Setelah terperosok dan terpental kedalam jurang dalam yang gelap, absurd rasanya jika aku tak mengalami “bekas luka”.

Guratan luka parah yang menganga kini membekas. Bukan perjuangan yang mudah, ketika luka menjadi bekas. Aku tertatih hina seorang diri menahan sakit yang teramat, memopong tubuh agar kembali bangkit, memasang senyum lebar disela-sela tangisan kecil agar “mereka” melihat bahwa aku tangguh.

Entah mengapa saat itu aku merasa benar-benar remuk saat “mereka” juga kau cambuk. Kepada Engkau Tuhan yang maha mengetahui segalanya, aku bertanya. Beginikah caramu mendewasakanku atau kau ingin membuatku belajar tentang keikhlasan? Jika iya, aku siap Tuhan!.

Berdiri Sendiri Setelah Jatuh Bukan Perkara Mudah, Apalagi Keegoisan Diri Merajai

Menjadi kuat seorang diri kurasa menjadi satu-satunya pilihan. Selain aku tak ingin orang lain merasakan sakit yang kurasa, aku juga tak ingin melihat “mereka” merisaukan keadaanku.

Advertisement

Sekilas, aku memang tampak baik-baik saja. Mejalani rutinitas seperti biasa. Membiasakan lengkungan di sudut bibir itu selalu terlihat, dengan tujuan agar semua kepahitan yang kurasa akan hilang. Tetapi tak bisa dipungkiri, jauh didalam lubuk hati, aku menyimpan tangis lemah sewajarnya seorang wanita.

Menyimpan semuanya sendiri bahkan sudah menjadi kebiasaanku. Egois memang. Tetapi selama diam bisa menjadi tameng pilu, kurasa tak ada salahnya aku berlaku demikian kepada diriku sendiri.

Hingga Waktu Mengizinkan Aku Untuk Kembali Berjalan, Dengan Terengah-engah Aku Menapak. Banyak Rumah Yang Menawarkan Tempat Persinggahan, Namun Tak Satupun Ingin Kujamah

Bagaimana rasanya berjalan dan menapakkan kaki di atas kerikil tajam? Sebuah pertanyaan yang sekarang akan kujawab. Jika ditanya bagaimana rasanya, pertama kali akan ku jawab dengan kata sakit. Bagaimana tidak, tanpa alas kaki aku menapaki setiap kerikil-kerikil tajam. Terengah-engah mencari jalan mulus dipadang yang tandus. Sesekali, rengekan kecil didalam hati menyeruak ingin berhenti dan menyerah. Kali ini logika memberontak. Dengan tegasnya ia berkata bahwa Akan ada pelangi setelah hujan. Tak ayal lagi, hati yang lembut itu menurut. Aku terus melangkahkan kaki mencari sesuatu yang sebenarnya aku sendiri tak tahu itu apa. Aku hanya berharap keluar dari keadaan ini dan mencari zona nyaman demi menyembuhkan hati yang berlubang.

Tertatih dalam langkah tak bertujuan, banyak tawaran dari rumah yang mengajak untuk beristirahat. Aku yang terlarut dalam kecewa pernah merasa takut untuk kembali singgah.

Kini Waktu Membawaku Bertemu Dengan Seseorang Yang Tak Kusangka Akan Merebut Hatiku

Perjalanan panjang membawaku dalam keletihan luar biasa. Perlahan, waktu membawaku ke suatu tempat. Bertemu dengan orang-orang baru. Menjalani realita yang ternyata berbanding terbalik dengan rentetan ekspektasi. Luar biasa…! Bagaimanapun hidup harus terus berjalan. Aku tak ingin jika waktu mengalahkanku. Biarkan aku dan waktu berjalan berbarengan. Namun jangan sampai aku yang terkalahkan. Sikap egois itu masih terus melekat erat.

Aku bukanlah wanita yang mudah membuka hati kepada seorang pria. Terlalu selektif karena pernah terluka bukan sesuatu hal yang tabu.

Sampai akhirnya, perjalananku terhenti oleh sesosok pria yang datang membawa secercah kehangatan. Dengan berbagai cara mencoba masuk kedalam hati yang kosong. Tapi sayangnya, sedikitpun tak kugubris.

Tetapi Kau Tak Pernah Kehabisan Cara, Sayang… Meski Berulang Kali Kubilang Tak Ingin, Kau Semakin Menggebu Untuk Mencoba

Terkadang, kupikir kehadiranmu hanya sebagai pengusik dalam kehidupanku. Saban hari kau selalu memiliki cara licik yang kau kemas dengan sempurna hanya untuk melumpuhkan hatiku.

Awalnya, aku memang sama sekali tak tertarik. Bahkan, ketika engkau hadir dilingkungan hidupku, untuk memandangmu sebelah matapun aku tak ingin. Berulang kali ajakanmu ku tolak. Aku sengaja mencari jalan lain hanya tak ingin berpapasan dengan tatapan tajam matamu yang seolah-olah memaksaku untuk masuk kedalam hidupmu.

Seribu satu cara kau tempuh hanya untuk sekedar membuat aku, seorang wanita sederhana dengan hati yang berlubang ini tersenyum.

Saban Hari Berlalu, Aku Merasa Ada Yang Tak Biasa Dengan Hatiku..

Cara-cara sederhana nan licik yang kau tunjukkan saban hari membuat hatiku tersenyum kecil. Akupun mulai terlena dengan kebersamaan yang kau buat, humor kecil yang selalu kau lontarkan dengan pembawaanmu yang sederhana dan tenang. Hingga, aku merasakan ada sesuatu yang mengganjal didalam hatiku..

Aku selalu mencarimu disetiap sudut pandanganku. Sengaja menggerakkan bola mata dengan liar hanya untuk mencari sosokmu. Ada rasa nyaman tersendiri dihatiku ketika melihatmu dan ketika disisimu kau membuat aku merasa nyaman dan aman.

Dan Harus Kuakui.. Aku Mulai Memiliki ‘Rasa’ Padamu..

"Bagaimana mungkin, seseorang yang dulu tak kupandang, kini bisa merebut hatiku?"

Bahwa cinta datang tanpa bisa diatur, kapan, dimana dan dengan siapa. Bahkan kau yang dulu sama sekali tak kulihat, kini selalu melekat.

Jika boleh memilih, aku tak ingin lagi menjatuhkan pilihan kepada pria manapun, karena aku tak ingin lagi melewati fase limbung. Tetapi sikapmu mematahkan persepsi itu.

Hati yang dulu terasa tak sempurna kini bak puzzle yang telah lengkap. Aku menemukan kembali kepingan bagian yang hilang. Aku menemukan sepotong hati yang baru yang kuharap akan menggenapi bagian hatiku yang berlubang.

Aku Hanyalah Wanita Biasa Yang Memiliki Harap Disayangi Dan Dicintai Tanpa Dusta..

"Aku bukanlah wanita yang sempurna..

Aku juga bukan wanita baik-baik.."

Saat banyak waktu kuhabiskan bersamamu. Tak ayal, semua kebiasaan burukku mulai kau baca. Kau tau? aku tak ingin menutupi kekuranganku hanya karena ingin menaikkan harga diriku. Karena aku memiliki keyakinan bahwa, jika seorang pria benar-benar mencintaiku, ia akan siap menerima semua kekuranganku. Tak peduli bagaimana masa laluku, dia akan menjaga dan dengan keikhlasannya akan membawaku ke arah yang lebih baik. Inshaa Allah..

Sekedar Mengingat Kembali..

Masing-Masing Dari Kita Pernah ‘Singgah’ Diperaduan, Sebelum Akhirnya Kau Dan Aku Dipertemukan Menjadi Kita..

Getir rasanya jika harus mengingat kembali masa lalu. Tapi tak bisa dipungkiri, tanpa masa lalu aku dan kau mungkin takkan pernah menjadi kita. Kitapun harus menyadari bahwa, didalam hidup ada sesuatu hal yang tak bisa dipaksakan.

Meremang menyibak takdir, aku dan kau memang sama-sama memiliki kisah silam yang kelam.. tapi tau kah kau jika aku tak ingin sedikitpun mengulik kembali kisah silammu. Biarlah semua kenangan menjadi pelajaran tanpa harus menghakimi masalalu.

Kini kita dipertemukan oleh-Nya dengan sebingkis perbedaan. Tapi ada satu hal yang kuyakini..

"Jika Tuhan bisa memisahkan kita dengan orang yang tak disangka akan meninggalkan kita, maka jangan ragukan kemampuan-Nya menyatukan kita dengan orang yang tak disangka bisa kita miliki”.

Terimakasih Kuhaturkan Kepadamu; Sepotong Hati Yang Baru..

Aku ingin menyampaikan terimakasih yang tak terhingga kepadamu. Kepada sepotong hati yang baru.. pria yang kini t’lah bersamaku, yang namanya selalu kuselipkan dalam doa-doa panjangku ketika aku bercakap dengan-Nya, yang telah kuanggap sebagai rumah. Entah sebagai persinggahan atau aku akan kekal tinggal didalamnya..

"Terimakasih karena telah menyayangiku dengan sangat…

Terimakasih karena telah menyayangi keluargaku..

Terimakasih untuk waktu yang selalu kau luangkan untukku..

Terimakasih atas kesabaran luar biasanya..

Terimakasih priaku…"

Untuk saat ini, biarlah kau tetap menjadi rumah yang kokoh.. melindungiku dari teriknya mentari. Lalu, biarkan aku tinggal didalamnya dan izinkan aku untuk kembali menata setiap ruangan-ruangan yang sempat berserakan..