Jangan lekati apapun, lepaskan, ikhlaskan apa adanya.

Kalimat ini saya kutip dari biksu Ajahn Cha yang dituliskan oleh Ajahn Brahm (Murid Ajahn Cha) di bukunya yang berjudul Si Cacing dan Kotoran Kesayanganya. Ya mengapa kita sering sekali melekat pada hal-hal yang membuat kita menderita batin dan fisik? Mengapa kita selalu melekat pada perasaan-perasaan dan tingkah laku yang merusak dan merugikan diri sendiri? Mengapa kita selalu melekat pada perasaan bahagia yang hanya sesaat dan tidak abadi? Mengapa kita sulit menjadi orang yang mau melepaskan dan mengikhlaskan sesuatu yang bukan milik kita ataupun sesuatu yang sudah pergi dari hidup kita?

Cobalah Anda memegang sebuah bongkahan batu dengan tangan Anda, apa yang Anda rasakan? Pastilah rasanya berat dan tangan Anda lama kelamaan akan menjadi sakit. Tapi cobalah melepaskan batu itu atau melemparnya jauh-jauh dari pandangan mata, dan setelah itu bandingkan perasaan Anda. Tentunya setelah batu dilepaskan, tangan Anda tidak akan menjadi berat dan sakit lagi.

Hal ini sama dengan beban yang kita masukkan ke dalam hati kita. Perasaan-perasaan yang kita rasakan, hal-hal yang kita pikirkan. Ya pada kenyataannya manusia memang terlalu banyak berpikir. Kita selalu memberatkan hari-hari kita dengan berpikir, memikirkan hal-hal yang bahkan sangat tidak penting. Dalam buku terapi berpikir positif, Dr. Ibrahim mengungkapkan agar kita hidup untuk saat ini mengambil pelajaran dari masa lalu dan menyusun rencana untuk masa depan. Apalah artinya kita hidup saat ini jika kita hanya mengingat-ngingat kejadian dan peristiwa yang terjadi di masa lalu kehidupan kita, terlebih lagi kita hanya memikirkan dan mencemaskan apa yang akan terjadi di masa depan? Padahal masa lalu hanyalah peristiwa yang sudah terjadi dan tak akan pernah kembali lagi, sedangkan masa depan adalah sesuatu yang tidak pasti.

Mengapa banyak orang yang tidak bisa menikmati kehidupan mereka yang sedang berlangsung saat ini? Kita sedang duduk bersama kekasih kita mungkin, tetapi pikiran kita sedang memikirkan tentang hari kemarin lebih baik dari hari ini atau bahkan kita memikirkan tentang masa depan kita bersama kekasih kita setelah menikah apakah kita akan bahagia atau tidak. Sekali lagi saya katakan bahwa kita terlalu banyak berpikir.

Advertisement

Mengapa kita tidak menikmati setiap momen dan peristiwa dalam hidup kita? Mengapa kita tidak bahagia dengan apa yang kita lakukan dan miliki saat ini? Mengapa kita hanya membanding-bandingkan kehidupan kita saat ini dengan masa lalu? Mengapa kita berlebihan mencemaskan masa depan yang belum pasti terjadi? Jawabanya adalah karena kita tidak memiliki kesadaran diri tentang waktu yang kita miliki. Kemarin hanyalah masa lalu, saat ini adalah waktu yang harus kita jalani sebaik-baiknya, esok pun hanyalah misteri yang tidak pernah pasti.

Untuk memiliki masa depan yang baik, kita harus hidup dengan baik di masa sekarang tanpa terperangkap oleh pikiran tentang masa lalu dan masa depan. Biarkanlah masa lalu menjadi pelajaran dan hiduplah untuk saat ini saja, setiap detik, setiap menit, jam dan hari dalam kehidupan kita. Lepaskanlah dan biarkan lah berlalu semua kejadian dan peristiwa yang menyedihkan atau mengecewakan dalam kehidupan. Jangan biarkan kita terjebak dan terperangkap di penjara masa lalu dan masa depan yang tidak pasti. Buanglah jauh-jauh perasaan bersalah kita terhadap diri sendiri dan orang lain, ikhlaskan hati untuk memaafkan diri sendiri dan orang lain, bertakwalah kepada Allah SWT, karena Allah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.