Pagi-pagiku terasa terasa lucu setiap kali berada di kantor. Ada salah seorang office boy yang selalu menjadi pusat perhatianku. Dia adalah Amin. Ia sangat gesit dalam membersihkan ruangan, mengepel, mengelap meja-meja semua ia lakukan dengan ceria disertai sedikit tarian yang membuat perutku terkocok menahan tawa. Herannya, tak ada satu pun barang yang terjatuh atau terpecah ketika ia melakukan gerakan bersih-bersih yang sangat gesit dan luwes itu.

Pertanyaan di benakku hanya satu. “Mengapa ia mengerjakan pekerjaannya dengan sangat gesit. Meskipun selalu ceria dalam mengerjakan tugasnya sebagai seorang office boy, namun dibenakku, ada sesuatu hal yang melatar belakangi ia melakukan hal yang terkesan terburu-buru itu. Tetapi aku tidak mau menyelidiki lebih dalam tentang hal yang melatar belakangi kelakuannya tersebut.

Aku sudah terlalu sibuk dengan pekerjaanku sendiri. Ia hanya seorang office boy. Apapun yang melatar belakanginya melakukan hal tersebut, itu adalah urusannya. Selama ia masih membersihkan ruanganku dengan bersih sebagaimana mestinya, aku akan terima-terima saja, lagi pula tingkahnya jadi humor bagiku. Gaya Amin dalam melakukan pekerjaannya sangat menghibur namun bukan berarti semua orang senang dengan tingkah lakunya yang gesit dan ceria itu. Ada salah seorang karyawan pernah membentaknya.

“HEY! Kau tak boleh liar-liar begitu!” kata seorang karyawan jengkel.
Amin langsung terpatung dan mati gaya. Kebetulan waktu itu Bos lewat dan menyaksikan kejadian tersebut.
“Bukankah ia membersihkan dengan sangat bersih.” Kata si Bos.
Karyawan itu terkejut mendengar suara dari arah belakangnya. Dugaannya benar. Itu suara si Bos. Karyawan itu langsung tertunduk diam dan mati kutu.
“Sudah lanjutkan pekerjaan kalian.” Si Bos mengakhiri kejadian memarahi itu.
Mereka pun kembali melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing.

***

Advertisement

Aku sedang browsing-browsing waktu itu, kebetulan pekerjaanku sudah selesai semua. Aku mencari film-film terbaru yang akan rilis pada bulan depan. Aku mengklik salah satu film berjudul ‘Tuhan Izinkan Aku.' Aku mulai membaca sinopsisnya.

Sinopsis
Satu lagi film yang diadaptasi dari Novel bestseller karya Amin Amrulloh dengan judul yang sama akan menghiasi bioskop Indonesia pada bulan Agustus. Film ini bercerita tentang ….”
Aku selesai membaca rincian sinopsisnya. Akan tetapi, ada salah satu nama pada sinopsis tersebut yang membuat otakku terusik. Nama ‘Amin Amrulloh’ sama dengan nama salah seorang office boy yang bekerja di kantor ini. “Mungkinkah dia?”
Aku segera mencari tahu. Aku masukkan kata kunci ‘Amin Amrulloh pengarang novel Tuhan Izinkan Aku’ pada kotak pencarian google kemudian ‘search’.
Pada salah satu artikel, aku mendapat penjelasan. “Amin Amrulloh adalah pengarang buku bestseller berjudul TUHAN IZINKAN AKU. Dia bekerja sebagai seorang office boy namun tidak menyurutkan niatnya untuk menulis novel….” Artikel itu cukup panjang dan di akhir website terpampang foto Amin. “Ya benar. Itu foto Amin office boy di kantor ini.”

Aku memverifikasi langsung kebenaran artikel tersebut dengan berkunjung ke ruangan office boy. Amin sedang sibuk mengetik dipojokan terasing dari teman-temannya yang terlihat sedang bersantai ria. Aku melangkahkan kaki menuju ke arahnya. Ia terperanjat melihat kedatanganku.

“Tidak apa-apa,” kataku sebelum tangannya bergerak menutup laptopnya. “Lanjutkan saja. Aku cuma ingin duduk-duduk di sini. Sambil ingin menanyakan beberapa pertanyaan ke kamu.”
“Apa yang bapak ingin tanyakan ke saya?”
“Novel ‘Tuhan Izinkan Aku’, benar penulisnya kamu?”
“Saya kira di kantor ini tidak ada yang mengetahui bahwa saya menulis novel. Ya, itu memang karya saya, Pak. Apa bapak pernah membacanya?”
“Oh, tidak. Aku gak sengaja lihat tadi di internet. Mau diadaptasi jadi film, ya?”
“Ya, benar, Pak. Bulan depan rilis filmnya.”
“Novel ini kan bestseller. Terus diangkat juga ke film. Pasti royalti yang kamu terima juga besar. Tapi kenapa kamu masih bekerja sebagai seorang office boy?”
“Saya senang bekerja di sini. Lagi pula sulit untuk saya meninggalkan masa-masa sulit, Pak,” tegas Amin.
“Kenapa begitu?”
“Bagi saya, masa sulit adalah sebuah pondasi dari sebuah bangunan besar keberhasilan. Masa sulit inilah inti dari suatu perjalanan hidup, keikhlasan dalam menjalani proses yang berbuah keberhasilan. Masa ini yang membuat saya bersemangat mencari uang dan yang juga membuat saya menangis bersimpuh berdoa meminta belas kasih Tuhan.

Teman dan Saudara pada masa sulit adalah sebenar-benarnya teman dan saudara. Sulit meninggalkan masa ini meskipun toh juga aku tetap harus berpindah.”
“Ada sisi yang tidak pernah aku ketahui dari seorang Amin,” pikirku.
Amin kembali berbicara. “Semoga nanti sesudah aku berpindah. Semoga hati dan perilaku tetap di masa ini. Ini masa yang mulia, Pak.” Ungkapnya.
“Ya, terkadang masa yang orang pikir hina adalah masa yang sangat luar biasa bagi orang mencermati kehidupan.” Aku meneguhkan gagasannya.
Amin mengangguk membenarkan. “Bulan depan mungkin aku sudah tidak bekerja di sini lagi. Ada tawaran sebagai penari breakdance untukku.”
“Oh, jadi kamu memang benar-benar bisa menari?”
“Dua minggu sekali, aku selalu berlatih breakdance bersama komunitas breakdance.”
Aku menggangguk paham. “Raihlah keberhasilan itu, Min. Banggakan orang tuamu.”
Ia mengiyakan perkataanku, terlihat raut haru di matanya.
“Semoga kamu menjadi tetap biijaksana dan rendah diri. Karena kau sudah terbukti dengan tempaan masa sulit. Tidak lama lagi, kau akan belajar mengendalikan diri dari euforia masa jaya yang mencoba meliuk-liukkan pemiliknya. Aku harap kamu yang berhasil meliukkannya, bukan kamu yang diliukkan olehnya.”

Aku pun pergi dari ruangan itu.