Lepas dari seragam putih – abu-abu, hidupmu ada di jalan yang baru. Kamu bisa memilih: mau pengalaman kerja, segera menikah, atau melanjutkan pendidikan? Kamu pun memilih opsi yang ketiga. Kuliah, yang telah lama jadi impian banyak orang. Kamu tahu dong, kalau tidak semua lulusan SMA (dan yang sederajat) punya kesempatan untuk menjajal betapa bebas-bingungnya bangku kuliah. Kamu juga tahu dong, kalau biaya kuliah zaman sekarang itu paling tidak sudah seharga satu minibus? Tentu saja kamu juga tahu betapa kehidupan kampus sangat penuh angan-angan. Melihat mereka yang belajar tanpa mengenakan seragam, bebas mengikuti ragam kegiatan luar kelas, organisasi kampus, membangun idealisme dan sebagainya. Lalu tibalah masa menjadi mahasiswa tingkat akhir. Kamu tak lagi dituntut untuk datang ke kelas dan mengisi daftar presensi, tapi menulis sebuah karya utuh atas tema tertentu yang kompleks. Nama karya utuh ini: skripsi. Skripsi memang unik. Mengerjakannya sampai tuntas menuntut kesabaran dan kepercayaan diri. Tak jarang di tengah-tengah kamu merasa muak dan ingin menyerah. Tapi jangan dulu! Kamu bukan satu-satunya orang yang pernah begitu!

Saat sudah muak dengan skripsi, coba ingat kembali bagaimana seru dan menantangnya masa-masa awal kuliah. Biarkan senyummu mengembang sendiri.

Hampir semua mahasiswa baru saat pertama kali menginjakkan kaki di kampus akan merasakan hal yang sama. Sama-sama merasa asing, sedikit takut, kesal, jengah, bahkan marah dengan semua perlakuan yang diterima. Tapi ketakutan ini berganti seiring kamu menemukan teman baru serta ikut UKM-UKM seru. Kemudian hari-hari pertama kuliah, memantaskan diri, dan menemukan teman baru. Mendapati tugas yang tidak seperti PR saat SMA dulu. Metode mengajar yang tidak seragam. Aneka macam dosen yang menantang. Sajian buku pengantar dan sebagainya. Rasa excited dan penasaran itu 'kan apa yang kita semua rasakan?

Kamu bisa sampai di tititik ini karena beragam tugas telah terlampaui, belasan ujian telah terlewati, puluhan praktikum terlalui. Kamu itu hebat!

Mengapa semua yang telah kamu sukses lalui, tujuh semester terasa sangat singkat? Karena kamu melewatinya dengan penuh harap. Karena kamu masih punya tujuan. Dan tahu itu semua hanya sebuah jalan yang perlu kita lalui. Karena kamu masih punya semangat itu semua. Coba bayangkan, jika kamu akumulasikan, sudah berapa puluh paper yang telah kamu buat. Berapa banyak praktikum beserta laporannya yang sukses kamu rajai. Saya rasa kamu pantas berbangga akan hal itu. Mengapa tidak? Lalu sampai pada semester terakhir, saat semua beban tugas itu telah sirna.

Mulai dari diri sendiri. Skripsi mengajarkan kamu untuk mandiri dan tak gampang menyerah diri. Bukan hanya merasa iri dengan mereka yang lebih dulu berhasil melewati.

Kamu tahu dong kalau kamu itu hebat! Skripsi tentu saja bukan lagi menjadi sebuah rintangan. Apalagi ujian. Ia hanya ada untuk memastikan kamu melewati fase terakhir sebelum akhirnya berdiri gagah mengenakan toga. Skripsi tidak membutuhkan semua teman-teman seangkatan kamu yang dulu. skripsi juga tidak menuntut kamu untuk senantiasa ditemani oleh ia yang dicinta. Skripsi yang menginginkan kamu untuk menunjukkan betapa gigih kamu berusaha.

Jangan buru-buru muak dengan yang namanya skripsi. Utamakan pikiran positif, optimisme, dan semangat yang membara!

Tahun terakhir di kampus adalah masa yang riskan. Bisa juga dibilang strategis. Karena pada masa itulah kita menemukan arti konsistensi. Kalau dipikir-pikir, skripsi tidak ubahnya dengan puluhan paper yang telah kamu buat dulu. Cara menyelesaikannya pun mirip. Hanya saja, tekanan dan situasi yang dihadapi sedikit berbeda. Kamu yang kini telah (merasa) khatam dengan tugas-tugas yang dulu itu, kembali dihadapkan dengan satu misi. Tentu ada perasaan kaget dan takut, tapi bukan berarti hal itu mampu mengalahkan kamu yang sesungguhnya jauh lbih kuat dari itu. Jauh lebih bertanggung jawab. Jauh lebih peduli dengan orangtua dan keluarga. Serta yang pasti, jauh lebih ingin dengan segera merengkuh fase hidup yang baru.