Dear kamu.

Kutulis ini, sebagai ungkapan hatiku. Entah perasaan macam apa, sedih tapi juga bahagia. Merelakan tapi juga kehilangan, menyesal tapi juga mendoakan. Malam itu foto profil Whatsappmu berubah, foto pra nikah dengan balutan baju pengantin dan senyum yang sangat merekah. Aku menangis sejadi-jadinya, aku tidak menyangka akan secepat ini. Aku masih belum siap. Tatanan hatiku belum cukup kokoh untuk menerima kenyataan ini. Aku menangis malam itu sangat lama.

Kita memang tak pernah lagi berkomunikasi, aplikasi chatting yang biasa kita gunakan dulu pun sudah ku uninstall. Tapi rasa ini masih untukmu. Angan-angan untuk bersamamu masih ada. Dan ketika aku lihat foto profilmu, seolah semua memori tentang kita terjabar di depan mata. Kenapa bukan aku yang ada bersamamu di foto itu? Kenapa bukan aku yang beruntung itu? Lalu aku mulai menyalahkan diriku. 


Maafkan aku, karena aku sedih saat kamu berbahagia. 


Advertisement

Tapi baiklah, apa lagi yang bisa kulakukan sekarang? Kamu sudah menikah, kamu akan menghabiskan hari bersamanya. Wanitamu itu akan melahirkan anak-anak yang lucu untukmu. Semoga kalian selalu bersama, sampai rambut kalian memutih dan terpisahkan karena takdir yang Kuasa. Saling mendukung saat kesulitan datang dan berbagi senyum saat kebahagiaan merambati hari kalian.

Aku? Aku tak akan lagi menoleh pada masa lalu kita. Aku telah berusaha berdamai dengan perasaan sedih ini. Kamu telah menjadi miliknya. Aku akan jadi wanita yang berdosa jika tetap mengharapkan dan mencintaimu. Pada akhirnya, semoga tulisan ini tak pernah kau baca agar kau tak tahu betapa lemahnya aku. Selamat berbahagia.