Tidak dapat dimungkiri bila sejak kecil saya kurang begitu dekat degan ayah. Entah mengapa. Perihal apa pun yang terjadi dalam hidup, saya tidak pernah bercerita padanya. Saya hanya bercerita pada ibu. Ayah di mata saya hanya memberi nafkah saja. Ayah bagi saya hanya bisa menyuruh dan memarahi saja. Ya, memang begitulah yang saya rasakan semenjak kecil. Hingga dewasa kini, tetap saya tidak begitu dekat dengan ayah. Yang ada setiap hari hanyalah pertengkaran. Perihal apa pun. Entah itu hal-hal yang kecil maupun hal yang besar.

Saya adalah anak pertama dari tujuh bersaudara. Adik saya memang banyak, empat laki-laki dan dua perempuan. Tak jarang saya selalu menjadi sorotan ayah bila terjadi apa-apa dengan adik-adik saya. Pasti saya yang selalu disalahkan bila saya berkelahi dengan mereka. Entahlah. Pernah waktu itu—saat saya berusia tujuh tahun—saya berkelahi dengan adik pertama saya—waktu itu ia berumur lima tahun. Adik pertama saya ini memang tipikal orang yang tak mau kalah. Waktu itu kami berebut piring di dapur. Saya geram dengannya karena ia melawan, lalu saya dengan kesal melemparkan sebatang sendok yang saya pegang ke wajahnya. Sendok itu mengenai dahinya. Berdarah. Bocor. Akhirnya, saya lagi yang menjadi sasaran tangan ayah. Adik saya di bawa ke klinik dan dahinya dijahit.

Bagi saya, meskipun ayah berwatak keras dan tegas, ia merupakan sosok pemimpin keluarga yang bertanggung jawab. Pengetahuannya di bidang agama sangat mumpuni. Andai saja sikapnya itu sama halnya dengan pengetahuannya, pasti saya akan lebih senang. Terkadang apa yang ia katakan tidak sesuai dengan apa yang dilakukannya di rumah—hanya di rumah. Bila di luar, ayah adalah sosok teladan yang disegani masyarakat.

Jika dihitung dengan jari, mungkin saya tidak akan bisa, sudah berapa kali saya berkelahi dengan ayah. Dulu, memang saya tidak pernah bisa menjawab ketika ia menampar atau mengomeli saya. Omelan ayah lebih tajam dibandingkan ibu. Ayah tidak akan berhenti mengomel bila saya—anak-anaknya—masih belum bisa meperbaiki kesalahan yang dilakukan. Hingga kuping saya panas. Namun, kini saya sudah bisa menjawab dari setiap nasihatnya bila nasihatnya tidak sesuai dengan jalan pikiran saya.

Ya Tuhan, apakah saya ini termasuk anak durhaka? Anak yang tidak punya kedekatan emosional dengan orangtuanya. Padahal ayahlah yang membesarkan saya bersama ibu sejak kecil. Saya masih ingat, dulu ketika saya tidak diberi uang jajan olehnya. Saya nekat mengambil uang dari saku celananya saat ia sedang lengah (tidur, tidak sedang di rumah, atau yang lainnya). Beberapa kali saya mengulangi perbuatan itu. Sampai akhirnya ketahuan, lantas omelannya bersarang lagi di telinga saya. Bila saya memilih bagaimana saya harus kena hukuman, lebih baik saya ditampar dengan tangannya daripada dinasihati dengan mulut ayah yang panas didengar itu. Ya Tuhan, dosakah saya yang seperti ini….

Advertisement

Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Semenjak SMP, saya selalu menolak permintaan Ayah. Ayah ingin menempatkan saya di pondok pilihannya. Ia ingin anaknya ini menjadi penerusnya nanti. Tapi, saya tidak mau. Menurut saya, dipondok itu tidak bebas. Seperti di penjara. Saya tetap kekeh tidak mau. Ayah kesal, dan ia mengalah.

Menginjak SMA saya pun tidak mau ditempatkan di pondok pilihannya itu lagi. Saya berkelahi dengannya. Dan ayah mengalah lagi. Namun, dengan syarat saya harus belajar dengan sungguh-sungguh. Saya pun berusaha melaksanakan amanahnya.

Masa SMA berlalu. Menjadi sosok mahasiswa sudah diambang pintu. Saya sudah mengikuti tes dan alhamdulillah saya diterima di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten. Namun sayangnya, perkelahian saya dengan ayah pun terjadi kembali. Bukannya ayah senang saya di terima di Untirta, tetapi ia malah menyuruh saya mendaftar lagi di kampus lain. Menurutnya biaya di Untirta sangat mahal. Saya memberontak, bila saya tidak kuliah di Untirta lebih baik saya kabur dari rumah. Ayah pusing bukan kepalang. Ibu hanya diam saja melihat kejadian ini meskipun adu mulut antara saya dengan ayah sudah di luar batas kewajaran. Akhirnya, permintaan saya dituruti kembali.

Menjadi mahasiswa adalah kemerdekaan tiada tara. Saya sudah terlampau jauh mengartikan arti kemerdekaan. Hingga akhirnya saya begajulan berpakaian dan bersikap. Rambut saya gondrong. Berpakaian kaos oblong. Bercelana robek. Kehidupan kampus menjadikan saya seperti orang lain. Bukan saya yang biasanya. Ayah hanya menggeleng-geleng kepala melihat anaknya seperti gelandangan. Sebagai guru, ia sangat malu. Saya tidak mau mendengarkan apa pun yang ia katakan. Saya hanya ingin balas dendam dengan kehidupan masa SMP dan SMA yang selalu mengekang dengan banyak aturan. Rambut saya selalu kena serangan gunting guru. Baju saya selalu terkena coretan spidol karena tidak dimasukkan. Kali ini saya ingin memberontak.

Selain menjadi mahasiswa, saya pun menjadi aktivis kampus yang begajulan pula. Saya sering pula pulang larut malam. Ayah selalu mengejek setiap kali saya pulang, “Ah, mahasiswa sok sibuk!” ujarnya. Hati saya amat sakit mendengar pernyataan itu. Dan pernyataan itu terulang setiap hari, setiap saya pulang ke rumah.

“Jangan mengaku anak saya kalau kamu masih berpakaian seperti itu!” ujarnya dua tahun kemudian. Mungkin ayah sudah kesal dengan sikap saya yang tidak mau diperingatkan ini. Saya kesal. Ayah tidak mengerti keinginan saya. “Sudah banyak keinginan kamu yang sudah terkabul. Coba kali ini kamu nurut!” ujar ayah lagi. Saya benar-benar dimarahi habis-habisan. Ayah marah besar. Ia membikin kuping saya panas lagi. Ah, betapa kesal saya. Saya berpikir Ayah tidak pernah sayang kepada saya.

Tapi, akhirnya saya sadar setelah kejadian mengenaskan terjadi dengan saya dan keluarga saya. Peristiwa itu terjadi pada 2 Januari 2009. Waktu itu saya dan keluarga saya ditipu oleh komplotan penjahat. Saya dikabarkan kecelakaan. Tertabrak mobil pertamina di Tangerang. Kepala saya pecah dan kaki saya patah. Kedua orangtua saya setengah mati mendengar kabar ini dari seseorang yang mengaku polisi yang menelepon telepon rumah. Ayah menghubungi ponsel saya berkali-kali. Namun percuma, ponsel sudah saya nonaktifkan. Sebelumnya ada seseorang yang menelepon ponsel saya dan menyuruh saya menonaktifkannya selama dua jam. Saya menurut saja, karena suara dari polisi itu begitu tegas dan meyakinkan.

Beberapa menit kemudian, saya dikabarkan sudah dilarikan di rumah sakit Tangerang. Seorang dokter mengabari kepada Ayah perihal biaya pengobatan saya. Pihak rumah sakit meminta uang delapan puluh juta untuk kesembuhan saya. Ayah tidak punya uang sebanyak itu. Ayah tidak memikirkan uang. Ia hanya memikirkan keadaan saya saat itu. Ia hanya ingin melihat kondisi saya terlebih dahulu. Hingga akhirnya ayah dan keluarga pun berangkat menuju rumah sakit yang dituju. Semua keluarga saya begitu cemas dan khawatir akan kondisi saya saat itu.

Akhirnya, Ayah pun sampai di rumah sakit. Ayah mencari nama saya di resepsionis ruma sakit. Ternyata di rumah sakit itu tidak ada nama saya. Ayah bingung bukan kepalang. Harus ke mana ia pergi dan mencari keberadaan saya. Waktu dua jam pun usai sudah. Saya yang waktu itu sedang di kampus langsung mengaktifkan ponsel saya. Langsung saja ada panggilan masuk di ponsel saya. “Ayah?” ujar saya dengan agak bingung. Tumben ayah menelepon. Tidak biasa-biasanya. Saya pun mengangkat telepon dari Ayah.

“Iya Ayah, ada apa?” dengan suara saya agak lemas.

“Cep, ini kamu bukan?”

“Iya, ini saya.”

“Kamu jangan bohong!”

“Iya, ini saya, ada apa sih, Yah, ribut amat.”

“Kamu di mana…? Kamu di mana…?”

“Saya di kampus.”

“Kamu jangan beranjak dulu dari kampus. Kami segera ke sana!”

Ada apa ini ribut-ribut. Ada apa dengan Ayah hingga ia seperti orang panik begitu. Satu jam kemudian Ayah pun sampai di kampus. Saya disuruh menemuinya di depan gerbang kampus. Dengan bergelimangan hati yang tak keruan saya berjalan dari gedung ke depan gerbang. Terlihat Ayah tampak gelisah melihat saya berjalan menuju ke arahnya. Sepertinya ia tidak percaya.

Sampai akhirnya saya sudah berada dihadapan Ayah. Ia tidak percaya. Ia mendekat, kemudian memeriksa saya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tangannya bergetar menyentuh saya. Saya bingung sendiri dengan apa yang sedang dilakukannya. Sampai akhirnya Ayah memeluk saya dengan tubuh gemetar. Dengan linangan air mata. Ia bersegera ke masjid, kemudian sujud syukur, bersyukur karena anaknya sudah kembali dengan selamat.

Ayah pun menceritakan kronologi kejadian ini. Saya hanya diam mendengarnya. Tampak wajahnya seperti orang yang takut akan kehilangan anaknya. Matanya masih belum percaya dengan saya yang ada di sampingnya—duduk di mobil. Saya menjadi terharu dengan kejadian ini. Pikiran saya tentang Ayah selama ini ternyata salah besar. Saya merasa berdosa dengan apa yang selama ini saya lakukan kepada Ayah. Terima kasih, ya Allah, Engkau sudah memberikan ujian ini untuk membukakan pintu hati saya yang selama ini selalu su’udhzon kepada Ayah. Sudah berapa tahun saya begini. Ya Allah, semoga Engkau mengampuni segala dosa ini.

Di rumah, Ibu dan adik-adik sudah menanti kepulangan saya.

Ayah, maafkan saya. [*]