Musim dingin membuat sebagian besar orang memilih pakaian hangat di Amsterdam, namun hal ini sepertinya tidak berlaku di De Wallen. Di balik kaca-kaca tipis yang berpendar neon merah, belasan wanita berlenggkok memamerkan lekukan tubuhnya dengan pakaian minim. Sebuah dipan minimalis terlihat di belakang mereka, menawarkan “kehangatan” bagi setiap pria yang berlalu lalang di kawasan ini.

Di ujung gang sempit yang “panas” itu, kami menjumpai sebuah kawasan luas dengan gereja tua di tengahnya. Menaranya menjulang tinggi, terbuat dari bebatuan tua yang terlihat kokoh. Uniknya, bagian dalam gereja terasa begitu kosong. Tidak ada banyak barang gereja yang luas ini, hanya ada sebuah mimbar kecil dan beberapa baris tempat duduk di tengah ruangan kosong.

“Kok bisa ada gereja di tengah-tengah kawasan ini?” tanya saya ke Jan, sahabat pena yang menemani acara jalan-jalan saya di Amsterdam.

“Mungkin untuk mengakomodasi kebutuhan para pria yang merasa bersalah setelah bermain di situ,” ujar Jan sambil tertawa, menunjuk ke barisan toko-toko manusia yang hanya berjarak beberapa puluh meter dari Oude Kerk. “Tapi mungkin saja karena kota ini memang penuh dengan warna,” lanjutnya dengan muka yang sedikit serius.

***

Advertisement

Amsterdam memang kota yang sulit untuk dideskripsikan, bahkan setelah beberapa hari saya berada di sini. Ada banyak hal asing yang cukup membuat saya mengalami culture shock; mulai dari ribuan sepeda yang parkir sembarang, tram-tram modern berlalu lalang, atau deretan penghisap ganja di coffeeshop di seluruh sudut kota. Di sini pula berdiri salah satu kawasan prostitusi terbesar di Eropa, bersanding dengan toko-toko turis yang menjual berbagai mainan seks, makanan olahan ganja, dan barang-barang “ajaib” lain yang sulit saya sebutkan satu per satu.

“Kebanyakan orang hanya mengenal Amsterdam sebagai pusat kota ganja dan seks,” cerita Jan, pensiunan lawyer yang sudah cukup lama tinggal di kota ini. “Tapi sebenanarnya Amsterdam lebih dari itu.”

Di hari pertama #IniPlesirku di Amsterdam, Jan langsung mengajak berkeliling ke berbagai landmark terkenal di Amsterdam. Kami berkunjung ke Vondelpark, salah satu taman paling terkenal dan paling luas di negeri Belanda. Dari sini, kami berjalan kaki menuju Flower Market, Rembrant Huis, serta beberapa bangunan bersejarah lain di berbagai sudut Amsterdam. Terkadang, kami mengintip beberapa coffeeshop dan melihat berbagai ganja yang dijual di dalamnya. Di lain waktu, kami pun menyusup ke gang-gang sempit di Red Light District di kawasan De Wallen dan sekitarnya.

Perjalanan kami berlanjut ke Dam Square, pusat kota Amsterdam yang terkenal dengan 3 buah bangunan besar berdiri di sini: Royal Palace, Niuwe Kerk, dan Museum Madame Tussauds. Jan membawa saya ke Nieuwe Kerk, sebuah gereja tua dari abad ke-15. Gereja ini terlihat megah dengan dinding batunya nan kokoh, berdiri menjulang hingga puluhan meter ke angkasa. Anehnya, apa yang saya temukan di dalamnya benar-benar di luar dugaan. Tidak ada kursi-kursi panjang, tidak ada altar dan lilin—hanya sebuah ruangan besar yang penuh dengan karya seni, patung-patung besar, dan hal-hal lain yang tidak ada hubungannya dengan keagamaan. Apakah ini benar-benar gereja?

“Dulunya iya, tapi sejak tahun 1980-an gedung ini sudah beralih fungsi” kata seorang petugas tiket. Rupanya, Niuwe Kerk dan beberapa gereja tua lain di Amsterdam sudah tidak digunakan lagi karena biaya perawatan dan pajak nan mahal, ditambah minimnya jumlah jamaah yang datang. Gedung-gedung ini pun beralih fungsi menjadi tempat eksebisi karya seni, resital organ, dan lain-lain.

Sepulang dari acara jalan-jalan di hari itu, kami mengunjungi sebuah toko buku kecil tepat di seberang rumah Jan. Seorang gadis berjilbab melayani kami dengan ramah. Tiba-tiba saya teringat satu judul buku yang ingin saya berikan pada seseorang di Indonesia, tapi saya sendiri tidak yakin buku tersebut ada di toko ini.

“Ada Lolita?” tanya saya ke wanita tersebut.

“Nobokov? Wow, selera kamu bagus juga. Saya suka buku itu!” jawabnya sambil mengetik sesuatu di komputernya. “Sepertinya stok di sini sudah habis, coba cari di toko buku lain.”

Saya tersenyum tipis. Siapa sangka, ternyata wanita berjilbab ini juga membaca Lolita—sebuah novel kontrovesial karangan Vladimir Nobokov, bercerita tentang kisah cinta seorang lelaki pedofil yang jatuh hati pada gadis bernama Lolita.

****

Keesokan harinya, kami berkendara ke El Tawheed, sebuah masjid kecil di pinggiran kota Amsterdam—didirikan oleh komunitas imigran yang tinggal di sekitarnya. Tidak seperti kawasan centrum yang serba ramai dan rustic, kawasan di luar Amsterdam terasa lebih sepi dan sederhana.

Masjid El Tawheed pun sama sekali tidak terlihat sebagai sebuah masjid, kecuali jika kita memperhatikan papan nama kecil yang ada di pintunya.

Kedatangan kami disambut oleh seorang penjaga masjid yang sangat ramah. Saya lupa menanyakan nama sang penjaga masjid, namun saya ingat dia berasal dari Pakistan. Beliau bercerita cukup banyak hal soal komunitas Islam yang cukup banyak di Amsterdam. Beberapa kali kami membahas soal sisi lain Amsterdam yang sangat kontras dengan prinsip dan nilai komunitas muslim, juga tentang luasnya kebebasan dan keanekaragaman kultural yang saya saksikan kemarin.

“Di sini, saya merasa lebih mudah mendapatkan pahala, saking banyaknya cobaan yang saya terima!” ujarnya sambil tertawa.

Acara jalan-jalan hari itu kami tutup dengan mengunjungi Westermoskee, sebuah masjid besar yang baru di bangun di perbatasan kota Amsterdam. Berbeda dengan El Tawheed, kita bisa mengenali masjid ini dari jauh—dengan kubah dan menara tinggi dari batu bata merah yang mencolok, sebuah karya yang indah dari arsitek Prancis Marc dan Nada Breitman. Bangunan ini berdiri tepat di tepi Sungai Schinkel yang indah. Lucunya, tidak jauh dari masjid ini berdirilah sebuah Coffeeshop dan kedai liquor yang cukup ramai, mengingatkan saya pada kasus Oude Kerk kemarin. Sungguh sebuah kondisi yang sesuai dengan tulisan di spanduk masjid tersebut, “Westermoskee – For a More Colorful Amsterdam”.

Malam itu, kami berdiskusi tentang berbagai hal yang kami temui selama perjalanan 2 hari ini. Saya pun mengaku kalau Amsterdam terasa begitu asing—penuh dengan berbagai kultur dari sudut pandang yang sangat berbeda tumpah ruah di kota ini. Terkadang kita bisa melihat perbedaannya dengan sangat jelas, membentuk sebuah garis tebal yang sangat berbeda di antara keduanya. Namun, seringkali kedua kultur itu bercampur satu sama lain, membuatnya mustahil untuk dibedakan satu sama lain.

“Amsterdam memang penuh warna berbeda, Tinggal bagaimana kita bisa memilih warna yang tepat untuk hidup di kota ini,” ujar jan menutup pembicaraan kami malam itu.