Sudah 2 tahun berlalu, tapi perasaan bersalah ini masih terus menggangguku. Mungkin memang kamu benar bahwa ada beberapa luka yang tak pernah bisa sembuh bahkan oleh waktu, begitu juga dengan perasaan bersalah ini. Iya, aku memang yang salah. Ketika itu aku hanya berpegang pada kata-kata bijak yang mengatakan bahwa cara penyelesaian yang elegan adalah dengan berkomunikasi.

Aku melupakan kalau ada cara yang lebih bernilai emas yaitu diam. Tapi aku tidak bisa tinggal diam ketika itu. Aku sengaja mendatangimu meskipun aku tidak mengenalmu sama sekali dan aku juga tau kalau kalian sudah tidak ada hubungan lagi. Tidak ada maksud lain, ketika itu aku hanya ingin membantu kalian berdamai kembali dengan segala keikhlasan.

Mungkin memang caraku menyampaikan yang salah hingga kamu menganggap kedatanganku hanya mengorek luka lama. Sungguh aku minta maaf. Aku tau kata maaf tidak akan merubah segalanya menjadi baik kembali, tapi dengan ketulusan permohonan maafku yang tulus aku harap kamu dapat menerimanya.

Untukmu yang pernah terluka olehku,

Mungkin kamu benar bahwa melupakan tidak semudah menggantikan. Aku juga tidak sedang memintamu untuk melupakannya. Tapi bukankah memaafkan adalah penyembuhan? Jika waktu tak bisa menyembuhkan lukamu biarkan maaf yang menyembuhkan lukamu. Maafkanlah aku, aku juga ingin berdamai dan bebas dari bayang-bayang masa lalu.

Advertisement

Dan kini yang aku tau memaafkan lebih mudah daripada meminta maaf. Dan memaafkan orang lain lebih mudah daripada memaafkan diri sendiri.

Aku tau kamu tidak bisa memaafkanku, karena luka itu tenyata lebih suka berteman dengan perasaan benci. Bagaimana kamu akan memaafkan jika teringat tentangku saja membuatmu benci? Tapi tidak mengapa, aku tidak akan membalasnya dengan benci pula. Aku telah berdamai dengan perasaanku sendiri sehingga tidak ada lagi prasangka buruk dalam hatiku.

Melihatmu tertawa bahagia dengan menganggap masa lalu telah mati dan menguburnya itu sudah cukup membuatku turut bahagia. "RIP MANTAN " yang kamu tuliskan cukup untuk menjawab segala prasangkaku.

Sekali lagi maaf dan semoga kamu bahagia tanpa dihantui masa lalu yang sudah mati. Sungguh aku sedang tidak melebih-lebihkan, aku ingin melihat kamu bahagia.