Semalam, kala lelah datang menghampiri karena kesibukan akan tugas kantor yang menumpuk membuatku tidur lebih awal. Seperti malam biasanya, aku tertidur ditemani bantal dan kasur yang siap menopang tubuh dan angin yang berhembus kencang lewat desiran AC. Bintang yang katanya sinarnya terang benderang tak terlihat, bahkan Sang bulan yang malam itu tak Nampak, tersapu mendung, tapi tak ku peduklikan.

Lelahku mengantarkanku pada tidur yang lelap. Malam ini seperti malam biasanya, tak ada yang special. Tapi Tanpa kusadari ada hal yang berbeda ketika aku telah tertidur. aku bermimpi pada sosok dirimu yang dahulu pernah mengisi ruang kalbu. Bukankah Aku sudah melupakanmu, bahkan aku sangat membencimu. Dan sekali lagi ku katakan, tak pernah ada sedikitpun celah dihatiku tersimpan namamu. Tapi mengapa kau hadir kembali dalam mimpi bagai duri yang menusuk bersama hembusan angin hingga kedasar hati.

Mau apalagi kau hadir kembali? Belom puaskah kau telah menyakiti?

Dalam mimpi, aku merasakan benci yang sangat hebat pada dirimu, tak kelak kata-kata kasar pun terlontar olehku. Sadar tak sadar air mata jatuh dipelupuk mata kedalam sanubari, karena sakit yang luar biasa kau beri. Omelan, caci maki saja yang aku rasakan semalaman itu. hingga suara adzan membangunkanku dari mimpi buruk malam itu.

Dengarlah suara hati kecilku, kala pagi menyadarkan lamunanku..

Advertisement

Pagi ini sangat cerah, walau awan mendung masih menyelimuti. Tapi harus kau tahu untukmu yang pernah mengisi hati, jangankan ingin kau hadir kembali disisi bahkan tak ingin rasanya kau hadir walau dimimpi. Ini bukan karena salah hati, tapi kau yang telah nodai cinta tulus yang kuberi. Tulisan ini kubuat ditemani hangat dari seduhan kopi dan dariku yang pernah mencintai sedalam ini tapi kau balas dengan cara mengkhianati.