Perjalanan hidup ini telah membawaku menemui dan mengenal banyak orang. Orang-orang dari berbagai daerah dan berbagai kota yang berbeda denganku, bahkan orang yang berbeda negara pula. Berbagai kesibukan dan kepentingan yang akhirnya mempertemukan diriku dengan orang lain, termasuk bertemu denganmu. Dirimu yang berasal dari kota yang berbeda denganku. Awalnya memang biasa saja, aku merasa wajar dan tak memikirkan apa-apa yang berlebih ketika engkau dan aku saling memperkenalkan diri. Wajar jika aku punya teman dari daerah yang berbeda. Tak ada yang salah dengan itu.

Dahulu aku tak begitu tertarik untuk mengetahui dimana tempat tinggalmu secara lebih jelas. Hingga setelah kita akhirnya semakin akrab sebagai seorang teman, aku mulai kepo ingin mengetahui banyak hal tentang tempat tinggalmu. Tempat dimana sering buatmu rindu, yang katanya selalu ingin membuatmu cepat-cepat pulang di kala liburan datang. Hingga terbayang tanpa sadar, ternyata jarak antara rumahku dan rumahmu telah terbentang jarak yang begitu jauhnya. Entahlah, aku mulai memikirkan hal itu. Mungkin saat itu telah tumbuh di hatiku tentang perasaan untuk bisa bersamamu.

“Mungkinkah suatu saat kita bisa bersama, di tempat yang sama untuk selamanya?”

Kini aku yang mulai mengharapkanmu, tentu engkau tak bisa menyalahkn hati ini jika akhirnya aku tertarik padamu. Tentu semua itu bukanlah suatu kebetulan semata, atau suatu perasaan yang aku ada-adakan. Karena aku tahu perasaan itu bukanlah tempat untuk bermain-main. Cinta itu tumbuh karena hati ini yang telah mengenal hatimu pula, walaupun aku mengerti aku belum sepenuhnya mengenalmu.

Aku pun sering merasakan kesedihan di hati, tatkala melihat banyak orang yang mencoba mendekatimu. Aku menyadari bahwa mereka juga sedang berusaha mendapatkanmu. Sering kali aku sangat khawatirkan itu, apalagi yang mendekatimu adalah orang sedaerah denganmu. Karena sering kali aku menemui, banyak orang yang lebih memilih pasangan dari tempat yang paling dekat dengannya. Entahlah apa alasannya, yang jelas hal itu sering terjadi. Bahkan banyak dari temanku yang akhirnya berjodoh dengan rekan sedaerahnya sendiri. Hal itu tentu membuatku gentar tuk berharap.

Advertisement

“Mungkinkah bisa bersanding denganmu. Jika banyak orang yang yang mengharapkamu juga dari sana?”

Ah tentu mungkin, semua di dunia ini bisa jadi mungkin. Itu lah yang selalu buatku semangat kembali. Tiada suatu yang tak mungkin, bahkan Allah bisa menyatukan mata air di gunung dengan air laut yang terbentang jauh jaraknya. Allah bisa dengan mudah mempersatukan dua orang yang bahkan beda negara, mungkin jika ada dua planet yang berpenghuni mungkin juga akan jodoh juga. Ah fikiranku terlalu jauh tentang dua negara atau dua planet, harusnya aku memikirkan kisahku tentangmu saja yang hanya antar kota.

Alangkah bahagianya diriku pula, ketika kau beri kesempatan untuk selangkah lebih dekat denganmu. Menjadi orang yang bisa akrab, walau ujung-ujungnya juga kita saling berfikiran tentang apakah kita bisa bersama. Namun tak ada salahnya kita yang berharap, Allah lah yang menjawab harapan kita. Jika kita tak bersama, mungkin diantara kita ada yang tak serius berharap. Atau kita yang terlalu ragu akan ke-Maha Besaran Tuhan untuk berkehendak terhadap segala sesuatu. Hingga kita malah pesimis sendiri. Hingga merelakan orang yang kita cintai bersama orang lain dengan mudahnya. Kita hanya bisa memendam cinta dan tak berani melangkah. Kita hanya berani duduk memandangnya dari jauh dan berharap dia tak akan diambil orang. Oh rasanya memang pengecut juga kita ini, jika percaya bahwa jarak itu adalah suatu masalah yang sangat besar.

“Lalu sebenarnya apa gerangan kira-kira kenapa Allah mempertemukan kita? Hingga tumbuh perasaan cinta di hati kita?”

Mungkin semua ini sebenarnya bukan masalah jarak ataupun kota yang berbeda. Namun tentang siapa yang mau berjuang atau tidak. Siapa yang benar-benar punya niat untuk mengejar jodoh yang ia inginkan atau tidak. Karena semuanya bisa jadi mungkin untuk terjadi di dunia ini. Maka dari itu, bolehlah aku untuk selalu mengharapkanmu jadi jodohku. Hal itu karena aku sudah mengerti bahwa jarak bukanlah masalah utama untuk menghambatku bersamamu.

Lalu bolehkah diriku untuk memintamu agar mau menunggu. Ah bukan itu, aku tak punya cukup alasan untuk memintamu menungguku. Silahkan engkau mau menunggu atau tidak, setiap hati tak bisa dipaksakan untuk tetap percaya. Aku pun tak bisa berjanji berlebih. Aku tak bisa merayu dan meyakinkanmu setiap saat.

Karena tentu disana banyak sosok yang pastinya lebih meyakinkan dan banyak pula yang lebih baik dari diriku. Semua terserah padamu, namun yang perlu engkau tahu bahwa saat ini aku tak begitu peduli dengan jarak antara kita. Karena aku benar-benar mengharapkanmu jadi jodohku, aku mau engkau jadi jodohku.