Cerita traveler yang menginap di bandara karena harus mengejar penerbangan pagi atau karena pesawatnya mendarat tengah malam, pastilah cerita lumrah. Tapi kalau sengaja menginap di bandara selama dua malam berturut-turut, mungkin tidak sedikit yang melakukannya. Dan saya termasuk ke dalam kelompok yang sedikit itu.

Ceritanya, saat itu saya tinggal di Jepang dan nekad mengisi liburan musim panas dengan berkunjung ke Korea Utara. Akses yang paling mudah buat saya adalah melalui Beijing, walaupun katanya bisa juga lewat Rusia. Mumpung ke Tiongkok, kenapa nggak sekalian jalan-jalan, pikir saya. Apalagi sudah menjadi impian saya untuk bisa ke Tembok Cina.

Masalahnya, biaya #IniPlesirku yang wajib menggunakan travel agen ini menguras hampir setengah isi tabungan saya. Satu-satunya cara, saya harus menahan diri demi sebuah pengalaman yang mungkin once in a lifetime. Akhirnya, saya memutuskan untuk putar-putar selama dua hari di Beijing saja setelah nanti pulang dari Korut.

Seperti yang sudah diberitahu oleh agen travel yang mengatur perjalanan ke Korea Utara, semua peserta wajib datang ke kantornya sehari sebelum keberangkatan untuk predeparture briefing. Bermodalkan jadwal briefing yang sore hari, saya sengaja memilih pesawat dari Jepang yang mendaratnya malam di Beijing Capital International Airport, sehingga bisa menginap di bandara, lalu pagi dan siangnya jalan-jalan dulu.

Sebenarnya saya tiba belum terlalu larut, sekitar jam 9 malam. Kalaupun lanjut ke pusat kota, saya tidak tahu harus ke mana mencari penginapan. Ada sih, hostel yang saya incar tapi belum dipesan. Lokasinya tidak jauh dari tempat briefing, tapi karena ingin berhemat, saya putuskan akan menginap semalam saja di sana, yaitu besok. Malam ini, biarlah saya merana di bandara.

Advertisement

Sejak sampai, saya sengaja berjalan lambat menuju pintu keluar. Sayang, kebanyakan kiosnya sudah tutup sehingga saya tidak bisa mengulur waktu dengan cuci mata. Hanya melihat-lihat sebentar di satu-satunya toko yang buka, yaitu toko cokelat. Berharap tester gratis yang tidak ada.

Tiba-tiba, saya ingat bahwa yuan saya masih dalam pecahan besar, 100RMB. Beberapa artikel yang saya baca memperingatkan untuk waspada dengan uang palsu yang banyak beredar di Beijing. Saya harus segera menukarkannya menjadi pecahan kecil.

Saya coba ke salah satu money changer yang ada, tapi petugasnya tetap meminta komisi 60RMB. Saya nggak mau dan berniat menukarnya di toko cokelat yang tadi saya masuki. Tapi karena language barrier, saya disarankan oleh kasirnya untuk ke penukaran uang yang ada di depan toko, yang tadi saya lihat tidak ada orangnya walaupun sepertinya buka. Saya pun ke sana.

“Excuse me…!” saya mencoba memanggil petugasnya. Tidak lama, dia muncul dengan mulut masih mengunyah. Langsung saya sampaikan maksud saya, dan bingo! Si mbak setuju menukarkan selembar 100RMB saya dengan nominal kecil, tanpa komisi.

Memasuki areal ruang tunggu kedatangan, saya sengaja berdiri sebentar untuk mengenali medan. Saya pandangi ruangan besar memanjang yang mengeliling saya dan melihat ada banyak orang. Berarti saya tidak akan sendirian malam ini, batin saya, lalu berjalan hingga ke ujung ruangan.

Penasaran dengan seberapa polusinya negara ini, saya segera berbelok ke luar. Wooosss… udara panas langsung menerpa wajah saya. Secara hari gelap dan tidak banyak yang bisa dilihat, saya kembali ke dalam.

Saya berjalan sampai ke ujung ruangan dengan maksud mencari tempat nyaman untuk beristirahat. Tapi, semua tempat duduk sudah dikuasai oleh mereka yang tertidur sambil duduk dan yang merebahkan diri. Ya sudah, ke kamar kecil saja dulu. Tapi… saya ragu dengan keadaan toiletnya, apalagi banyak orang begini. Dengan kekhawatiran ini, saya coba mencari toilet ke areal keberangkatan di lantai atas.

Benar saja, areal lobi keberangkatan tidak seramai di bawah, tapi ini mungkin karena tidak tersedia tempat duduk. Ragu-ragu, saya masuk ke toilet dan pelan-pelan mengendus. Pemandangan awal… lumayan bersih. Perlahan, saya buka bilik toiletnya, dan taraaa…! Ada toilet duduk, tanpa selang untuk membasuh, tapi ada tissue dengan gulungan besar. Lihat ke sebelah, wc jongkok, saya lupa di mana letak flush-nya, mungkin ada di dinding. Haaa… saya jadi kangen toilet bidet di Jepang! Lega, tidak ada apa-apa di dalamnya. Iyalah, masah toilet bandara jorok, ucap saya dalam hati.

Beres urusan toilet dan menemukan sudut tertutup untuk sholat, saya kembali melanjutkan penjelajahan dan mencari lokasi tidur. Penasaran ada apa di bawah areal kedatangan, saya turun dan menemukan restoran fast food yang masih buka, dan lokasi Airport Express, kereta untuk besok menuju pusat kota.

Setelah melihat kapan jam beroperasi kereta yang paling pagi, saya kembali ke atas, dan masih belum menemukan bangku kosong. Saya naik lagi ke lantai dua, dan baru terpikir untuk mengisi baterai handphone. Duduklah saya di lantai sambil people-watching di areal keberangkatan, dan mengira-ngira, nanti pulangnya saya masuk lewat sini.

Setelah handphone fully charged, saya kembali ke lantai kedatangan. Berkeliling sebentar, dan menemukan tiga baris bangku kosong. Alhamdulillah badan saya kecil, sehingga walaupun tempat duduknya berlengan, saya bisa berbaring dengan menyelipkan badan di bawah lengan kursi. Tetap saja, tapi, karena lampunya terang benderang, saya tidak bisa terlelap.

Menjelang subuh, saya segera bersih-bersih dan bersiap menuju pusat kota. Ketika kembali ke toilet yang sama dan dengan gelagat seperti semalam, saya baru sadar bahwa bandaranya tidak dingin.

Siangnya, setelah jalan-jalan mengitari kawasan Tiananmen, Forbidden City, dan Temple of Heaven, saya menuju kantor agen travel yang besok akan membawa saya ke Pyongyang. Tapi sebelumnya, saya singgah dulu ke penginapan yang sudah saya incar dan tidak jauh dari lokasi pertemuan. Berharap ada kamar murah, dan bisa meletakkan ransel. Nyatanya, tarif kamar yang tersedia jauh di atas budget saya. Sudahlah, nanti kita cari lagi.

Namun, selesai briefing, dan hitung-hitung biaya yang sudah maksimal untuk membayar liburan ini, saya menemukan ide brilliant. Daripada capek-capek lagi nyari penginapan, mending menikmati suasana malam saja, lalu balik lagi ke bandara. Bolak-balik bandara dan ke meeting point besok, biayanya hanya 50RMB, yaitu ongkos Airport Express.

Sebenarnya, saya bisa menemui rombongan saya di bandara dan hemat 25RM, tapi saya ingin menikmati #IniPlesirku ke Korut dari awal. Alhasil, malam itu, saya menghabiskan waktu di kawasan gaulnya Beijing, Sanlitun.

Mandi? Besok saja di Pyongyang, kan bakal nginap di hotel mewah…