Halo. Aku sedang mendengarkan lagu favoritmu lagi. Sepertinya pepatah ‘Lagu kenangan setitik, rusak move on sebelanga’ itu benar ya? Terimakasih lagi dan lagi. Aku banyak belajar lagi darimu. Bahwa kita harus menghidupkan mimpi kita sendiri untuk mengidupkan mimpi orang lain adalah satu dari sekian banyak hal yang kupelajari darimu.

Belakangan ini aku sering memperhatikan playlist di telepon genggamku. Lalu aku tersenyum. Betapa kecil namun berarti perubahan yang ada padaku sejak kau datang di hidupku. Lalu aku mulai memperhatikan lagi tingkahku yang lain. Betapa aku sangat ingin menjaga agar aku tak terlihat lemah olehmu. Betapa sebenarnya, untuk membuat orang lain paham akan makna sebenarnya dari bangun, kita harus merasakan jatuh dulu. Namun ini hanya opiniku. Sekilas saja. Sudah jangan mengajakku bertengkar untuk membuktikan kebenarannya.

Adakah yang lebih baik dari sinar matahari yang perlahan menyusup di balik rerimbunan? Kau pilih mana? Kala ia muncul atau saat ia tenggelam? Jangan tanya aku karena aku dulu yang menanyaimu. Akan tetapi apabila kau menanyakan pendapatku, aku hanya akan duduk dan menikmati keduanya. Tak masalah bagiku mengenai sinarnya yang kuning malu-malu atau merah bijaksana. Bagiku keduanya tetap indah. Tergantung bagaimana kau menikmatinya saja. Tapi lagi lagi ini opiniku.

Hai. Lagu favoritmu sudah ketiga kalinya berputar di telingaku. Ini bulan keempat. Setelah bulan ini aku sedikit ragu. Apakah aku akan berhasil? Atau hanya kembali mempermainkan perasaanku? Ketika lagu favoritmu masih menjadi lagu favoritku, apakah itu pertanda buruk? Haruskah aku mulai mengganti namamu menjadi sumber bencana?

Setelah bulan yang aku ragukan itu, datanglah bulanmu. Dimana aku harus sudah melupakanmu dan membuang jauh-jauh segala ingatan yang membuatku menyedih padamu. Oya, kudengar kini kau tak lagi sendiri. Ah syukurlah. Semoga ini pertanda baik. Sungguh. Melihatmu sembuh dan jatuh dengan perempuan lain adalah obat dan racun. Keduanya sama, tergantung bagaimana aku meminumnya. Jika berlebihan maka itu akan membunuhku.

Advertisement

Aku tak tahu lagi apa yang ingin kutulis. Apakah ini terlalu sulit untuk kau cerna? Apakah kau menemukan kesimpulannya? Ah sudahlah, aku hanya ingin coret-coret. Mengutarakan yang tak terutarakan saja. Yang tak terutarakan dan yang masih kurasa saja.

Sungguh. Terimakasih…