Konon, sebuah perjalanan itu nggak melulu soal sebuah tujuan. Kebahagiaan dalam sebuah perjalanan itu bukan karena tempat yang baru semata, namun dengan siapa kau menjalaninya, dengan siapa kau mencapainya, dan dengan siapa kau menikmatinya.

*pisau mana pisau?!*

Seperti itu jugalah yang kualami pada perjalanan Oktober 2015 lalu saat aku melintasi tiga negara berbeda — Thailand, Kamboja, dan Vietnam. Pada plesiran kali itu, aku tak hanya berhasil mengunjungi kota-kota baru dan tempat-tempat impian yang sudah lama mengendap di dalam bilik otakku. Aku juga berhasil menorehkan lembaran pengalaman baru bersama dengan orang-orang baru yang menyertai perjalananku.

Tak seperti biasanya di mana aku menginap di hotel atau hostel, perjalanan kontemplatif saat itu kujalani dengan menginap di rumah warga lokal yang sebelumnya belum pernah kukenal. Permintaan menginap pun meluncur melalui jejaring Couchsurfing, dan beruntung, aku berhasil mendapatkan tumpangan di setiap kota yang kusinggahi: Bangkok, Siem Reap, dan Ho Chi Minh City.

Bertemu dengan Pemuda Baik Hati di Bangkok

Advertisement

Adalah Paul Naruebedhbordin, seorang pemuda baik hati yang bersedia menerimaku menginap bersamanya untuk tanggal 5-7 Oktober 2015. Pertemuan kami berdua pun, kalau tak berlebihan, aku katakan sebagai sebuah mukjizat dan tuntunan Tuhan.

Selama di Bangkok, aku sudah membekali diri dengan sim card lokal yang sudah kubawa dari keberangkatan di Indonesia. Melalui aplikasi Line, aku berkomunikasi dengan Paul. Sialnya, tepat saat sudah tiba di sekitar lokasi janjian, kuota internetku habis! Pantas dari tadi tak ada respon dari Paul.

Aku lalu buru-buru kembali ke jalan raya untuk mencari 7/11, atau minimarket apapun yang melayani pengisian pulsa. Dengan sedikit komunikasi verbal, pengisian pulsa pun sukses terlaksana. Baru saja sampai di tempat semula, tiba-tiba seorang pemuda berkacamata datang menghampiriku dengan sepeda.

“Nugi?”

Aku mengiyakan dengan sedikit terkejut. Entah bagaimana caranya, Paul tiba-tiba saja dapat menemukanku. Aku belum memberikan konfirmasi, namun dia berinisiatif untuk langsung saja datang ke tempat pertemuan. Dan, dari engahan nafas dan bulir-bulir keringat yang menyembul dari pori-porinya, dia sepertinya berusaha keras untuk segera sampai di tempat dengan cepat.

Meski tak bisa menemani saat berkeliling kota, namun Paul tetap memberikan yang terbaik. Dia mengisi malam-malamku dengan obrolan ringan penuh cerita, membantuku setiap kali hendak membeli makan di Family Mart dekat apartemennya, memberikan panduan transportasi menuju Stasiun Hua Lamphong saat pagi-pagi buta. Dari ketiga host yang menampungku, Paul adalah host yang paling tulus dan paling berdedikasi.

Diajak Berkeliling Kota oleh Pemuda yang Bersahaja

Lain Paul, lain lagi dengan Phearun, host lokal di Siem Reap yang menyediakan rumahnya untuk tempatku bernaung. Pertemuan kami diwarnai dengan adu mulut larut malam!

Phearun sendiri rupanya mendadak menolak permintaanku beberapa hari sebelum kedatangan. Tapi karena aku sudah berada di dalam rangkaian perjalanan ini, aku sama sekali tidak mengetahui pesannya itu. Sesampainya di Siem Reap, aku meminta bantuan pada sopir tuk-tuk untuk meneleponnya. Phearun terkejut, namun karena sudah larut malam dan dia merasa kasihan, akhirnya dia tetap menerima kedatanganku.

Sopir tuk-tuk ini adalah sopir yang sudah bekerjasama dengan sopir taksi yang mengantarkanku dari Poipet ke Siem Reap. Dia akan mengantarkanku berkeliling Angkor esok hari. Namun, sesampainya di tempat Phearun, pemuda itu berkata dengan nada tinggi kepadaku, “Friend, you’re going with me right?

Jujur, aku sama sekali tak merasa mendapat obrolan seputar itinerari dari Phearun, apalagi menyadari bahwa dia sudah menyediakan jasa sewa tuk-tuk dan sepeda untukku. Iya, dia memang menyebutkan di dalam profil bahwa dia dapat membantu tamunya untuk urusan reservasi tuk-tuk atau bus (dan hal lainnya juga), namun tak ada konfirmasi khusus untukku.

Phearun lantas berdebat dengan sopir tuk-tuk dalam bahasa Kamboja yang tak kumengerti. Sopir tuk-tuk itu marah karena aku sudah sepakat dengannya. Akhirnya dia berkata, bila besok aku lebih memilih Phearun, dia harus membayar 6 USD sebagai imbalan telah mengantarkanku malam itu. Phearun naik pitam, ongkos yang diminta terlalu mahal, hingga akhirnya dia pun merelakanku pergi bersama sopir tuk-tuk itu esok hari.

Come on, my friend!” ajaknya kepadaku untuk memasuki rumahnya.

Malam pertama di Siem Reap terasa sedikit canggung setelah apa yang baru saja kami alami, namun aku berusaha untuk tetap tenang dan easy-going. Kebekuan perlahan mencair saat Phearun mengajakku makan tengah malam di sebuah warung nasi goreng di dekat rumahnya.

Phearun sangat membantuku dalam berkeliling menjelajah Siem Reap. Tanpanya, aku tak akan tahu apa makanan khas Kamboja. Tanpanya, aku tak akan tahu ada Killing Field dan Pasar Malam Lokal di Siem Reap. Tanpanya, aku tak akan memiliki punya pengalaman bersepeda berkeliling kota. Tak apa deh kami bertemu dengan sengketa, yang penting hubungan kami berakhir dengan cerita.

Dibayari Taksi Oleh Pemuda Ho Chi Minh City

Larut malam, di dalam sebuah taksi dengan sopir yang tak dapat berbahasa Inggris, di kota yang baru dikunjungi, menuju tempat yang tak kuketahui. Bisa kau bayangkan rasanya?

Secara singkat, cukuplah kuceritakan bahwa pemuda yang seharusnya menampungku di Ho Chi Minh City mendadak tak bisa dihubungi. Syukurlah, seorang anggota komunitas yang lain bernama Nguyen van Vuong, dipanggil King, bersedia menerima kedatanganku.

Taksi terus berjalan meninggalkan kawasan pusat kota Ho Chi Minh City, memasuki jalanan lebar dengan beberapa ruas jalur, dikungkung dengan blok-blok apartemen khas kawasan pinggiran. Aku menatap laju argo yang bergulir cepat dengan gugup. Setidaknya ada tiga tabel yang menunjukkan angka berbeda, tak yakin mana yang ongkos perjalanan.

Taksi berbelok memasuki sebuah jalan dua lajur, meninggalkan jalanan besar. Sopir sempat dua kali menghentikan taksi untuk bertanya alamat kepada warga lokal, sempat memutar arah. Di belakang kemudi, dia memeriksa Google Maps dan berkendara dengan ragu-ragu. Dia kembali meminta telepon genggamku untuk menghubungi King.

Puji Tuhan, kami akhirnya tiba di tempat tujuan. King keluar dan melambaikan tangan di tepi jalan. Sopir taksi menagih ongkos sebesar 345.000 VND, atau sekitar Rp 172.500,00. Demi cinta sehidup semati, aku tak membawa uang sebanyak itu! Peka dengan kondisiku, King menawarkan untuk menggunakan uang pribadinya lebih dulu. Ini memang sangat memalukan, meminjam uang dari host yang baru saja ditemui, tapi aku tak punya banyak pilihan!

Kebaikan hati Paul, Phearun, dan King, telah menggoreskan sebuah rona tersendiri dalam lembaran perjalananku. Dari penggalan ceritaku di atas, kau pasti kini sepenuhnya setuju, bahwa sebuah perjalanan itu tak melulu ke mana kau melangkah, namun dengan siapa kau menjejak..