal. Siapa tau "Bintang adalah salah satu temanku yang meskipun aku yakin tidak punya teman sepertinya.
.
.
Aku menatap satu per satu foto dari album temen temen -ku. Tidak ada wajah yang mirip dengan makhluk ini
‘sampai kapan loe butuh gue!’
Suara itu seperti menggema dalam otakku. Suaraku, bertahun-tahun yang lalu.
“HUWAAAAAAAA KECOAAAA!!!”
laptopku seketika jatuh saat dirinya dengan tiba-tiba meloncat ke punggungku. Memeluk leherku erat, mendekap tubuhku dengan kakinya.
“Lo apa-apaan sih? Lepasin, berat tau!”
“Ogah, ada Kecoa!” keukehnya.
“Udah pergi. Masuk ke kolong kasur tuh,” sahutku.
Dengan cemberut di melepaskan pelukannya, “Elo sih, ganteng-ganteng tapi jorok banget. Bungkus snack berminggu-minggu nggak dibuang,” omelnya sambil mengambil sapu dan tempat sampah, “nggak geli apa ngeliat Kecoa? Digigit tau rasa lo.”
Aku ketawa mendengarnya mengomel seperti emak-emak tetangga tiap pagi. Berisik banget. Lagian Kecoa bisa gigit? Ada-ada aja.
“Lo ngetawain gue??” teriaknya sambil mendelik.
“Kagak, kagak!” sahutku malas sambil membuka laptop, berusaha untuk tidak tertawa.
Aku tertegun. Apa baru saja aku tertawa?
Jadi seperti ini rasanya tertawa… Untuk sesaat aku merasa bingung dengan diriku sendiri. Menyadari bahwa ada banyak hal yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.
“Gue mandi dulu!”
Aku beranjak dari dudukku lalu melangkah ke kamar mandi dengan cepat. Kunyalakan shower lalu berdiri di bawahnya setelah kutanggalkan semua pakaianku. Rasanya aneh… Aku berusaha mengingat kapan terakhir kali aku tertawa tapi memoriku tidak mampu menjangkaunya.

SET
BRUK
kemudian setelah itu.."''
“Ka…” panggilnya pelan.
Nafasku memberat hanya karena melihat bibir itu bergerak mengeluarkan suara halus yang menyebutkan namaku. Aku tidak bisa bergerak. Seperti terikat dalam tatapannya. Jantungku memberontak, ingin keluar dari rongga rusukku. Dan telingaku mulai tuli. Aku tidak mendengar lagi suara gemercik air dari shower. Yang kudengar hanya detak jantungku sendiri yang mulai menggila.
“Ka…” panggilnya sekali lagi.
“Gue boleh nggak ngomong sesuatu sama loe?” kata-kata itu terlontar begitu saja tanpa diproses otakku, membuat sisi realistisku berteriak, memprotesnya.

Aku butuh udara.
Dadaku terasa sesak namun aku tidak ingin berhenti. Ketika mendengar tentang seatu ungkapan hati, semakin membuatku seperti mati berdiri
Hingga aku merasa tenggelam.
######
“Ka… Udah donk ngambeknya…”
Sial!

“Ka? ..kak?”
Sial sial sial siaaaaaaaaal!!!
Kubenamkan dalam-dalam wajahku ke bantal. Tidak beranjak dari posisi tengkurapku sejak beberapa jam yang lalu. Aku merasa ujung kaosku ditarik-tarik oleh makhluk itu. Mencari perhatianku.
Sepertinya besok aku harus ke rumah sakit jiwa. Mungkin otakku sedang bergeser. Bagaimana bisa aku mersakan seperti ini pada mahluk halus? . Rasanya ingin masuk ke dalam bumi saja. Terlebih lagi makhluk itu seperti dia
Siaaaaaal!!!
Tidak. Aku nggak mungkin gila . Kalau aku ingin dia cepet pergi, itu artinya aku harus cepat menemukan identitasnya. Aku beranjak bangun lalu menghampiri laptopku di atas meja.dia sudah pergi. Mungkin bosan karena tidak kuhiraukan.
Tanganku dengan cepat masuk ke media social Facebook, Twitter dan semacamnya. Mencari grub dari sekolahku,teman kerja ku.. mungkin mereka ada di sana. Beruntung aku menemukannya. Bertanya pada mereka apa ada teman yang meninggal atau sedang sakit. Mencoret satu per satu foto dari album kenangan sekolah yang jelas itu bukan "Bintang.
“Ka!”
“HUAAA!!!” teriakku kaget, “jangan ngagetin gue donk!”
“Lo yang terlalu fokus. Nih gue bikinin lo mie goreng. Lo belum makan kan sejak siang tadi. Di kulkas nggak ada apa-apa selain mie instan sama telor.”
“Taroh aja dulu di meja. Gue lagi sibuk sekarang.” Jawabku tidak acuh, kembali menatap laptop.
“Okey.”
Bintang..meletakkan piring mie yang dibawanya di atas meja lalu mengambil kertas dan pensil.
“Ngapain lo?” tanyaku heran melihatnya yang duduk di atas sofa, di sebelah meja tulisku.
“Ngilangin bosen, gue ngegambar aja.”
“Emang lo bisa?”
“Nih gue gambar lo waktu tidur.” jawabnya enteng sambil mengulurkan selembar kertas yang tersimpan dalam buku besar milikku.
“Ini lo yang gambar?” tanyaku terkejut. Tidak menyangka dia bisa menggambar dengan sangat bagus. “Kalo gambar muka lo sendiri, bisa nggak?”
“Gue nggak inget gimana muka gue…” jawabnya dengan wajah mendadak murung. Membuatku merasa bersalah. “emang muka gue kayak gimana?”
“Ha?”
“Kasih gue gambaran gimana muka gue!”
“Eng…” kenapa aku mendadak gugup? Tidak berani menatapnya.
“Ayolah… Gue pingin tau.” rengeknya.
“L-lo… lumayan.”
“Eh? Gue nggak ngerti. Kasih detailnya donk…”
Aku menghela nafas pelan lalu menatapnya, “Mata lo bagus meskipun ada lingkaran hitamnya. Idung lo mancung. Bibir lo…” Aku mengalihkan tatapanku. Sial… Kenapa jantungku rasanya seperti di pompa dengan tenaga maximal? “Udah ah, gue sibuk.” tandasku tidak ingin melanjutkan percakapan yang bisa membuatku stress ini.
"B'intang benar-benar bisa mengambil alih kewarasanku.
######
Aku mengambil cuti sebulan dari kuliahku. Kali ini aku ingin fokus mencari identitas Bintang dan itu ternyata nggak mudah. Aku mengunjungi rumah-rumah temanku yang meninggal. Apalagi kalau keluarganya sudah pindah. Aku harus pergi keluar kota juga untuk mencarinya.
Hingga waktu cutiku habis, aku belum bisa menemukannya. Masih ada beberapa yang belum kutemukan.
Kulempar tasku ke atas sofa lalu menjatuhkan tubuhku di ranjang. Aku baru saja sampai di kontrakanku setelah mengunjungi kota Sidoarjo dan jember selama tiga hari ini. Tenagaku rasanya habis. Aku bahkan tidak sanggup bangun.
“Ka, lo nggak mandi dulu? Atau makan?” tanya nya.
Bahkan untuk menjawab atau membuka mata pun aku tidak sanggup. Aku merasa tubuhku panas tapi menggigil kedinginan.
“kak? Lo sakit?”
"Bintang melepaskan sepatuku, membantuku mendapatkan posisi tidur yang nyaman lalu membungkus tubuhku dengan selimut. Dia meletakkan tangannya di atas keningku dan seketika aku mendesah nyaman. Tangan Bintang terasa dingin. Seperti kompres.

Advertisement

.
Aku mengerjap pelan. Ruangan masih gelap meskipun aku melihat cahaya matahari masuk melalui celah-celah jendela yang tidak terhalang kelambu.
“Udah bangun?” tanya nya masih tetap pada posisinya juga. Tidak bergerak seinchi pun. “Masih sakit?”
“Iya…” jawabku dengan suara serak.
“Gue cariin obat ya?”
“Nanti aja,” balasku.
“Gue seneng bisa denger detak jantung lo…” gumam Bintang tiba-tiba.
Aku mengusap pipinya lalu menariknya hingga kepalanya menengadah. Mata kami bertemu. “Menurut lo, gimana suara detak jantung gue?” bisikku.
“Kayak detik jam. Tapi… sekarang jadi lebih cepet.”
“Mungkin setelah ini bisa lebih cepet lagi,” balasku
Untuk saat ini, kubiarkan hati yang mengambil alih…
######
Aku menghela nafas. Lagi. Untuk yang kesekian kalinya. Setelah mengambil cuti sebulan dan membolos tiga hari karena sakit, sekarang aku kembali ke kampus. Tapi, sepertinya aku jadi lebih banyak melamun di bandingkan mendengarkan materi kuliah yang membosankan.
Aku mulai takut sekarang. Kalau aku sudah menemukan identitas "B'intang apa yang akan terjadi? Apa dia akan pergi? Apa dia akan menghilang? Sebenarnya dia masih hidup atau sudah meninggal?
Kalau dia pergi… Kalau dia pergi lalu bagaimana denganku?
“Ka… Lo masih sakit? Hari ini lo banyak ngelamun.”
Aku menatapnya sejenak sebelum menarik tangannya untuk duduk di sebelahku. Bersandar pada tempat tidur.
“Kalau identitas lo sudah ketemu, lo mau apa?”
"Bintang menatapku sejenak sebelum mengeluarkan suara, “Mungkin gue akan cari tau kenapa gue seperti ini. Kalau gue udah meninggal, mungkin gue akan cari cara buat pergi ke tempat gue seharusnya berada. Entah itu di surga atau di neraka. Tapi kalau masih hidup, mungkin gue bisa kembali.”
“Kalau… Kalau kayak gini terus, di sisi gue, lo nggak mau?” tanyaku pelan.
“Kak, pasti ada alasan kenapa gue muncul di sini. Kenapa cuma lo yang bisa ngelihat gue. Mungkin ada sesuatu yang masih harus gue lakukan.”
“Gimana setelah tau semua itu lo menghilang? Sekarang… Gue nggak pingin lo pergi. Gue nggak mau sendiri.”
“Sejak awal gue nggak seharusnya ada, Ka. Lihat gue.” tangannya yang dingin menangkup kedua sisi wajahku, memaksaku untuk menatapnya, “kalau gue pergi… Lo harus baik-baik aja. Janji?”
“Gue nggak bisa janji. Tapi gue akan berusaha,” lirihku. Kurengkuh tubuhnya yang transparan, merasakan dinginnya. Dadaku terasa sesak. Bersamanya, aku merasakan semua hal yang tidak pernah kualami. Pelukan, perhatian, kepedulian, rasa sayang, rasa cinta, dan takut kehilangan.
“Ka…”
“Hmm?”
“Gue cinta sama lo.”
Air mataku jatuh, untuk pertama kalinya sepanjang ingatanku. Bahkan saat orangtuaku meninggal aku tidak menangis. Tapi untuk sosok yang sekarang berada dalam pelukanku, aku rela memberikan semua air mataku jika memang bisa menjadi penukar untuknya berada di sisiku.
“Gue juga…”
#######
Membosankan…
Kalau saja dosen materi ini tidak gila absensi, mungkin aku lebih memilih untuk membolos saja.Bintang tidak mau ikut ke kampus karena mau membersihkan rumah. Pagi-pagi dia sudah ngomel, ribut banget karena banyak sampah di kamar, pakaian kotor bertebaran belum di cuci, barang-barang berantakan. Meskipun begitu aku menyukai omelannya. Hal yang nggak pernah kudapatkan sebelumnya.
‘Perhatian! Untuk mahasiswa bernama "Gue sendiri" jurusan HUKUM semester akhir, silahkan datang ke ruang tunggu setelah mata kuliah selesai. Sekali lagi gue di panggil,untuk datang ke tempat itu.
Aku menghela nafas malas. Itu artinya aku menunda waktu untuk bertemu dengan Bintang. Memangnya siapa yang mencariku? Aku tidak pernah berhubungan dengan orang lain.
.
.
“beneran ini kamu?”
“I-iya…” jawabku sambil menatap perempuan setengah baya yang masih cantik meskipun usianya mungkin sudah kepala empat yang berdiri di hadapanku sekarang.
“Akhirnya saya bertemu dengan kamu.”
“Tante siapa?” tanyaku bingung.
“Saya mamanya si…(maap Nama gue samarin anggapsaja dia "bintang).. Teman kamu.”
Aku tersentak oleh ingatan tentang sosok itu yang selama ini terlupakan oleh memoriku. Sosok yang pernah menjadi bagian hariku saat di kota Itu Dulu.
“Saya sangat bersyukur bisa bertemu dengan kamu. Apa kamu ada waktu? Tante ingin mengajak mu ke rumah tante. Bintang ingin bertemu denganmu.”
Aku terdiam. Perasaan menyesal itu kembali hadir. Mungkin ini kesempatan yang diberikan Tuhan untukku meminta maaf. Aku mengangguk tanda setuju dan seketika wanita itu tersenyum lega.
.
.
“Kami sudah lama mencari kamu. Ini ada titipan darinya untuk kamu. Sebelum meninggal, dia ingin kami memberikan ini padamu.”
“Meninggal?” tanyaku sambil menerima sebuah buku dari wanita itu.
“Ya. Kelainan jantung dan operasinya tidak berhasil.” Ada kesedihan yang tampak pada senyumnya. “ini kamar B'intang,” ucapnya sambil membuka pintu ruangan itu.
Aku melangkah masuk ke dalam, menatap ke sekeliling ruangan yang rapi itu.
“Tante membiarkan kamarnya tetap seperti sebelumnya. Karena dengan begitu, kami merasa dia masih bersama kami.”
Suara mama Bintang perlahan menghilang dari ruang dengarku. Tubuhku mendadak kaku. Pikiranku terasa kosong saat melihat sebuah frame foto yang tergantung di dinding, di atas tempat tidur. Aku melihatnya di sana.Bintang sedang tersenyum lebar sambil memeluk mamanya.
Ya. Wajah itu wajah milik Bintang. Dan dia adalah si A>>. Teman dulu. Dulu, di kota itu.
“Tante tinggal dulu ya…”
Aku masih bergeming di tempatku. Ketika kesunyian berhasil memelukku, aku terseret ke masa lalu. Melemparku pada ruang waktu hingga aku bisa mendengar lagi suaraku dan suaranya dalam memoriku.
‘Sampai kapan loe butuh gue!’
Aku ingat saat dia mengatakan kalimat itu. Karena dia yang paling pendiam di kelas, aku selalu bersikap buruk padanya. Aku mengatainya,memfitnahnya.tapi dia tidak pernah menangis, tidak pernah mengeluh dan tidak pernah memprotes. Hal itu semakin membuatku kesal.
Dia tidak pernah dendam ketika aku bersikap buruk. Hanya diam dan menerimanya. Hingga kemudian akhirnya aku pindah ke kota ini.
Aku membuka buku yang diberikan mamanya dengan tangan gemetar. Tulisan itu terlihat khas orang yg sendu, berantakan dan jelek. Tapi apa yang ditulisnya membuat dadaku nyeri.
‘Namanya si A. Dan dia kesepian…’
Lembar berikutnya semakin membuatku sesak saat membacanya.
‘Dia memfitnah ku, membuatku malu . Tapi aku tau, dia seperti itu. Karena nggak ada yang memperhatikannya.’
‘si A nggak punya papa lagi. Mama bilang Bintang nggak boleh benci si A meskipun dia memfitnahnya. Dia hanya kesepian.’
‘Bintang pingin temenan sama si A, pingin bicara sama A, tapi nggak berani.’
‘si A pindah ke SURABAYA. Sekarang nggak ada yang ngusilin Bintang lagi. Tapi kenapa rasanya malah sepi?’
. Aku ingin tau kabar si A. Apa dia masih nakal kayak dulu atau jadi anak baik? Aku ingin tau.’
‘ Karena sejak si A pindah, nggak ada lagi yang ngejahilin aku. Rasanya sepi.’
‘Mama bilang ada yang salah dengan jantungku. Aku nggak ingin membuatnya sedih jadi aku berusaha untuk tersenyum. Aku juga belum bertemu si A, jadi aku nggak boleh menyerah.’
‘Aku nggak bisa kuliah. Dokter ngelarang aku untuk beraktifitas. Bagaimana bisa aku nyari si A dengan kondisiku sekarang? Bantu aku Tuhan…’
‘Namanya si A. Dan aku ingin bertemu dengannya di sisa waktuku yang nggak banyak ini. Aku hanya ingin dia tau bahwa selama ini masih ada orang yang sayang sama dia.’
‘Permohonan terakhirku hanya satu, Tuhan. Aku ingin si A bisa tertawa, menangis, merasakan rasa sayang, rasa cinta dan tau bahwa dia dicintai. Meskipun itu hanya olehku…’
Akhirnya gue menutup buku itu lalu berlari keluar dari kamarnya. Terus berlari menuruni tangga. Tidak berhenti walaupun berpapasan dengan mama Bintang yang berteriak memanggilku. Aku harus bertemu dengannya. Sekarang. Perasaanku tidak enak. Tiba-tiba saja aku ketakutan.
‘kak, pasti ada alasan kenapa gue muncul di sini. Kenapa cuma lo yang bisa ngelihat gue. Mungkin ada sesuatu yang masih harus gue lakukan.’
Sekarang aku tau alasan itu.
‘Permohonan terakhirku hanya satu, Tuhan. Aku ingin si A bisa tertawa, menangis, merasakan rasa sayang, rasa cinta dan tau bahwa dia dicintai. Meskipun itu hanya olehku…’
Aku sudah mendapatkannya. Tertawa, menangis, rasa sayang, juga cinta. Aku sudah mendapatkan semuanya dari mu Bintang.. Darinya.
Lalu sekarang apa?
Aku terus mengayunkan kakiku. Berkali-kali mengusap mataku yang kabur oleh air mata yang entah sejak kapan sudah membasahi pipiku. Aku menyetop taksi di jalan dan langsung pulang. Kubuka pintu kontrakan dengar kasar lalu berlari masuk ke dalam.
Dia ada di sana. Dia masih di sana. Bintang-ku.
Aku melangkah cepat menghampirinya. Meraihnya dalam pelukanku. Namun tubuhku membeku saat tanganku tidak bisa menggapainya. Sekali lagi aku meraihnya dan tanganku hanya bisa menembusnya. Aku menatap ngeri.
“Permohonanku pasti sudah terkabul karena ingatanku semuanya sudah kembali.” Katanya sambil mengulas senyum sedih.
Tenggorokanku tercekat. Seperti tercekik, membuatku tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.
“Mungkin karena itu juga aku nggak bisa menyentuh lagi. Artinya… Sudah waktuku untuk kembali ke tempat seharusnya aku berada.”
Aku menggeleng. Dadaku terasa sesak mendengarnya, “Jangan pergi…” pintaku dengan suara parau.
“Aku senang bertemu kembali denganmu, kak. Meskipun dalam kondisi seperti ini.”
“Maaf…” isakku, “Maafin aku…”
“Kamu nggak perlu minta maaf. Kamu nggak salah,kak. Aku yang harusnya minta maaf. Maaf karena nggak bisa selamanya berada di sisimu. Maaf karena aku harus pergi. Tapi percaya sama aku, kita akan ketemu lagi nanti. Kita pasti ketemu lagi. .”
Air mataku tidak bisa berhenti. Dadaku terasa sakit melihat kakinya yang semakin memudar seperti kabut. “Jangan pergi… Please. Aku cinta kamu … Aku cinta kamu…”
“Aku nggak bisa menangis karena aku nggak punya air mata lagi. Tapi aku akan menunggumu, Ka. Aku menunggumu menemuiku lagi. Dengan cerita tentang hidupmu. Jadi… Kamu harus hidup dengan baik. Jangan telat makan. Jangan suka numpuk sampah. Juga jangan suka naruh baju kotor kamu sembarang tempat. Mulai sekarang, kamu harus sering keluar. Kamu harus lebih sering menikmati dunia ini. Melihat segala hal yang belum pernah kita lihat. Jadi saat kita ketemu, kamu bisa cerita ke aku.”
Tuhan… Bolehkah aku egois untuk memintamu mengembalikannya dan menahannya berada di sisiku selamanya? Aku mencintai sosok di hadapanku ini tidak perduli dia manusia atau bukan.
Aku meraihnya tapi tetap tidak bisa. Aku terus berusaha menggapainya yang semakin lama semakin memudar.
“Aku cinta kamu …”
"Bintang! Jangan pergi! Bintang please… Kembali! bintang kembali! Jangan pergi…” aku menggapainya, lagi dan lagi. Hingga sosoknya menjadi kabut dan lenyap, air mataku tak bisa kutahan, “jangan pergi…” lirihku dalam kesunyian.
Aku terjatuh. Oleh luka yang tak berdarah dan tak tampak namun mematikan. Pertama kalinya aku merasa hampa saat ditinggalkan. Merasa kosong saat kehilangan.
Sakit…
bintang sudah pergi. Sudah kembali ke tempatnya. Sementara aku, tersesat.
Bagaimana bisa aku bahagia? Bila bahagiaku kau bawa serta.
Bagaimana bisa aku tertawa? Bila tawaku kau tahan dalam asa.
Bagaimana bisa aku baik-baik saja? Bila tanpamu, aku hampa.
Jadi bagaimana bisa?
######
A years later…
Tuhan selalu memberi jalan kepada umatnya untuk melewati setiap duka. Dan itu yang kurasakan. Kalimat Bintang membangunkanku. Memberiku sebuah jalan yang sekarang telah kupilih.
Karena ini adalah caraku mencintainya…
Cinta bisa merubah banyak orang dengan berbagai cara.
Yang buruk menjadi baik.
Dan yang baik menjadi lebih baik.
Bukan sebaliknya. Karena cinta memberikan kebaikan, bukan keburukan.
Sesederhana itu…
END