Aku tahu pengorbananmu. Kamu sudah berusaha ada dan bertahan di sini untukku. Aku sangat bahagia kamu ada di sini. Aku bisa bersamamu menjalani hari-hariku, menghabiskan banyak waktu bersamamu. Selama ini aku selalu berusaha untuk berada di sisimu, suka atau tidak suka, dihargai atau tidak, aku tetap hadir untukmu.

Kamu yang mengatakan bahwa alasanmu berada disini adalah aku. Antara senang atau tidak, mendengar alasan itu aku bagai disuguhi buah simalakama. Aku sangat bahagia karena kamu tetap disini untukku, namun disisi lain aku sedih melihat apa yang harus kamu lalui untuk tetap bertahan disini. Tidak ada orang yang tega melihat orang yang ia cintai menderita.

Apapun alasannya, bagaimanapun caranya, ia hanya ingin melihat orang yang ia cintai tersenyum bahagia. Begitu juga aku, aku selalu berusaha membuatmu tersenyum bagaimanapun caranya.

Aku mulai berpikir dari sisi dirimu, apa yang kamu butuhkan, dan apa yang seharusnya kamu raih. Aku tidak tau apa yang akan terjadi kepada dirimu kedepannya. Otakku tidak mampu lagi untuk memikirkan hal itu. Aku sadar harus melakukan sesuatu untukmu, sesuatu yang akan membuatmu sadar akan apa yang harus kamu kejar. Aku berusaha memikirkan cara agar hidupmu lebih baik dari sekarang.

Di sini aku sama sekali tidak memikirkan diriku, aku tidak lagi berpikir untuk kebahagiaanku, bahkan perasaanku harus rela menjadi korban. Yang menjadi fokusku saat itu adalah kamu, bagaimana kamu nanti, akan seperti apa kamu, dan bagaimana kamu akan meraih masa depanmu.

Advertisement

Akhirnya aku menemukan cara untuk menghentikan semua ini. Aku memilih untuk mengakhiri hubungan kita. Tapi bagaimana caranya? Bagaimana mungkin aku memutuskan hubungan dengan orang yang sangat aku cintai? Bagaimana mungkin aku harus melepaskanmu sementara aku belum siap kehilanganmu? Semua ini tidak mudah, tapi aku harus melakukannya. Memutuskanmu secara tiba-tiba itu sangat tidak mungkin, aku harus punya alasan untuk itu.

Suatu ketika aku menemukan satu kesalahanmu yang mungkin bisa ku jadikan alasan untuk mengakhiri hubungan kita. Selama ini kamu memang sering melakukan kesalahan, tapi aku selalu memafkanmu. Aku bahkan lebih sering mengalah dan meminta maaf terlebih dahulu saat ada pertengkaran diantara kita. Tapi untuk kali ini aku harus menyalahkanmu, aku harus memulai pertengkaran denganmu.

Hingga akhirnya kata putus itu terucap olehku, dan saat itu bukannya aku tidak mau mendengarkan penjelasanmu, aku harus tetap pada tujuanku untuk mengakhiri hubungan kita. Saat mendengar kata-kata itu kamu hanya terdiam, namun akhirnya kamu bisa menerima keputusanku. Aku sengaja untuk memutuskanmu lewat telepon, aku tidak akan sanggup untuk melakuknnya secara langsung dihadapanmu.

Setelah malam itu semuanya berubah, aku tidak lagi tau kabarmu. Kita yang selama ini sering menghabiskan waktu bersama, kini sudah tidak pernah bertemu. Aku berharap setelah hubungan kita berakhir kamu akan lebih fokus untuk masa depanmu. Jika alasanmu untuk tetap berada di kota ini sudah tidak ada, kamu bisa kembali ke kotamu, mungkin semuanya akan lebih baik jika seperti itu.

Kembalilah ke kehidupanmu yang semula, jangan bertahan disini dengan semua masalah yang ada. Aku tidak ingin melihatmu tersiksa, ku harap kamu bisa mengerti kalau semua yang aku lakukan ini demi kebaikanmu.

Aku terpaksa mengorbankan perasaanku, aku juga mungkin telah menyakitimu dengan keputusanku. Mungkin kamu mengira aku seperti itu karena aku cemburu saat kamu memberi perhatian ke wanita lain. Iya aku memang cemburu, dan aku sangat kecewa waktu aku tau kamu seperti itu, tapi kesalahanmu itu tidak akan menjadi alasan utamaku untuk mengakhiri hubungan kita.

Alasanku adalah kamu, masa depanmu, dan kebahagiaanmu yang mungkin akan lebih baik jika kita tidak bersama lagi. Maafkan aku, mungkin caraku ini salah. Tapi aku tidak tau harus berbuat apa lagi. Semoga memang ini yang terbaik untuk semuanya, terima kasih sudah pernah berjuang bersamaku.

Harus kamu tau bahwa sesungguhnya aku tidak pernah meragukan kesetianmu. Jika hubungan kita harus berakhir, itu bukan karena adanya orang ketiga. Keadaan yang memaksaku untuk pergi dari kehidupanmu. Kini aku harus merelakanmu, namun bukan berarti aku akan berhenti mencintaimu. Ijinkan aku memelukmu dalam doa, semoga hidupmu selalu bahagia.