Hati terlintas seketika wajahmu yang kini telah jauh. Entah kenapa engkau selalu hadir dalam tiap mimpi-mimpiku pada malam? Siapa kamu? Dimana letak hatimu? Dan dimana engkau meratapi duniamu saat ini?

Rindu tak mungkin terobati kembali, hati tak mungkin terikat lagi. Aku tak berharap lebih padamu, aku hanya bertarap pada Tuhan agar menjadi pasangan yang terbaik. Entah itu masing-masing atau bersatu kembali. Cinta adalah kepastian tanpa harapan. Cinta bukanlah luka, namun kehidupan. Biarkan aku mengadu nasib yang tak tahu dimana dan bagaimana keadaaanya. Aku bukan seorang wanita yang tangguh dan mudah tertawa apa yang aku dapatkan hari ini. Aku begitu kuat namun hatiku rapuh. Ingatlah, ini bukan drama musikal yang mudah kau tonton dan kau dengar lalu pergi. Aku adalah singgasana yang pernah ada dalam duniamu walau bukan dihatimu.

Entah kenapa fikirku selalu tentangmu? Entah kenapa jagoan hatiku selalu tertuju padamu? Luka, dimanakah engkau berada? Aku berharap engkau menjauh dariku, bahkan sejauh-jauhnya engkau dari hidupku. Aku disini menunggu bahagia bersamanya, bukan harapan yang kosong namun berteriak histeris seakan ingin menyapa, menghubungi, menerangkan, membasuh wajah-wajah sendu, dan terbuai dalam lautan hati yang fakum hingga diam membeku dalam lidah-lidah cinta.

“Apakah kamu merindukan aku?”, aku menatapmu sambil menyentuh pipi halusmu.

“Yeah.. aku merindukanmu, bahkan sangat, sangat merindukanmu.” katamu dengan tegas.

Aku beranjak dan sulit menyangkal dipagi itu, ternyata hanya mimpi. Benarkah kita bercakap pada malam itu? Benarkah kita saling merindukan dalam mimpi tersebut? Tuhan masih mengijinkan aku bertemu walau hanya sebatas mimpi. Tuhan masih mengijinkan ia mengucapkan rindu padaku walau hanya sebatas angan-angan yang penuh kekosongan. Namun keyakinan ini tulus, itu nyata. Namun hanya angin yang bercakap. Tapi, aku tetap merasa keyakinan ini terus ada, keseteruan ini terus merajai jiwa-jiwa yang kini banyak harapan pada Tuhan. Tak memperdulikan ini luka, ataupun air mata. Yang terpenting aku tetap cinta, aku tetap merindukannya walau aku tahu itu tak mudah terobati.

Advertisement

Pergilah engkau dan carilah mimpimu, kebahagiaanmu serta apapun keadaanmu berilah kebahagiaan untuk orang-orang yang kamu sayang, walau bukan aku. Berharap Tuhan menjauhi aku denganmu, jika kita tak berjodoh. Jauhi aku terus, teruslah menjauh sampai kita tak lagi dipertemukan di dunia. Walau aku tahu itu sangat sulit, namun ini yang terbaik untuk jiwa-jiwa yang penuh harap, bukannya tak lagi mencintai, namun aku hanya ingin menghindari rasa sakit yang tak akan ada obatnya, yang sulit mencari dimana kesembuhannya, yang sulit aku mengerti berasal dari manakah rasa itu? Dari diriku sendirikah? Atau takdir Tuhankah?

Tenang, tenang teruslah hatiku. Sampai aku tak pernah mencari dimana kedamaian, dimana ketenangan, karena aku sudah memilikinya. Namun kenapa itu belum ada? Masih diambang sandiwara kepalsuan yang aku buat sendiri tanpa permanen, tanpa abadi dan kekal sehidup semati. Ketenangan ada dipihak yang masih aku ragukan, namun aku rasa itu bukan ketenangan hati, namun kebisuan yang tak dapat aku jawab seuntai katapun. Jawablah aku bukan mimpi indahmu? Jawablah aku bukan situasi bodohmu dan mudah kau manfaatkan begitu saja. Aku tahu engkau pria baik. Bahkan sebaik-baiknya engkau itulah yang aku nikmati saat ini, tunjukkanlah kebaikanmu, namun jangan kau tutupi karena semua orang akan melihatmu dengan rasa sakit dan seakan engkau melukainya, bukan membahagiakannya.

Tenanglah sayang, disepanjang perjalanan hidupku, karierku, duniaku itu masih ada kamu. Itu masih menunggu akan datangnya kamu, entah sampai kapan aku jenuh? Entah sampai kapan aku berakhir seperti ini? Biarlah waktu yang menjawab semua harapan, biar waktu yang menjawab semua impian, bahkan seakan ini adalah malapetaka hati yang terus saja membungkam perih sampai waktu yang menjawab apa kabarku hari ini? Dan apa kabarku hari esok?

Harapku, engkau tetap baik-baik saja di sana, dengan siapapun engkau menikah kelak, aku cukup mencintaimu dalam doa, aku cukup bersyukur engkau mendapatkan wanita yang lebih baik dariku. Jika jodoh kita akan bertemu dan dekat kembali seperti dulu, jika kita semakin jauh, maka itu bukti kita tak berjodoh didunia. Mungkin ini yang terbaik, karena sebaik-baik perpisahan adalah luka yang aku nikmati dengan baik. Jangan lagi memperdulikan perasaanku saat ini, karena aku dihadapmu sangat baik, jangan risaukan aku masih mencintaimu dan terlalu berharap, karena aku tidak seperti yang kau bayangkan. Aku kuat, aku bukan wanita lemah yang merengek lalu egois menginginkan engkau dengan paksaan.

Aku bukan pemeran dalam sinetron, aku seorang wanita lugu yang mudah kau beri peluang dan aku masuk, ketika aku masuk dalam duniamu, engkau mencari dunia lain. Terima kasih sayang, aku bukan mimpi indahmu, aku hanya puing-puing yang beterbangan diduniamu, jagalah sebaik-baiknya penjagaan hatimu utuk wanitamu, karena jika engkau tersakiti, aku lebih sakit dari yang kau rasakan. Tersenyumlah terus, sampai hatiku merasakan senyuman itu. Cintailah keluargamu seperti aku mencintaimu dengan tulus dan apa adanya. Ingatkah engkau, aku pernah mengatakan sesuatu :

“Dibalas atau tidak dibalas, aku tetap mencintaimu. Aku belajar memberi tanpa aku meminta kembali pemberianku padamu, akankah aku berkata, “Kembalikan cinta yang pernah aku berikan kepadamu, kembalikan air mata yang pernah aku tumpahkan untukmu?”

Tidak mungkin, apapun rasaku, apapun pemberianku, dan apapun pengorbanan yang pernah aku berikan, aku ikhlas. Karena sejauh apapun pengorbanan kita, tak ada yang namanya sia-sia. Ini kehidupan, bukan mimpi, yang dapat kita ambil sebelum kita lakukan. Walau aku ingin tahu kabarmu saat ini, aku tetap mendoakan senyuman terus ada dihati dan bibirmu, karena aku yakin, engkau pria terkuat yang pernah aku temui dari berbagai macam masalah yang kau hadapi, kamulah pahlawan hidup, entah itu pahlawan untuk dirimu sendiri, orang lain, atau aku?

Cinta itu tak mesti aku harus miliki, karena aku yakin, cinta adalah pemberian dari hati seseorang, bukan keterpaksaan jiwa yang kosong namun diisikan. Ini hati bukan botol minuman, yang ketika haus anda isi lalu meminumnya. Mendoakanmu adalah cara terbaik aku mencintaimu saat ini. Jika memang Tuhan tak mentakdirkan kita di dunia berjodoh, mungkin Tuhan mentakdirkan kita diakhirat kelak. Sesakit apapun engkau melukaiku, aku tetap menikmatinya. Karena aku menjadikan luka ini, adalah sahabatku.