Jarak?
Jeda?
Keduanya melilit waktu dan membuat hidup jadi sulit.
Bagaimana tidak, jarak itu jahat.
Membuat mata tak bisa lagi saling menatap.
Merampas tawa yang sekarang hanya via suara.
Tapi jarak itu terkadang menyenangkan.
Ia mampu membuat diri ini memupuk rindu, hingga tumbuh subur.
Bak hutang yang menumpuk-numpuk. Semua akan terbayar lunas saat pertemuan itu datang.
Yeay! rupanya hari pertemuan itu akan jadi hari yang paling kutunggu-tunggu.

Dengan jarak, luka bisa terhapus begitu saja.
Hilang tenggelam dalam peraduan waktu.
Lalu, hidup?
Bukankah hidup dan jarak itu saling melengkapi?
Hidup dengan jarak dan jarak membuat kita bisa hidup.
Kemudian, coba renungi jeda.
Jeda?
Berterimakasihlah kepada jeda.
Yang tak pernah terlihat tapi memberi efek baik.
Keberadaannya seringkali dibenci.
Tapi coba pikirkan jika tak ada jeda.
Mungkin kah kau akan mengerti sebuah kesabaran?
Pahit di depan dan manis di belakang.
Tanpa jeda, mungkin kah kau mengerti akan pengorbanan?
Percayalah, jeda tak seburuk yang kau pikir.
Mari berdamai dengan jarak dan jeda.
Dari sana semoga kau mengerti apa itu sabar dan berkorban.