Tak terasa kesibukan bekerja membuat saya mengabaikan momen indah ini lupa untuk dituangkan dalam barisan kalimat menjadi sebuah cerita. Wonogiri, kota yang namanya kian melejit dengan waduknya bernama “Gajah Mungkur” ini ternyata memiliki deretan bukit selatan yang begitu indah.

Ketika masih tinggal di Jogja, saya memulai perjalanan ini pada pagi hari dengan menggunakan sepeda motor. Saya memacu kencang sepeda motor serta menyusuri jalanan Kota Wonosari hingga perbatasan Yogyakarta dan Jawa Tengah. Menyusuri Wonosari itu hal yang mungkin terlalu sering saya lalukan, wajar jika keheranan saya tak muncul sedikitpun ketika melintas.

Namun, jalur selatan yang masih baru ketika memasuki wilayah Wonogiri membuat saya begitu terpukau dengan lukisan alam yang menghijau. Jarum jam masih menunjukkan pukul 8 pagi, saya memarkir kendaraan di tepian jalan Pracimantoro dekat pabrik kayu. Tak lama, saya pun bergegas memesan satu mangkok soto Wonogiri yang ternyata sangat nikmat dan enak. Harga yang ditawarkan pun cukup murah, untuk semangkuk soto dan teh panas saya hanya membayar Rp 7500.

Usai sarapan pagi, saya kembali memacu sepeda motor ke arah pantai. Berbekal sebuah artikel, GPS handphone serta GPS (Gunakan Penduduk Sekitar) tradisional. Akhirnya, dua setengah jam perjalanan ini terbayar dengan bukit-bukit yang membentang. Bukit itu yang selama ini menyembunyikan keindahan surga di Wonogiri.

Papan nama bertuliskan “Pantai Sembukan” dan iringan rintik hujan menyambut saya. Tak berselang lama, biru langit turut menghias tempat saya berjalan menikmati bukit. Hempasan angin laut, segarnya udara pagi, dan barisan dedaunan hijau menjadi satu sajian kebahagiaan saya hari itu. Duduk termenung di atas bukit pun rasanya tak terasa terik di kulit. Ahh, rasanya seperti sendiri di tepian surga karena meski weekend tapi hanya ada beberapa orang saja yang berada di pantai itu. Cukup lama saya berjalan menyusuri tiap sudut Pantai Sembukan yang begitu mempesona.

Advertisement

Hingga pemandangan dibalik bukit membuat saya tergoda untuk menyambanginya. Pantai dibalik bukit itu, Pantai Klotok yang tak henti-hentinya membuat saya berdecak kagum. Namun, hati tak pernah puas untuk menjelajah pantai yang tak jauh dari dua pantai ini. Motor pun saya lajukan kembali hingga tiba di pelataran parkir Pantai Nampu.

Hamparan bibir pantai berbalut pasir butih membentang begitu panjang. Tebing hijau pun kian gagah berdiri dan melengkapi panorama Pantai Nampu. Ombak yang bergulung seolah mengajak berlarian. Akhirnya, saya pun tergoda untuk bermain dengan butiran pasir dan terhempas gulungan ombak. Air laut kini membasahi seluruh tubuh saya. Hingga tak terasa hari pun sudah beranjak melewati tengah hari. Saya menyudahi waktu untuk bermanja-manja dengan pantai.

Sambil berbalik arah untuk pulang, hati ini tergoda dengan pantai terakhir, Pantai Sendang. Di sini lebih sepi dari tiga pantai sebelumnya, hanya ada orang yang asyik dan sabar menunggu kail ditarik oleh ikan. Sepi ini yang mengajarkan saya bahwa hidup akan lebih bermakna jika bersama orang yang disayangi.

Lalu, roda motor ini pun kembali memacu untuk segera pulang ke Jogja. Barisan pantai yang saya jamah dalam hari itu akan selalu menyisakan rindu untuk kembali dan menyapanya. Semoga saja Tuhan mempertemukan saya dengan surganya Wonogiri.