Ichsan Mashuri adalah nama kakek saya dari pihak ibu. Saya belum pernah melihatnya seumur hidup saya kecuali dalam foto-foto kenangan, karena beliau meninggal dunia ketika saya baru berusia satu tahun. Saya 'memanggilnya' Mbah Kakung, seperti saya memanggil nenek dari pihak ibu dengan sebutan Mbah Putri. Ibu sering bercerita tentang Mbah Kakung kepada saya. Mungkin itu cara agar saya tahu saya punya seorang kakek yang hebat, yang dibanggakan, dan sangat menyayangi saya.

Mbah Kakung berasal dari keluarga berada dan terpandang di sebuah kota kecil di Jawa Tengah bernama Pekalongan. Pekalongan itu sering disebut sebagai Kota Santri. Ada pula yang menyebutnya Kota Batik. Dua-duanya memang benar. Penduduk yang tinggal di pusat kota Pekalongan rata-rata bermatapencaharian sebagai saudagar batik. Kota Santri, karena seperti kebanyakan kota-kota di pesisir utara Pulau Jawa pada umumnya didatangi oleh para pedagang dari Arab, Gujarat (India) yang beragama Islam. Tentunya, penyebaran agama Islam lebih cepat masuk di kota-kota pesisir tersebut, termasuk Pekalongan. Termasuk keluarga Mbah Kakung.

Ibu berkata, "Setiap pergi ke sekolah, hanya Mbah Kakung sendiri yang pakai sepatu. Sepatunya disemir liciin sekali." Pada zaman itu, anak-anak yang bersekolah banyak yang tidak beralas kaki. "Rumah bapak ibunya Mbah Kakung besar, seperti rumah Belanda." Tetapi, sayangnya saya tidak pernah mengunjungi rumah kakek nenek buyut saya itu. Saya lupa, entah sudah dijual atau sudah dijadikan gudang.

Sosok Mbah Kakung yang saya kenal dari foto-foto album lama, adalah seorang pria berperawakan jangkung, agak kurus, dengan wajah setengah Arab. (Tapi, saya sendiri tidak ada wajah Arabnya, tuh, ha ha..). Wajah Mbah Kakung yang agak Arab malah diturunkan ke kakak laki-laki saya melalui hidung mancung dan kulit putihnya. Tetapi, saya dan ketiga kakak saya memang semuanya bertubuh jangkung dan nggak pernah bisa gemuk, alias kurus, he he he.

Kata ibu saya, Mbah Kakung adalah orang yang sangaaaat sangaaaat rapiii. Baik itu penampilannya, hingga segala barang-barang miliknya selalu dirawat dengan sangaaat telaten.

Advertisement

Mungkin istilahnya zaman sekarang, sangat terobsesi dengan kerapian. Ibu saya bilang, saya mewariskan sifat rapi itu dari beliau. Bedanya, saya agak cuek sama penampilan, he he… (maklum tinggal di Jakarta gitu loh ya, naik bus dan angkot ke mana-mana ;p).

Mbah Kakung bisa merasa sangat sebal kalau ada orang yang berani-berani menyentuh atau meminjam barang-barang miliknya, lalu dikembalikan dalam keadaan lecek, kumal, lusuh. Bahkan, Mbah Putri saja suka dimarahi kalau barang-barang miliknya berantakan, hi hi hi. Setiap pagi sebelum menjaga toko batik, Mbah Kakung selalu menyetrika kemejanya hingga licin. Lalu, beliau menyisir dan membubuhkan minyak pada rambutnya. Setelah itu, kedua sepatunya dari bahan kulit (kata ibu, sepatu kulitnya termasuk sepatu mahal pada zaman itu) akan disemir sampai mengkilat. Serius, benar-benar mengkilat, kinclong!

Mbah Kakung juga pencinta seni. Beliau mempunyai kegemaran mendengarkan musik klasik dari piringan hitam. Koleksi piringan hitamnya selalu rajin dibersihkan dari debu dengan kain lap. Mbah Putri dilarang untuk menyentuh piringan hitamnya itu meskipun niatnya baik untuk membersihkan, karena pasti akan dikomentari Mbah Kakung, kurang bersih, ha ha ha.. Sifat kedua ini pula yang diturunkan kepada saya, seperti kata ibu. Saya juga sangat mengagumi karya-karya seni, seperti lukisan dan musik, terutama yang beraliran klasik. (Tapi koq kalau jiwa dagangnya tidak menurun ke saya ya ;p).

Mbah Kakung meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan bus di jalan raya, dalam perjalanan pulang dari Jakarta menuju Pekalongan, pada tahun 1982. Kata ibu, pagi-pagi sebelum Mbah Kakung berangkat, saya dan kakak laki-laki saya, digendongnya bergantian dan agak lama. Ibu berkata dalam bahasa Jawa, yang kira-kira artinya begini, "Sudah tho, Pak, jangan lama-lama digendongnya nanti keenakan."

Saya hanya mengenal Mbah Kakung dari cerita-cerita yang pernah dikisahkan oleh almarhumah Mbah Putri, dan almarhumah ibu kandung saya. Namun, dari mereka saya merasa begitu dekat dengan Mbah Kakung, karena kami berdua sama-sama menyukai kerapian, dan sangat menikmati karya seni, seperti musik klasik dan lukisan. Karakter ini tidak diwariskan kepada kakak-kakak saya, dan baru diturunkan lagi kepada keponakan saya. Mbah Kakung, saya rindu…

Cerita selengkapnya mengenai keluarga Mashuri juga dapat dibaca di blog saya: Keluarga Mashuri dalam Kenangan