Masih teringat di pikiranku seistimewa apa aku dulu di hadapanmu. Mata juga tak berani menolak jika terkadang di pelupuknya masih sering tergambar jelas senyuman itu. Hari ini aku seperti kembali ke masa lalu. Tempat dimana pernah terucap sebuah janji namun sampai saat ini tak kunjung engkau tepati. Kata mereka melupakan itu sulit, dan aku tau jelas seberapa banyak air mata yang jatuh saat tangan kehilangan tangan lain yang pernah menggengamnya.

Berawal dari "hey" satu kata yang sederhana tapi mampu menggoyah ketegasan hati yang sebelumnya tak pernah tertandingi. Diawal cerita kita, kau membuat semuanya seolah penuh kebahagiaan. Aku pernah mendengar ungkapan tentang belahan jiwa dan kehadiranmu sukses membodohi imajinasi untuk menyematkan ungkapan itu buatmu.

Terkhusus untukmu, kini aku terlatih untuk menutup rapat pintu hati.

Aku tak pernah tau apa alasan yang mengkokohkan langkahmu untuk pergi menjauh. Dan seandainya waktu memberimu kesempatan untuk menjelaskannya kembali bisa ku pastikan angin memihak padaku agar tidak mendengarkan celotehanmu lagi.

Aku masih sama seperti kebanyakan wanita yang jika disapa cinta pasti langsung menoleh dengan anggunnya. Yang aku tau cinta itu berwarna tak selalu hitam pekat. Dia juga hadiah terindah dari karunia Sang Pencipta. Hal itu yang kemudian menyadarkanku bahwa orang sepertimu tak pernah pantas untuk menjadi tuannya.

Advertisement

Kamu hanya mantan. Maaf jika ketegasanku menyakitkan karena saat ini aku sudah punya tatanan masa depan.

Bukankah dulu kau pernah mengatakan aku adalah gadis terhebatmu? Iya kini aku telah membuktikannya bahkan meski tanpa engkau, aku berani meraih semua citaku. Aku mengerti hidup ini terlalu kemayu jika hanya bermodalkan sikap manja dan lucu. Aku bukan ingin menandingi kegagahanmu, tapi aku hanya ingin memperlihatkan begitu mandirinya aku sekarang. Impian yang selama ini sempat tertunda karena terlalu fokus padamu kini mulai tercapai satu persatu. Aku tak berharap kau menyesali semuanya, apa lagi untuk kembali padaku sungguh aku tak pernah mengharapkan itu. Aku hanya ingin kau sebagai penonton saat aku memainkan peranku dalam menggapai semua impian.

Ingat ya hanya sebagai penonton bukan pemeran cerita