Kemana perginya sahabatku yang dulu?

Sahabat apa kabarmu sekarang, apa kegiatanmu saat ini, aku selalu berharap semoga kamu baik-baik saja seperti doa yang terus aku kirim untukmu, semoga kamu selalu sukses dengan cita-citamu dan semoga selalu sehat. Amin. Sahabat seperti apa mukamu saat ini, apakah masih seperti dulu chubby seperti tahu kembang seperti candaan yang selalu aku lontarkan untukmu.

Sahabat apakah kamu merindukan aku? Apakah kita akan bertemu lagi? Dengan kisah baru yang akan kamu ceritakan untukku. Sahabat saat kita bertemu lagi, apakah masih ada senyum terbaik untuk kita bercanda? Masihkah ada canda, tawa untuk kita? Apakah masih ada kekonyolan yang akan kita buat seperti dulu?

Dimana setiap kita bersama ada tawa dan tangis yang setia bersama kita, bercerita tentang mimpi dan harapan di masa depan, becerita tentang cowok idaman yang akan melamar dengan kejutan seperti di film-film, setiap bertemu pasti ada kebahagiaan yang kita bawa, apakah itu masih kamu ingat sahabat? Aku selalu mengingat dengan jelas semua kebaikanmu, yang paling utama kamu membawaku pada kebaikan saat aku terlalu rapuh untuk mengenal agama.

Kamu datang membawa dampak baik sampai sekarang aku lakukan. Pada saat itu kamu melakukan hal yang tidak pernah aku pikir sebelumnya. Kamu membelikan hadiah sebuah kerudung berwarna putih dan kamu pakaikan di kepalaku sembari berkata, “tutuplah auratmu agar terlihat lebih cantik dan anggun, selain itu supaya Ayahmu tidak menanggung beban dosa setiap kali laki-laki melihat auratmu sahabat”.

Advertisement

Pada saat itu aku tertegun diam, tak tahu apa yang aku rasakan, yang aku tahu kamu melakukan hal yang benar yang membawa kesejukan di hatiku setelah mendengar kata-katamu. Engkau sahabat terbaik sampai sekarang, kamu begitu anggun, cara bicaramu, sopan, dan kau wanita muslimah, sehingga aku nyaman jika di dekatmu bercerita tentang kesedihan dan kebahagiaan.

Tapi setelah kejadian itu aku tak menyangka kamu berubah menjadi orang yang tidak kukenal. Setelah kejadian yang membuatmu terpukul oleh kekhilafan seorang lelaki yang kau sebut Ayah. Dia memberikan luka batin yang teramat dalam untukmu, kekecewaan yang mendalam pada sosok yang kamu banggakan hingga akhirnya melukai kebanggaan itu sendiri. Sekejap sifat dan sikapmu berubah dratsis. Kamu menjadi pendiam, emosional, egois, kasar dan seperti orang yang kehilangan arti hidup.

Sampai kamu berada di tempat yang tak seharusnya kamu berada. Kamu melalui hari buruk di sana, dan aku sebagai sahabatmu tidak akan mengenal lelah dan tak mengenal takut untuk merubahmu kembali seperti dulu. Tak ada kata menyerah untukmu, untuk membuat kamu bisa tersenyum dan tertawa seperti dulu, agar kamu bisa memberikan nasihat-nasihat untukku lagi.

Seiring waktu yang berlalu kamu kembali sembuh karena dukungan semua yang menyayangimu dan doa serta Allah tapi kamu sembuh tak sepenuhnya. Batinmu masih terguncang sehingga sikap, sifat karaktermu tidak bisa kembali seperti dulu. Kamu menjadi orang asing yang sulit aku mengerti, sebenarnya aku tak pernah berniat meninggalkanmu tapi karena kamu yang memilih memutuskan tali silahturrahmi persahabatan dan persaudaraan kita.

Aku pergi dengan janji yang tak selesai aku penuhi yaitu membuatmu kembali seperti sahabat yang dulu yang selalu berkata lembut menasehati. Sejujurnya aku sangat merindukanmu. Kita memang berada dekat dan satu kota yang sangat mudah untuk bertemu Tapi karena kamu sudah semakin berjalan semakin jauh dan ada jarak yang begitu jauh, rasanya sulit untuk aku tempuh, semakin aku tidak mengenal sifatmu, selalu menguji kesabaranku, selalu memberikan kemarahan, kegoisan, dan berbuat tanpa logika, aku bukan tak setia dalam persahabatan ini tapi aku menyerah karena aku tak mampu lagi membuatmu kembali.

Aku sudah kehabisan cara dan tak tahu harus berbuat apalagi untuk membuatmu kembali seperti dulu. Menjadi sahabatmu yang sangat aku rindukan, tawamu menghibur sedihku, tangismu yang membuatku ikut menangis, rindu nasihatmu. Aku rindu sahabat, rindu kita bercerita lewat telephone padahal setiap hari kita bisa bertemu sampai telinga sudah lelah mendengar ocehan kita. Cerita lucu kita, terkadang kita sama-sama mengabaikan telephone dari orang yang kita cintai karena saking asiknya bercerita.

Saat kau putuskan tali persahabatan, saat itu juga luka hatiku teramat dalam dan lebih dalam dari apapun. Kamu berubah seperti orang lain yang melakukan hal bodoh, berbohong demi hal yang tak masuk akal, hanya karena kamu takut kehilangan sosok sahabat. Tapi setelah aku memikirkan ulang, hal itu wajar karena kamu perna kehilangan sosok ayah kebanggaanmu yang membuatmu menjadi terlihat buruk di mataku saat itu. Tapi itu juga karena kesalahanku

Aku minta maaf tidak bisa menjadi sahabat baik bagimu, sehingga kamu harus pergi dengan kemarahan dan membawa dendam yang mungkin bagimu aku terlalu jahat telah melupakanmu. Sekian lama kita berteman, sudah banyak cerita kita, tawa, tangis, canda, dan senyum yang semuanya tidak bisa di ukur dalam waktu sebentar. Ketika aku membuka galery photo itu terkadang aku tertawa sendiri menyadari betapa bahagia kita saat itu.

Pernah suatu hari aku menunggu telephone darimu berharap bisa bercerita ketawa dan tersenyum. Tapi aku sadar hal itu tidak akan terulang hingga air mataku menetes menyesali semua kejadian yang membuatmu begitu jauh berubah dan begitu jauh melangkah. Semua keceriaan itu berubah menjadi kenangan pahit yang sakit buat diingat.

Yang sudah terjadi cukup kita tempatkan di dasar dan kenangan yang pahit kita lupakan. Kenangan yang baik kita kenang sampai kita bertemu lagi. Tapi sejujurnya sampai saat ini kamu tetap sahabat terbaikku, sahabat yang selalu aku rindukan. Meski aku berbohong pada diriku bahwa aku tidak mengingatmu lagi

Sahabat semoga kita bisa bertemu lagi di lain waktu sebagai orang baru dan dengan kisah yang baru. Semoga kita bertemu di surga Allah sehingga kita bisa bersahabat selamanya. Salam rindu dariku sahabatmu. Teruslah berjalan dengan langkah yang baru, suskes dan jagalah dirimu sahabat, aku akan menjagamu dan doaku untukmu selalu menyertaimu.