Selembar kertas berwarna jingga yang terselip dalam agenda terjatuh begitu saja. Aku memungutnya dan membaca sebaris nama yang membuatku tersenyum. Seakan memori akan indahnya tawamu terputar kembali lewat proyektor imaji di ruang otakku. Cinta tidak harus memiliki. Ah, memang terlalu klise. Terkadang tidak ada yang perlu diberitahu tentang perasaanku, cukup hanya aku dan Dia-Sang Pemilik Segala Rasa. Ini tentang keputusanku untuk mencukupkan rasa ini di sini, di dalam hati.

Engkau adalah kedewasaan yang terbungkus dalam sosok bersahaja.

Sore itu seakan mendung menggantung di langit-langit kamarku. Skripsiku terhenti. Dosen pembimbing memintaku mengulang metode dari awal. Sementara orangtuaku selalu menelepon menanyakan perkembangan skripsi yang sedang kukerjakan.

“Skripsi hanyalah sebuah fase. Seusai skripsi, kamu lulus, mencari pekerjaan kembali membuatmu tertekan, itu juga fase,” ucapnya entengnya. Seolah kegalauanku tidak berarti apa pun untuknya. “Mendapat pekerjaan yang kamu inginkan pun, tuntutan pekerjaan, membuatmu tertekan. Belum lagi pertanyaan kapan nikah yang nantinya akan selalu menghantui langkah kaki para lajang.”

Sok tahu, aku menggerutu.

Advertisement

“Jangan khawatir, satu fase selesai, itu artinya kamu naik tingkat. Kalau kamu kesulitan menyelesaikannya sendiri, masih ada teman-temanmu yang bersedia membantu. Kamu enggak sendirian lho, di kota ini,” ia menunjuk dirinya, you can count on me.

Entah karena aroma senja dengan daya magisnya yang membungkus siluet dirimu dengan warna keemasaan, atau memang karena ucapanmu barusan. Petang itu, ketika matahari terbenam, aku melihatmu dalam sosok yang tidak lagi sama. Tidak ada yang salah dengan perasaan ini, namun saat itu kita hanyalah dua manusia yang belum mengerti betul dengan diri sendiri. Aku tidak ingin salah mengutarakan dan mempertaruhkan persahabatan yang kita bangun perlahan di kota asing ini. Sejak saat itu kusimpan diam-diam benih perasaan ini di dalam hati.

Kamu bukanlah seseorang yang selalu terlihat bersamaku setiap hari. Namun satu hal yang lebih penting dari menjalani apapun berdua adalah; sosokmu yang selalu sedia ketika aku membutuhkan seseorang untuk sekedar berbagi cerita. Kita pernah mendeklarasikan persahabatan ini, dulu sekali, ketika kali pertama kita menemukan banyak kecocokan, yang sayangnya kamu berpikir bahwa itu bukanlah cinta.

Dia, perempuan beruntung yang berhasil menambatkan hatinya padamu.

Dia tidak datang tiba-tiba dan merebutmu dariku, toh, kamu memang bukan milikku. Dia, aku juga mengenalnya sama baiknya dengan aku mengenalmu. Dia, sosok yang pantas mendampingimu untuk meraih semua cita-citamu yang luar biasa. Dia, sama sepertimu, sosok mengagumkan yang bersahaja.

Terkadang aku berharap perasaanku ini seperti jejak kaki di pasir pantai, yang perlahan akan memudar karena hempasan ombak.

Kita bertemu lagi di sebuah kedai kopi di dekat stasiun. Kereta yang akan membawaku pergi ke kota asing lain segera datang. Aku tergelak membaca namaku di sampul depan.

“Harusnya pake Y bukan I,” ucapku mengoreksi.

Kita tertawa bersama, lantas kamu meminta maaf perihal kesalahan nama yang kerap ditemukan di tempat cetak undangan. Namun tolong jangan meminta maaf untuk goresan di hati, yang selalu diam-diam aku sembunyikan.

Ada namamu tercetak di situ, bersanding dengan namanya. Dalam selembar undangan berwarna jingga, yang mengingatkanku pada satu senja bersamamu.

“Aku pasti datang,” kataku pada kalian.

Pada akhirnya aku memutuskan bahwa pecahan rasa ini memang sebaiknya disimpan.

Masing-masing kita punya suatu peran penting bagi hidup orang lain. Peranmu bagiku sebagai arus dan angin yang membawa bahtera hidupku menuju samudera yang lebih luas. Kamu selalu percaya bahwa setiap orang memiliki potensi besar dalam dirinya. Karenamu, aku berani menghadapi hal-hal yang tadinya kupikir tidak sanggup kuselesaikan. Mungkin kehadiranmu dalam hidupku, juga merupakan sebuah fase, tentang bagaimana sebaiknya aku mengelola sebuah perasaan.

Karena denganmu aku telah mencukupkan bagian hatiku yang kini tinggal kenangan. Untukmu, yang paling kuinginkan hanyalah kebahagiaan. Mungkin suatu hari di masa depan akan kuutarakan soal ini. Ketika kita bertemu lagi di sebuah taman kanak-kanak, menjemput anak kita masing-masing. Barangkali aku bisa memberitahumu betapa lugunya aku dulu, pernah sangat menyukaimu. Mungkin kamu akan terbahak sambil meledekku.

Dan aku akan berkilah, bahwa perasaanku dahulu hanyalah sebuah kekhilafan.