Kadang aku harus menerka-nerka diammu dengan berbagai argumen yang tak masuk akal. Karena begitulah kamu. Yang bahagia sedih marah hanya DIAM. Ingin rasanya aku bertanya sesekali saat kau tengah termenung.

"APA KAU BAIK-BAIK SAJA?"

Tapi aku sudah terlalu lama mengenalmu. Kau tak akan menjawab dengan rangkaian kata yang tersusun rapi menjadi kalimat. Kau hanya akan mengangguk dan tersenyum tipis. Tanda Kau memang sedang baik atau berpura-pura baik….

Aku selalu melihat mata sendumu saat seseorang membicarakan gadismu yang dulu. Ada perih yang menyayat saat ku coba telusuri raut wajahmu yang tiba-tiba berubah saat namanya disebut. Ada bening matamu yang kadang ingin tumpah tapi selalu lebih cepat seka tanganmu menghapusnya.

"Kau boleh menangis saat kau kecewa. Boleh berteriak saat kau kecewa. Itu bukan berarti kau cengeng. Laki-laki tetaplah manusia. Punya perasaan dan hati yang juga mudah hancur. Tak apa… Jangan risaukan anggapan orang. Jangan kau pegang erat-erat gengsimu. Kadang kau harus melepaskannya untuk melegakan hatimu. Setelah itu semua akan kembali seperti semula. Kau tetep laki-laki jantan itu"

Advertisement

Aku masih ingat betapa hancurnya kamu dulu saat kehilangan adik kecilmu. Sekuat tenaga kau menahan tangismu. Kau tetap dengan sikap kaku dan dinginmu. Wajahmu juga terlihat begitu tenang menghadapi semua itu. Tapi mata teduhmu tak bisa membohongi jika kau tengah hancur. Kau bersedih kehilangnya. Kau hanya gengsi ingin menangis. Sama seperti saat ini. Aku melihatmu meredup. Ada binar yang hilang dari sudut bibirmu. Senyum yang tipis itu tak terlihat lagi. Aku seakan melihatmu tak bergairah menjalani waktumu. Kau seakan tak mau hidup kembali.

Aku sudah lama mengenalmu TUAN. Kau tengah bersedih cemas kecewa marah karena gadismu itu pergi. Karena kau mencintainya tapi ia memilih pergi. Kepergiannya membuatmu tiba-tiba saja mengubur hidupmu.

Melihatmu tenggelam dalam duniamu itu menenangkan. KAU yang dulu selalu asik tenggelam di buku-buku yang kau baca. Kini terlihat pandanganmu kosong. Kau memandang jauh menerawang. Menembus angin yang tak terlihat.

Sendumu itu buat aku begitu khawatir. Kau tak berkata. Juga tak menangis. Kau DIAM seolah dunia ini tak ada. Kau tenggelam dalam perasaanmu sendiri.

" Kau pernah berkata agar aku tak selalu berada di titik yang sama"

Lantas mengapa kau tak segera bergegas? masih saja menatap pintu yang sudah tertutup rapat itu. Mengapa kau masih saja menunggunya kembali. mengapakau tak lagi berlari mencari senyummu yang lain. Mengapa kau masih asik tenggelam dalam rasa itu?

"Apa aku perlu mengingatkanmu?. Gadismu dulu sering pergi dan hanya datang saat ia kelelahan dengan dunianya. Gadismu itu memanfaatkan segalanya untuk kesenangannya sendiri. apa pernah ia meminta maaf saat kau di mintanya menunggu tapi ia tak kembali? apa pernah ia berterima kasih saat kau berikan sesuatu untuknya? apa pernah ia berkata tolong saat ia memintamu? sudah jelas ia tak peduli padamu. sudah jelas ia tak menghargaimu."

Apa yang kau pertahankan dalam lukamu itu TUAN?.