Senja ini kulihat lagi sesosok bayangan dalam kelopak mata. Merasakan kembali hadirnya kerinduan tanpa sebuah kepastian. Menanti dan menanti lagi. Mentari itu telah kembali ke hirabaannya.

Sekilas aku teringat kejadian tiap pagi, tiap siang, bahkan tiap menit yang ku lalui. Aku yang duduk termenung sendiri disini tak lebih dari seorang lelaki muda yang tak mengerti apa artinya sebuah janji dari sesosok wanita yang bahkan tak ku kenal namanya. Layaknya lelaki cilik yang di beri permen, habis, lalu menangis. Aku merenung, sendiri. Sosok kecil ini tak akan berarti di luasnya bentangan ke-biruan-Mu.

Biru.

Itulah sosok yang akhir-akhir ini mengusikku. Biru yang membuatku resah dalam menjalani hari. Biru yang membuatku semangat menelusuri detik demi detik untuk tiba di senja. Biru yang membuat perbedaan rasa mengusik dalam sanubari. Biru yang tak ku kenal namanya.

Biru yang selalu hadir di senjaku tiap aku bersinggah ke tempat ini. Biru yang membuat sengketa antara hatiku dan hati sesosok wanita yang telah sekian lama bersamaku.

Advertisement

Aku tak mengerti. Aku tak sanggup lagi bagaimana aku jalani kehidupan muak ini. Hukum alam yang aku dapatkan setelah aku durhakai kedua orangtuaku.

Aku lelah.

Ditambah lagi sifat atasanku dalam bekerja layaknya anjing kelaparan yang menanti tulang-tulang sepertiku dan selalu menjadi objek kebiadabannya saat ia melakukan kesalahan dan dimaki-maki oleh atasannya. Juga masalah dalam rumah tanggaku setelah sekian lama kami terikat dalam janji sehidup senyawa semati sesurga maupun seneraka, aku belum mendapatkan keturunan selama sewindu menikah.

Belum lagi hukum jalanan yang membuatku harus bekerja keras tanpa bayaran, tanpa mereka tahu bagaimana kerasnya hidup yang ku jalani. Kehidupan sosial yang mengekangku ini semakin menjeratku dalam permasalahan bertubi-tubi. Satu lagi, tikus-tikus Senayan yang selalu berlindung di bawah keju hijaunya itu membuatku semakin muak dan ingin sekali menjejali mereka dengan rodentisida.

Tugasku yang hampir setiap hari harus menyoroti kehidupan mereka, tanpa mereka mengerti dan mempunyai belas kasih kepada orang-orang sepertiku, seperti kamu, seperti kita. Tiap pagi aku harus selalu menunggui mereka untuk mendapatkan keju-keju hangat produksi mereka tanpa aku tahu apa maksud dari setiap keju yang mereka hasilkan. Itulah tugasku. Mencairkan keju dengan semangat membaraku di terik siang dengan panasnya sinar mentari yang membuat kulitku sedikit terkelupas.

Dan pada dasarnya kulit-kulitku ini adalah korban dari hasil produksi mereka.

Sorenya, aku sarankan keju-keju buatan mereka untuk atasanku agar mencicipinya. Dan dia selalu menyukai lelehan keju yang mengorbankan kulitku ini, bahkan nyawaku. Hingga akhirnya suatu pagi mereka di luar sanapun menerima hasil produksi Tikus-Tikus itu, yang tentunya telah ku olah kembali.

Entah apa tanggapan mereka, yang terpenting aku telah melaksanakan tugasku agar terlepas dari gonggongan-gonggongan atasanku. Selalu aku sempatkan, dalam setiap kesibukanku, aku kunjungi tempat mesra ini. Tempat satu-satunya yang mampu membuatku tenang dan merenungi kehidupan.

Tempat dimana aku mendapatkan kehangatan dari Biru. Biru yang menghantuiku, tanpa pernah ia berucap, bergerak, namun senyumnya selalu meluluhkan hatiku, hati yang telah disinggahi sosok lain, namun Biru selalu berusaha untuk memasuki dan menggerogotinya. Tanpa pernah ia berucap, namun seakan-akan ia selalu menantiku di tempat ini, di setiap senja. Terbaring dan ku pejamkan mata, ku rasakan Biru semakin memasuki tubuhku, menjadi satu tanpa sekat, batas, maupun sehelai rambut pemisah. Biru yang mencoba keras untuk menjadi satu tubuhku.

Aku dan Biru menyatu. “Hah..!!”