Ku ingin kau tau…

Diriku di sini menanti dirimu

Meski ku tunggu hingga ujung waktu ku

Dan berharap rasa ini kan abadi untuk selamanya

Dan izinkan aku…

Memeluk dirimu kali ini saja

Tuk ucapkan selamat tinggal untuk selamanya

Dan biarkan rasa ini bahagia untuk sekejap saja

Dalam seratus dua puluh menit malam itu, kau kenalkan aku pada keberanian seorang lelaki yang mengungkapkan perasaannya padaku. Lelaki itu sudah bersamaku sepuluh tahun lamanya dan ternyata dia diam-diam mencintaiku. Dia selalu bisa membuatku tersenyum dan menghangatkan duniaku. Kaulah laki-laki itu.

Aku bahagia… akhirnya aku mengenal sebuah pengakuan.

Aku tersenyum… baru kali ini aku merasa sempurna denganmu.

Seperti yang kau janjikan, aku akan tersenyum setiap hari.

Hanya akan ada pelangi tanpa hujan.

Benar saja, aku selalu tersenyum setiap hari sampai aku tidak sadar begitu banyak kesakitan yang terselip dalam senyumanku. Pelangi yang tanpa hujan terus bersamaku, aku tidak tau kalau akhirnya warna pelangi itu perlahan meleleh dan menjadi bencana yang menghancurkan sebagian duniaku.

Advertisement

Akhirnya seratus dua puluh menit yang mencintaiku malam itu tercatat sebagai memori yang gelap tanpa cahaya.

***

Untuk kesekian kalinya, dan hari ini genap seribu dua ratus lima puluh hari. Sejak hari itu hingga detik ini aku masih sama.

Aku menunggumu. Tidak percaya ? jangankan kau, mereka (teman-teman dekatku) selalu menganggap perasaanku hanya sebuah kiasan belaka. Mungkin kau perlu tau, tidak semua perempuan yang mudah mencintai dan mudah melepaskan cinta itu. Ada perempuan yang ketika dia menyerahkan segenap perasaannya untuk seorang lelaki, perempuan itu akan sulit meruntuhkan perasaannya sekalipun lelaki itu berkali-kali menolaknya dan menghancurkan harapannya. Kau tau ? perempuan itu akan bertahan.

Kali ini aku tengah mengenang perpisahan “kita” di tepian garis pantai yang membisu. Aku duduk dengan mata terpejam dihadapan terik mentari yang enggan terbenam, sejenak tenggelam dalam kilasan hari-hari terindah yang pernah ku lalui bersamamu. Aku hampir lupa jika itu hanya obsesiku memikirkanmu, bukan lagi nyata.

Dengan bahagianya aku menuliskan namamu dan namaku dalam sebingkai hati pada hemparan pasir yang basah. Aku tidak pernah berhenti berharap jika suatu hari nanti itu akan terbingkai dalam sebuah selebaran indah di hari terbahagia dalam hidupku. Namun arus tiba-tiba datang dan menghapus tulisan itu tanpa mengatakan apa-apa. Hal itu persis seperti kepergianmu tanpa alasan yang bisa ku mengerti. Kau sama dengan arus, tidak perduli dengan sebuah alasan.

Aku tersenyum hambar melihat jejak langkah kaki ku yang terpampang sendiri di atas hemparan pasir. Saat itu juga aku bisa merasakan seisi pantai sedang menertawaiku yang gagal membuat langkahmu menemani langkahku.

Aku membeku di tempatku berdiri…

Sampai hati kau membuatku melewati per menit dengan menunggumu.

Aku mengamati luasnya pantai seperti luasnya perasaanku untukmu yang belum bisa terkikis waktu. Aku merasa seperti tidak pernah ada dalam cerita hidupmu. Bahkan kau hanya diam ketika cinta berjalan angkuh diantara persahabatan “kita”. Namun ketika kau bicara tentang cinta itu, persahabatan “kita” berada di gerbong kehancuran.

Inilah akhirnya. Aku mengenalmu sebagai seorang teman kecil, kemudian mengarungi indahnya persahabatan. Hingga serangkai huruf bernama cinta mengenalkanku pada perpisahan tragis yang masih enggan ku jadikan kenangan. Karena aku belum bisa memberikan jawaban sampai kapan aku bertahan menunggumu.

Untukmu, lelaki perebut hati yang tidak bertanggung jawab.

Aku masih di sini menunggumu.