Membicarakan kepercayaan, adalah hal sepele namun kompleks untuk dibahas. Dari semenjak manusia lahir, bukankah kita sudah mulai percaya terhadap oranglain? Percaya bahwa oranglain akan mengenakan kita pakaian, memandikan kita, berusakan keras mendiamkan tangisan kita, dan juga memberikan kehidupan dan kasih sayang yang sangat layak sampai kita dewasa dan mandiri untuk melakukan semuanya sendiri.

Pilihan hatimu, sudahkah menjadi orang kepercayaanmu?

Manusia lahir, bertumbuh, menjadi dewasa, dan merasakan jatuh cinta. Lalu, sudahkah kamu memastikan kepada siapa kamu akan mempercayakan hatimu yang rapuh itu? Berhati-hatilah.. salah menyerahkan, butuh waktu lama untukmu bangun dan merapikan lagi yang telah pecah. Sudahkah ia benar teruji untuk menggenggam percayamu? Sudah yakinkah dirimu untuk tak sekedar berbagi cerita, namun juga sedih dan tawa dalam jangka waktu yang tak terencana?

Karena Kepercayaan, Tak Ternilai Harganya

Benar, karena kepercayaan serupa mata uang. Banyak ditemukan, bisa mudah didapatkan, namun memiliki nilai tukar yang tak ternilai harganya. Tak juga dijumlah dalam bentuk nominal. Namun kali ini melibatkan pilihan dan rasa kecewa apabila yang kamu dapat tak sesuai dengan harapan. Jangan lemah dalam percaya kepada siapapun manusia didunia. Hanya satu-satunya Tuhanmu yang tak akan menyalahgunakan kepercayaanmu. Maka, percayalah pada Tuhan dan dirimu sendiri, sebelum kamu benar-benar bisa memberikan kepercayaan kepada orang.

Siaplah dengan Segala Kemungkinan, termasuk Kecewa

Itulah yang akan kamu dapat, dari percaya yang kamu beri untuk orang. Segeralah menyiapkan tempat di hatimu untuk sesuatu yang bernama kecewa. Itu akan menjadi teman baikmu, ketika kamu sudah memberi kepercayaan untuk banyak orang dalam hidupmu. Tenanglah, tidak semua akan memberikan kecewa, sebagian akan memberikan bahagia.

Jika sudah kecewa, bisakah kita kembali percaya?

Tidak semudah mengambil tissue dari tumpukannya. Pada awalnya, kecewa dan marah, yang kemudian sedikit-sedikit menjadi benci dan enggan mengingatnya. Namun, sebaik-baiknya makhluk Tuhan adalah yang mampu memaafkan, berlapang dada menerima, dan menyelipkan semua di antara duka. Terlihat sukar? Tentu. Namun belajarlah mencobanya. Pelan-pelan. Biasakan hatimu untuk terbiasa. Itulah resiko yang akrab akan kamu dapat. Lalu, kepada seseorang yang pernah mengingkari kepercayaanmu, haruskah ia berhak mendapat kepercayaan kembali? Iya, jika memang hatimu mengatakan demikian. Beberapa orang tidak jahat, hanya lupa menjadi baik sekali waktu. Mengingkari kepercayaan dan menghancurkannya, adalah salah satu tindak jahat yang dilakukan orang baik. Dan tidak melulu itu karena ia berniat begitu, bisa saja karena ia memang khilaf, tak merencanakan namun ternyata sejalan begitu? Sudahkah kita melihat dari sudut pandang dirinya, mengapa ia melakukan demikian?

Menjadilah dewasa, biarkan luka yang akan mengasahmu menjadi lebih tajam dalam hidup.

Advertisement

Menjadilah pemaaf dan penerima segala sesuatu dengan ikhlas. Terluka sudah pasti tak ada yang nyaman dirasa, namun biarkan ia sesekali ada untuk menjadi penghias hidupmu agar tak melulu datar. Biarkan hatimu menjadi terlatih dan mentalmu menjadi lebih kuat menerima segala macam luka dalam hidup. Jangan mencaci makinya, jangan menolaknya, jangan merutuki dirimu ketika kamu terluka. Nikmati kehadirannya, rasakan sakitnya, dan bangun kekuatan pikiranmu untuk selalu berucap "aku harus bisa ikhlas, aku akan terima. aku harus memaafkan." Hanya pikiran dan hatimu yang bisa menjadi obat terampuh ketika tubuhmu mulai lunglai karena luka hatimu.

Semoga sepenggal pesan ini bisa sedikit menjadi pengingatmu, ketika kamu mulai jengah dalam hidup.