Nak, kau sudah dewasa, kau juga sudah berpendidikan, mungkin kau sudah cukup mengerti perbedaan antara yang baik dan tidak. Tapi meskipun demikian jangan pernah bosan mendengar omelanku yang setiap hari menganggu pendengaranmu. Kau harus tahu, aku tidak bermaksud demikian bahkan tidak ada niat untuk menyakiti perasaanmu. Kau juga harus tahu, kalau aku sangat senang masih bisa mengomelimu, karena itu aku percaya kita masih di dunia yang sama.

Jadi, Jangan biarkan amarah itu tumbuh terus, hingga kau lupa siapa dirimu sebenarnya.

Jangan berperilaku layaknya tidak ada yang peduli akan dirimu.

Sekalipun kau berpikir demikian, tapi jujur saja aku tidak bermaksud demikian.

Terlalu banyak hal yang harus kulakukan sendirian, tanpa sadar waktuku sedikit untukmu. Tapi percayalah kasih sayangku tidak pernah luntur sedikitmu untukmu. Kau sudah cukup mengenalku berpuluh-puluh tahun lamanya, jadi pasti mengerti bagimana pribadiku yang sebenarnya.

Advertisement

Dalam perjalanan hidup banyak hal yang telah kita lalui bersama. Jadi Wajar saja , jika sesekali kita ada problem. Kita yang dikata orang sangat begitu dekat, tidak menutup kemungkinan mempunyai hal yang membuat kita berjaga jarak. Mempunyai sudut pandang yang berbeda, itu adalah semua hal yang dialami manusia pada umumnya.

Berbeda pendapat itu sangat-sangat biasa, karena itulah kenapa ada kata saling “menghargai”. Tapi jangan biarkan kata menghargai itu hilang. Jika kita menuruti pola pikir diri sendiri, tidak akan ada habisnya.

Mungkin aku tidak se-asyik teman-temanmu yang tiap hari mengoceh tanpa ada yang namanya kata bosan. Umurku tidak lagi bisa dikatakan muda, jadi kupikir kau juga sudah mulai bosan berbincang-bincang denganku. Tapi jika boleh sering-seringlah menghubungiku, meskipun hanya say hello. Tidak mengapa, bagiku itu sudah lebih dari cukup.

Hp yang kau berikan, selalu ku simpan di kantong baju yang biasa kupakai untuk bekerja. Untuk berjaga-jaga kau akan menghubungiku. Kau tahu, aku sangat pintar kalau dalam hal menunggu.

Hari ini sedang hujan, jadi aku hanya duduk diam dirumah saja sambil melihat layar HP yang sedari tadi masih diam. Berharap kau akan menghubungiku hari ini. tapi rasanya penantianku hari ini belum terpenuhi. Tidak mengapa, aku bisa memakluminya, mungkin kau lagi sibuk belajar dan bekerja.

Kau tahu, penantianku semakin hari semakin tidak tertahankan. Rasa rindu dan khwatir itu terus menghantuiku. Karena itu Setiap saat aku mencoba menyibukkan diri, membuat tubuhku hingga capek, dengan begitu aku akan berhenti memikirkanmu. tapi sekeras apapun yang mencobanya, tetap saja tidak bisa. kau berhasil mengalahkanku. saat ini aku baru mengerti kata-kata ini “rindu itu memang tidak adil, ia membiarkanku merindukanmu setiap hari dan kamu tidak pernah sekaliun merindukanku”.

rindu ini memang berat, karena biar aku saja.