Kawan, aku mau bercerita, pun kau tak pernah meminta, tak apa ya?

Pagi ini, aku duduk di atas kasur, mengeluarkan sepasang kaos kaki dari laci almari, bersiap untuk segera memakainya. Aku sudah terbiasa memakai kaos kaki sejak aku menginjak sekolah menengah atas. Sejak aku memahami, bahwa aurat perempuan muslim itu seluruh anggota badan dari ujung kuku hingga ujung rambut, kecuali telapak tangan dan muka.

Maka pagi ini, aku memilih memakai kaos kaki warna putih alas warna hitam, warna netral. Sengaja aku sesuaikan dengan aktivitas kuliah seharian ini, yang akan penuh dengan aktivitas akademis dan organisatoris yang tentunya menuntut mobilitas untuk singgah ke banyak tempat. Warna alas kaos kaki yang hitam memberikan rasa nyaman, karena jika debu hinggap ia tak akan terlihat kotor bukan? Karena kita sepakat, kotor itu representasi dari kata sifat yang buruk, maka wajar jika kita kemudian memiliki kecenderungan untuk menyembunyikan apa-apa yang kita anggap buruk.

Karena terbiasa, ada rasa tak nyaman ketika aku tak memakai kaos kaki. Aku pernah berpikir, mungkin ada masanya kaos kaki-kaos kaki yang tergulung di laci almariku akan menjadi saksi kemana saja kakiku melangkah. Setidaknya saat ini, ia akan menjadi reminder, bahwa suatu kali kita pernah berjalan tertatih, terseok, hampir jatuh, atau bahkan benar-benar jatuh.

Suatu kali, mungkin kita juga pernah berjalan di atas jalan yang permukaannya kasar, sehingga tak boleh terlalu cepat berjalan, jangan juga berlari, karena kecepatan akan memperbesar gesekan, bisa jadi kaos kakimu akan robek nantinya. Kali lain, kita juga pernah berjalan di atas jalan yang licin, maka kehati-hatian adalah prioritas utama, karena sekali kita lengah, kita bisa tergelincir dan jatuh berdebam. Aku tersenyum kecil, menyadari betapa situasi yang sedang kita hadapi, akan sangat menentukan cara kita membuat penyikapan.

Advertisement

Benar apa kata ibu dulu, setiap peristiwa yang Tuhan hadirkan dalam hidup kita akan menjadi bahan pelajaran bagi kita, agar ke depannya kita bisa menjadi pribadi yang lebih arif dan bijaksana. Maka pada sepasang kaos kaki yang kini masih tergenggam di tangan, aku mengatakan:

“Terima kasih telah membersamai tapak-tapak yang sedang dalam perjalanan, sedang dalam perjuangan atau justru sedang dalam pertempuran. Kelak, kau akan menjadi saksi bahwa di antara tapak-tapak yang memilih berhenti menorehkan jejak, masih banyak yang memilih melanjutkan langkah, menepis lelah dan gelisah untuk tujuan-tujuan besar yang tak bisa jika sekadar dirumuskan tanpa ada konkretisasi gerakan”.