Banyak hal yang aku pelajari saat kalian perlakukan aku semenah-menah waktu itu, aku menjadi wanita lebih baik, namun ada hal negatif juga karena hal itu, hingga orang tuaku memarahiku.

1. Ejekanmu Setiap Hari, Memang Berpengaruh Pada Kehidupanku.

Ingatkah.. saat kalian meremehkanku, saat kalian mengolok-olokku, memang sakit hati ini, tapi karena kalian, aku tak mudah pantang menyerah, menjadi orang yang lebih kuat, menjadi orang yang lebih sangat sabar..sabaaar tanpa mengenal batasnya. Hidup ini memang penuh warna, dan warna itu melengkapi hari-hariku, ini memang masa lalu, namun aku tak akan pernah lupa, karena ini adalah suatu energi kuat bagiku, untuk bangkit menghadapi terjalnya hidup ini.

2. Sebaik-baiknya Manusia, Tidak Ada Yang Lebih Baik Bagi Seorang Ibu Yang Melahirkan Ku.

Aku memang belum pernah merasakan menjadi ibu, tapi kebaikan ibu tidak ternilai harganya. Hanya ibu yang menjadi curahan hatiku, saat kalian membenciku. Sebaik-baiknya teman bagiku, tidak ada yang lebih baik dari seorang ibu, aku mengatakan ini karena aku merasakan ibu memang malaikat hidupku, tapi aku tak mengerti, mungkin diluar sana, banyak sekali orang yang membenci ibunya.

Kalian, bagaimana kabarnya,? mengapa kalian seperti menghilang dariku saat kalian tau kehidupanku saat ini, apa kegiatan kalian saat ini?, aku ingin juga sekali-kali bisa bertemu kalian, meskipun kalian dulu meremehkanku dan menganggapku tak ada.

3. Meskipun kalian tidak menyukaiku, alhamdulillah ternyata masih ada orang yang sayang kepadaku selain kasih sayang seorang ibu.

Keadan itu sungguh mempersulitku dalam melakukan hal apapun, tapi aku sangat bersyukur, masih ada orang yang menyayangiku, ya kalian bertiga, terimakasih buat kalian, aku tak bisa membalas kebaikan kalian, maafkan aku ya jika aku cuek saat kalian mengirim inbox padaku, aku tak bermaksud cuek, karena inboxmu bertepatan saat aku sedang sibuk, sesungguhnya, aku ingin bertemu kalian bertiga, ingin bernostalgia, merasakan saat kita masih belum punya kekasih hati, saat bermain bersama, pergi bersama, aku merindukan kalian teman.

4. Hal Terpuruk Karena Ini Adalah Saat Aku Tau Bahwa Aku Mendapat Nilai Terjelek Disekolahku.

Advertisement

Sungguh tanpa dugaan, mungkin karena keterpurukanku dan aku memikirkan hal ini, aku jadi tak fokus belajar. Ya ini memang hal yang memang tak boleh terulang lagi, karena kalian, aku jadi dapat hukuman orangtuaku waktu itu. Entah semangat dari siapa, aku bangkit karena keterpurukan ini, aku bangkit karena aku yakin, aku tidak boleh menyerah hanya karena kalian mengolokku, entah aku ini dapat hidayah. Saat itu aku jarang yang keluar rumah, belajar, belajar itu yang aku lakukan, meskipun aku tak paham-paham. Tak hanya memenuhi kebutuhan jasmani saja, aku juga memenuhi kebutuhan rohaniku, sepertiga malamku aku berusaha bangun dan melaksanakan sholat sunnah, kalau sholat wajib itu memang kewajiban. Hehe..Sekali lagi terimakasih buat kalian, yang sudah membuat hidupku menjadi berubah lebih baik.

5. Karena Aku Tak Lupa Terus-menerus Memohon Kepada Sang Pencipta, Mungkin Inilah hadiah yang diberikan Oleh Sang Pencipta Kepadaku.

Seperti dalam peribahasa: berakit-rakit dahulu, berenang-renang kemudian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.

Peribahasa ini mengingatkanku dengan kejadian ini, mungkin setelah aku banyak cobaan dari teman-temanku, dengan ejekan, perlakuan, namun ternyata tuhan mengabulkan doaku. Dulu ada sempat orang yang bilang padaku, entah aku lupa siapa, dia mengatakan. Doa orang-orang teraniaya adalah dikabulkan. Dan memang doaku semua dikabulkan, aku tidak mendoakan mereka untuk jatuh dari keterpurukan, namun aku mendoakan tentang kebahagiaanku dan keluargaku, memang kasihan sekali ya diriku, mungkin aku termasuk orang-orang teraniaya waktu itu, biarlah yang berlalu memanglah berlalu, dan ini menjadi pelajaran buatku.

6. Dua Tahun Lebih Berlalu, Rasanya Cepat Sekali Dan Aku Disini Menemukan Jati Diriku Yang Sebenarnya.

Jauh dari mereka, aku masih merasa tak bebas, karena aku belum sempat untuk meminta maaf kepada mereka, meskipun seharusnya mereka yang meminta maaf, namun bagiku aku juga perlu. Aku tau ini hidupku yang baru, yang dituntut untuk harus hidup mandiri, tanpa ketergantungan siapapun, ini memang keinginanku, dan tuhan mengabulkannya waktu itu. Aku merasa aku menemukan jati diriku disini, aku bisa memakai baju segayaku, tanpa ada yang mengatur, atau mengolok-olokku lagi, makan seenakku tanpa ada yang memarahi. Bukan berarti aku disini bebas seenakku, aku juga harus mentaati peraturan dari kedua orang tuaku dan kekasihku. Tapi aku merasa lega jauh dari mereka, mereka yang begitu jahat padaku. Dan aku disini bersyukur bisa menemukan teman-teman baru, yang jauh sifatnya dari temanku dulu. Mungkin karena lebih dewasa kali ya.. yaa memang mereka semua sekarang juga menikmati jati dirinya masing-masing diluar sana. Aku tak kan melupakan kalian. Kalian juga merupakan orang yang menginspirasiku hingga saat ini. Meskipun aku tak tau akan jadi apa diriku kelak, ketakutan selalu ada di benakku, padahal penyakit hati ini, inginku membuangnya jauh-jauh..hmmmm..