Pertemuan saya dengan seorang laki-laki paruh baya yang tenang dan sederhana tuturnya ini mengingatkan saya pada salah seorang laki-laki kesayangan saya.

Eyang, begitulah saya memanggilnya. Eyang adalah sebutan bagi beberapa keluarga di daerah asal saya untuk memanggil kakek. Eyang berpulang tepat 1 hari setelah saya berulang tahun. Pedihnya terasa hingga berlarut-larut, tapi kemudian saya bersyukur juga. Eyang masih baik karena saya boleh punya satu hari gembira untuk mengulang hari kelahiran saya.

Tak terasa telah belasan tahun yang lalu Eyang berpulang ke hadapan Sang Narendra.

Kadang saya suka ingat Eyang kalau sedang berdoa atau kalau sedang jalan-jalan lalu melihat bapak-bapak paruh baya.

“Eyang….” saya bergumam dalam hati sambil tersenyum rindu.

Advertisement

Beliau memanggil dengan sebutan nduk (semacam panggilan sayang orang tua ke anak perempuan).

Suatu pagi Eyang bersiap dengan segala atribut persawahannya dan celana pendek favoritnya untuk pergi ke sawah, “Ayo ikut Eyang ngarit.” (dalam bahasa Indonesia artinya pergi ke ladang /sawah untuk memotong rumput. "Ngarit" Berasal dari kata Ngaturkan Wirid yakni menghaturkan puji syukur kepada Tuhan)

Dengan senang hati aku beranjak dari depan televisi dan buru-buru ikut pergi. Terbayang kan senangnya main air di sungai dan main lumpur? Kesenangan itu terbayang di kepalaku. Bertahun tinggal di hiruk-pikuk suasana kota buatku lupa juga kalau rupanya banyak hal menyenangkan di desa.

“Sudah, Eyang istirahat saja nanti lelah.” Kata Ibu berusaha menghentikan langkah Ayahnya. Tetap saja Eyang tak gentar melancarkan niatnya untuk pergi ke sawah. Sambil menggandeng tangan saya lalu kita pergi ke sawah.

Baginya sawah adalah tempat yang menyenangkan, apalagi kalau sudah duduk di gubug sambil ngeteh tubruk nan legit. Eyang tetap suka ke sawah meski bekerja pada pagi harinya dan meski sudah ada orang yang harus mengurusi sawahnya. Eyang tetaplah sosok yang rendah hati.

“Olahraga”, begitu katanya. Sambil tersenyum hingga matanya hanya terlihat satu garis saja, hingga gurat-guratan di sekitar matanya terlihat jelas.

Pernah di suatu sore kami berjalan menyusuri gang-gang sempit di suatu pemukiman. Kemudian Eyang bertanya, “mau itu nduk?” Sambil memandang ke suatu gerobak kecil milik pedagang jajanan anak-anak.

“Enggak Eyang, nanti Ibu marah kalau beli makanan warna-warni itu, katanya kotor.” Dengan polosnya kata-kata itu terucap.

Sembari berjalan menghampiri gerobak eyang berkata, “Nanti eyang yang bilang Ibumu, pilih saja mau apa.” Sambil berjongkok berusaha menyamai tinggi badan saya, Eyang tersenyum menatap.

Disitulah pertama kalinya saya berhasil makan-makanan yang sebelumnya saya dan Ibu anggap itu kotor. Nyatanya itu enak dan perutku baik-baik saja. Pulangnya saya digendong terus seperti biasa dikasih cerita soal silsilah kerajaan-kerajaan di Yogyakarta. Sejak saat itu juga mungkin saya tergila-gila pada buku-buku yang berbau sejarah bahkan sampai hari ini. Begitu banyak kisah yang rupanya berbuah banyak untuk saya hingga hari ini.

Lain lagi yang lucu, waktu Eyang, saya dan ayah boncengan bertiga naik vespa biru. Saya naik di depan dan Ayah mbonceng di belakang. Sesampainya di TKP saya dan Eyang kaget bukan kepalang.

“Lho Bapakmu tadi enggak jadi ikut to nduk?” Kami berdua sama-sama bingung. Kami memutuskan pulang lagi ke rumah.

Sesampainya di rumah kami ditertawai seisi rumah karena Eyang lupa menunggu Ayah yang niatnya ikut mbonceng di belakang. Sontak saya dan Eyang juga ikut tertawa karena Ayah ketinggalan, malahan kami tidak jadi pergi lagi.

Pernah juga suatu ketika saya meronta dan merengek sepanjang hari karena enggan ditinggal pulang oleh asisten rumah tangga yang merawat saya belasan tahun lamanya. Saya hanya bisa menangis di pangkuan Eyang hingga lelah lalu terlelap.

Sekian dulu ya nostalgianya.

“Sudah, Eyang istirahat saja nanti lelah.”

Kali ini saya mengulangi kata-kata Ibu sebelum meninggalkan pusara Eyang.

Selamat jalan Eyang, doa menyertaimu selalu.