Berjalan, berlari, hati tertindih

Sulit tapi harus aku putuskan

Nasyid berjudul Mencintai Kehilangan yang dibawakan oleh Anandito Dwis kembali kudengar dan tak ada rasa bosan sedikitpun, apalagi kalau aku sedang merindukan seseseorang untuk menemani di malam-malam sunyi seperti saat ini. Di bait awal aku seperti kembali merasakan sulitnya bangkit setelah kehilangan apa yang aku cintai, kehilangan apa yang sudah aku perjuangankan dengan sangat. Bagimana sulitnya aku berusaha bangkit dengan memeluk hati sekuat-kuatnya lalu menekan hati yang sedang terkoyak parah, hingga sesak yang kurasa. Aku berusaha lari dengan sekuat-kuatnya, aku berusaha melarikan diri dari rasa yang teramat melukai ini. Ini salahku, aku mudah sekali mempercayai seseorang untuk memasuki hatiku. Di saat hati mengerang kehilangan pikiranku harus berjuang memutuskan hal yang tak mudah, yaitu bertahan dengan keterpurukan atau bangkit dengan mengabaikan rasa sakit. Sungguh ini sulit. Ini tidak semudah yang mereka bayangkan.

Jalanmu, jalanku belum sempurna

Biar masa depan yang sempurnakan

Dibait berikutnya aku diajak berpikir, sudah sesempurna apa sih perjuanganmu hingga hanya ditinggal seseorang yang belum tentu menganggapmu ada bisa membuatmu terpuruk seperti ini? Perjuanganmu untuk masa depan lebih penting daripada hanya menangisi keterpurukan yang tak berujung ini. Entahlah namanya juga hati. Saat aku semakin menyalahkan dia karena meninggalkanku, hati ini semakin meronta. Rasa kehilangan itu begitu kuat karena tanpa disadari ternyata diriku sudah menjadikannya paling utama di atas segalanya. Astaghfirullah. Jalanku memang belum sempurna dan jalannya juga belum sempurna, aku pun paham masih banyak yang harus diselesaikan dan masih banyak yang lebih penting untuk dipikirkan daripada hanya meratapi kehilangan. Itu pikiranku yang berbicara, lagi-lagi hatiku berkata lain. Hatiku masih bertingkah angkuh, seakan-akan hanya dirinya yang paling tersakiti. Hatiku sombong, hatiku lupa bahwa yang menciptakan hidup ini akan cemburu jika aku terus-terusan menduakan-Nya.

Suara-suara batinku melepaskanmu

Lirih-lirih jiwaku membasuh pilu

Advertisement

Tangis pun pecah jiwa ini gemetar pilu, rasa kehilangan dan rasa bersalah kini bertarung di batinku. Tiap relung kehilangan aku coba untuk melepaskannya, melupakannya. Hatiku kembali angkuh, hatiku semakin mengeras seperti batu, hatiku masih kuat menahannya. Hatiku masih terus menjadikannya tuan tak beraga. Padahal hanya kenangan dan sekilas muka yang dipegang erat oleh hatiku.Tetapi seangkuh-angkuhnya hatiku, hatiku luluh juga oleh bisikan nasyid ini. Suara batinku semakin meneriaki untuk melepaskan dan kembali menuju ridho-Nya, ridho Tuhan yang sudah menciptakan aku di dunia ini. Setelah getaran itu berhenti aku mengingat kembali apa yang sudah kulakukan setahun terakhir ini. Ternyata memang ini salah ku, aku tak bisa menjaga hati, aku tak bisa menundukkan pandangan sehingga dengan mudahnya syaiton masuk dan membuatku memuja virus merah jambu dan menduakan Tuhanku. Aku sudah jauh melangkah di bumi ini dengan keangkuhan hati. Adakah ampunan bagiku?

Takdir yang Kau beri, menguji hatiku

Terasa menyesakkan kehilangan ini

Tangis yang Kau beri, membuka mataku

Bahwa cinta yang sebenar cinta hanya ada satu.

Sekali lagi, siapasih yang bisa melawan takdir dan kehendak-Nya? Hatiku seakan diuji karena kehilangan ini. Tangan Tuhanku seperti menamparku karena tingkah ku selama ini. Tiap derai tangis merenungi berkali-kali kehilangan ini ternyata hatiku sadar, mataku terbuka cinta yang sebenar cinta ya hanya ada SATU. Cinta dari Sang Pencipta. Keangkuhanku sudah mengerdil saat ini, hatiku sudah mengikhlaskan segala pengharapan dan melepas rasa itu kepada-Nya. Aku percaya sejauh apapun jika memang sudah menjadi bagian takdir diri ini ya akan disatukan kembali, tentunya dengan rencana-Nya yang sangat indah.

Karena kehilangan ini

Ku mampu mendekat kepada-Mu

Ada hal positif yang dapat ku ambil karena kehilangan yaitu aku mampu belajar makna cinta sesungguhnya dan mampu kembali mendekat kepada Tuhanku. Dahulu aku kerap diberi gelar ratu geer, ratu baper karena memang aku mudah sekali luluh oleh tingkah baik seorang laki-laki. Sehingga banyak pula teman laki-lakiku yang memberikan perhatian, sampai di suatu waktu seorang temanku geram melihat tingkahku, temanku menegurku dengan amat keras "Kamu jangan egois! Pilih satu dan pertahankan, jangan ingin memiliki semua perhatiannya! Itu bukan cinta. Kamu hanya merasa kesepian, makanya dekatkan diri kepada-Nya agar jiwamu gak merasa sepi". Sontak aku benar-benar kaku mendengar ucapnya. Aku malu jika mengingatnya, masa laluku begitu kacau hanya karena sebuah perasaan yang belum halal untuk ku rasa. Aku khilaaf Yaa Rabb…

Jika kamu dengan mudahnya jatuh hati kepada dia yang berperilaku baik kepadamu, lantas,

kenapa kamu tidak bisa begitu amat jatuh hati kepada-Nya yang sudah sangat banyak memberimu kebaikan?

Di titik ini aku akan merayakan kehilangan dengan caraku sendiri dan menjadikannya pelajaran berharga agar tidak terulang di tahun yang akan datang. Untuk kamu yang pergi begitu saja, terimakasih pernah mengukir pelangi walaupun pelangi itu langsung kamu guyur dengan badai yang sangat dahsyat dan saat ini aku sudah mengikuti saran temanku, aku sudah memilih sesosok laki-laki yang InsyaAllah jika direstui oleh-Nya akan menjadi pendampingku kelak. Laki-laki soleh yang sering menegurku saat ketahuan memakai celana, menertawakan solatku yang masih belum benar sehingga aku semakin mengoreksi diri ternyata masih banyak kekeliruan di diri ini yang selama ini aku abaikan, kekeliruan yang didiamkan karena lebih mementingkan pengharapan kepada seseorang. Tak perlu ada ikatan apapun di antara kita, kita tak perlu saling menunggu, kita hanya perlu belajar saling melepaskan dan menerima segala ketentuan-Nya. Hanya berharap kepada-Nya yang tidak menimbulkan luka di hati. Jika tidak dipersatukan, rencana-Nya sungguhlah lebih indah.

Jika aku harus merasakan kehilangan lagi, akan ku terima dengan keikhlasan hati.

Kemudian aku akan mencintai tiap makna kehilangan.

Daun terjatuh di hadapanku.

Belajar menerima.

Belajar menerima semuanya.

Sudahlah berhenti meneriaki namanya, berhenti menangisi kenangannya, berhenti merasa sakit karena kehilangannya. Sekarang hapus tangis itu! Buktikan, ditinggalkan olehnya tidak membuat hidup kita hancur berantakan!

Mari tarik pelatuk semangat memperbaiki diri kuat-kuat. Biarkan peluru memperbaiki diri sampai kepada cinta yang hakiki.