Perangai yang sopan namun ciri khas yang berantakan ala pecinta alam sangat nampak pada diri Norman Edwin. Meskipun terkesan santai, Norman merupakan sosok tangguh yang dikenal sebagai pionir petualangan Indonesia. Sosok yang berhasil melakukan pendakian ke tujuh puncak dunia di Indonesia. Lulusan Arkeologi Universitas Indonesia yang lahir pada 16 Januari 1955 ini ditemukan meninggal beberapa ratus meter dari puncak Aconcagua (6.962 meter di atas permukaan laut/mdpl), Argentina, pada April 1992.

Wajar jika ketika mendengar puncak tertinggi di Amerika Selatan itu kita tidak bisa lepas dari sosok pendaki Indonesia bernama Norman Edwin, dimana ketika ia meninggal saat itu pun sekaligus melakukan tugas sebagai wartawan harian Kompas.

Norman juga meninggalkan banyak tulisan yang sangat menginspirasi semangat petualangan di berbagai harian cetak seperti Kompas, Mutiara, Suara Alam, dan Suara Pembaruan. “Ingatan terakhir saya mengenai kehadiran almarhum adalah ketika beliau berpamitan beberapa hari sebelum keberangkatannya ke Aconcagua.

Waktu itu sepertinya beliau sudah dapat ’merasakan’ bahwa itu adalah terakhir kalinya kita akan bertemu karena salam perpisahannya sedikit lebih emosional dibandingkan perpisahan sebelumnya. Setelah kepergiannya, saya ingat, saya sempat mendapatkan sebuah kiriman kartu pos dari beliau yang diposkan dari Mendoza (Argentina).” Begitu yang dituliskan oleh Melati—putri tunggal Norman Edwin—yang saat ditinggalkan baru menginjak usia tujuh tahun. (Dikutip dari Harry Susilo, Kompas – 2011)

Norman meninggal bersama sahabatnya Didiek Samsu ketika diterjang el viento blanco, begitu istilah badai yang terjadi di Aconcagua saat itu di mana secara harfiah berarti angin putih. Cuaca dingin yang ekstrem serta badai yang sangat kencang saat itu terjadi di sepanjang pegunungan Andes, termasuk Gunung Aconcagua yang berada dalam jajaran pegunungan Andes.

Advertisement

Diperkirakan, Norman dan Didiek diterjang angin kencang berkecepatan 90 kilometer per jam yang bertiup bersamaan dengan kabut dan hujan salju. Jika perkiraan itu sudah dapat diprediksi sebelumnya, kemungkinan Norman dan Didiek bisa saja selamat dari pendakian yang mereka berdua taklukkan. Namun, sayangnya, badai el vianto blanco tidak bisa diprediksi dan dapat terjadi secara tiba-tiba. Pada akhirnya, alam yang menentukan. Norman dan Didiek meninggal dunia di atas puncak Aconcagua.

Ekspedisi ke Gunung Aconcagua pada pertengahan Februari 1992 saat itu juga melibatkan pendaki MAPALA UI lainnya. Rudy Nurcahyo, Mohammad Fayez, dan Dian Hapsari turut menjadi saksi betapa hebatnya perjuangan Norman dan Didiek yang akhirnya harus meregang nyawa menghadapi badai salju di puncak Aconcagua.

Berdasarkan berita Kompas yang dikutip melalui tulisan Harry Susilo, kelima anggota ekspedisi MAPALA UI menuju Gunung Aconcagua saat itu melakukan pendakian pada 12-27 Februari 1992 melalui jalur Gletser Polandia menuju jajaran pegunungan Andes, Argentina, di mana jalur tersebut memiliki tingkat rute yang lebih sulit jika dibandingkan dengan rute normal.

Berawal dari kecelakaan yang menimpa Fayez membuat pendakian harus diurungkan dan semuanya mau tidak mau harus turun kembali karena melihat kondisi cuaca yang semakin tidak membaik. Ketika Fayez harus dirawat di rumah sakit, Norman dan Didiek juga harus mengalami amputasi bagian jari karena terkena radang pembekuan pada jari atau istilahnya yang sering disebut frostbite.

Pasca peristiwa tersebut, kedua pendaki MAPALA UI tersebut yakni Fayez dan Dian pulang lebih dulu ke Jakarta. Di sisi lain, Rudy masih harus menjalani perawatan di rumah sakit Santiago, Cile. Sebaliknya, dengan tekad yang kuat, Norman dan Didiek justru merencanakan untuk melakukan pendakian ulang Aconcagua dengan pendakian jalur normal pada 11-21 Maret 1992.

Nahas, Tuhan ternyata memiliki rencana yang lain untuk kedua orang hebat ini. Dalam pendakian ulang Norman dan Didiek, musibah yang mengejutkan dunia terjadi di puncak Aconcagua. Bagaimana tidak mengejutkan dunia, bahwa kedua pendaki hebat asal Indonesia ini dipastikan meninggal dengan radius tidak jauh dari puncak tertinggi Aconcagua karena badai salju yang menerjang keduanya. Didiek ditemukan lebih dulu sebelum Norman yang ditemukan meninggal setelahnya. Keduanya ditemukan meninggal dalam kondisi yang berdekatan.

Sampai saat ini, Norman dan Didiek adalah sosok yang sangat berpengaruh di dunia petualang Indonesia. Bagi siapapun yang senang mendaki gunung atau mendedikasikan diri sebagai pecinta alam, Norman dan Didiek adalah tokoh yang mampu memberikan semangat luar biasa dalam kegiatan berpetualang. Begitu juga dengan apa yang ditinggalkan oleh Norman dengan tulisan-tulisannya yang mampu memberikan kenangan dan semangat bagi siapapun yang membacanya.

Maka dari itu, biarpun Norman dan Didiek telah pergi ke puncak yang paling tinggi, namun semangat mereka akan masih selalu tertanam dan tetap dijaga oleh generasi penerusnya. Semangat Norman dan Didiek membuktikan keberhasilan beberapa tim pendaki yang mampu mencapai Puncak Aconcagua dengan selamat. Sebut saja, tim pendaki Mahitala dari Universitas Parahyangan yang berhasil mengibarkan Merah-Putih di puncak Aconcagua pada awal tahun 2016 lalu, membuktikan bahwa semangat Norman dan Didiek masih akan dan terus selalu terjaga sampai generasi-generasi berikutnya.