Kring… Suara Halo menyapa dari jauh disana. Kubayangkan kedua lesung pipi yang diukir Tuhan untukmu mulai mengembang. Kemudian tawa – tawa kita menjadi mangga muda yang sukses melilit perut yang kosong kala itu. Tak ubahnya sinar, kamu lilin dan Aku gelap. Saling melengkapi tanpa perlu meninggalkan.

Bermula dari dua mulut dan empat telinga kemudian meluas hingga tujuh bibir dan empatbelas telinga. Seolah meja makan yang biasa kita singgahi di ujung terik pindah kedalam dunia maya. Lengkap dengan mangkuk dan piring serta makanan – makanan pencuci mulut.

Lalu satu tempat tidur yang sengaja kita bagi agar semua badan kita muat didalamnya. Beralunkan musik – musik klasik pengantar tidur. Tak lupa doa – doa malam terucap pelan dan khusyuk.

Begitu seterusnya sampai bertemu terbitnya matahari, berganti terik, dan berakhir dengan sunset. Mungkin berada disana seperti dalam dekapan manis tanpa ada pahit sebagai penjeda.

"Nak, bangun. Ayo sholat subuh dulu."

Advertisement

Oh. Terimakasih, kalian. Hadir dalam mimpi indah semalam. Menghadirkan raga – raga yang sekarang jauh entah kemana. Tapi yang jelas jiwa – jiwa kalian masih melekat di sisi. Kembalilah, sahabat terjauhku, Aku rindu!