Siapa yang tidak mengenal salah satu tempat hiburan Dunia Fantasi atau Dufan? Semua orang saya kira tahu tentang tempat ini. Beberapa bulan yang lalu saya bersama 4 orang teman saya dan kami semua perempuan, pergi berlibur ke Dufan. Kami menggunakan transportasi umum, dengan penuh niat kami berangkat pagi agar tidak terlalu siang untuk sampai di tempat tujuan kami.

Tapi dengan kesibukan dan kemacetan ibu kota Jakarta, kami tetap saja sampai pada siang hari. Karena kami berangkat dari Bandung, pertama-tama kami naik salah satu bis tujuan Jakarta. Sampailah kami di Jakarta dan langsung naik Trans jakarta menuju ke Ancol, namun tidak hanya sampai di situ saja. Kami masih harus transit di beberapa halte Trans jakarta untuk menaiki beberapa Bus tujuan Ancol.

Transit pertama tidak ada kendala sama sekali, namun ketika transit ke dua kami dipaksa menunggu Bus sekitar kurang lebih mungkin ada satu setengah jam kami menunggu Bus datang dan di situ penumpang telah menumpuk. Setelah menunggu cukup lama dan kami pun harus berdiri di dalam Bus yang sangat berdesak-desakan, kami pun sampai di Dufan.

Sesampainya di Dufan seperti biasa kami langsung menjajal semua wahana permainan yang ada di sana. Karena melihat waktu yang sangat mepet, kami tak henti untuk menikmati semua wahana permainan bahkan kami menyempatkan untuk makan di atas wahana yang sedang kami naiki.

Yang membuat kami agak sedikit kesal adalah wahana yang ingin kita kunjungi malah selalu penuh dengan antrian panjang, sedangkan waktu yang kami miliki tidak banyak karena kami sampai pada siang hari dan harus kembali sebelum malam. Akhirnya kami memilih permainan yang tidak terlalu banyak mengantri.

Advertisement

Jujur saya memang tidak terlalu kuat dan berani untuk menjajal semua wahana permainan yang ada di Dufan. Seperti tornado, roler coaster, dan yang lainnya itu saya tidak berani untuk mencoba. Waktu telah menunjukkan pukul setengah enam sore, namun kami masih dibuat penasaran dengan permainan arum jeram. Saat itu antriannya cukup panjang tapi kami mencoba untuk ikut mengantri.

Setelah mengantri cukup lama, akhirnya kami mendapatkan giliran untuk wahan tersebut. Ketika baru duduk di dalam boat, sepatu dan celana kami sudah basah. Padahal wahana itu belum mulai melaju, setelah melaju makinlah baju, tas, sepatu kami basah semua. Bodohnya kami tidak ada yang membawa pakaian ganti sama sekali.

Ketika itu langit sudah gelap dan wahana permainan akan segera tutup. Hal yang kami lakukan hanya mencoba untuk mengeringkan pakaian kami dengan tangan saja. Karena sudah ada pemberitahuan akan ditutup, terpaksa kami keluar dengan basah kuyup.

Kami saat itu memutuskan untuk langsung pulang ke Bandung, dan malam-malam kami harus menaiki angkot sebelum sampai terminal. Masalah yang kami hadapi hanya pakaian basah, kami menaiki bis tujuan Bandung dan kebetulan bis itu AC.

Di tengah-tengah perjalanan tiba-tiba kami semua menggigil kedinginan dan tak ada baju kering untuk menyelimuti kami. Sebisa mungkin kami menahan rasa dingin yang ada dan cukup lama kami menggigil kedinginan dalam bis selama perjalanan Jakarta-Bandung.

Sesampainya di Bandung, turun dari bis kami tidak bisa berjalan dengan normal karena kami masih kedinginan dan menggigil. Lalu kami memutuskan untuk singgah di salah satu kedai dan memesan minuman hangat untuk menghangatkan tubuh kami.

Setelah minum minuman hangat rasa dingin yang ada cukup sedikit terobati. Salah satu teman saya berkata "masih untung kita ga kena hipotermia". Jadi saya sarankan kalau berlibur membawa baju ganti karena itu sangat diperlukan.