Indonesia memang kaya kebudayaan tradisional, salah satunya adalah seni tradisional Ujungan. Senang rasanya aku berkesempatan untuk mengenal lebih dekat kesenian tradisional Desa Gumelem Wetan, Banjarnegara ini. Secangkir kopi dan singkong goreng sebagai cemilan menjadi paduan yang pas untuk dinikmati sambil membaca tulisanku ini.

Sejarah singkat seni tradisional Ujungan

Ujungan, kisah nyata yang terjadi sekitar tahun 1680-an, hingga kini dijadikan sebuah budaya atau tradisi masyarakat Desa Gumelem Wetan, awal mula budaya ini tumbuh ketika Desa Gumelem Wetan, Kecamatan Susukan saat itu masih disebut padukuhan Karang Tiris (Nama sebelum Gumelem)

Masyarakat di padukuhan ini, dalam hal untuk menopang kehidupannya, benar-benar hanya mengandalkan hasil sawah dan ladangnya. Sementara sistem pengairan yang baik dan teratur atau irigasi saat itu belum ada, sehingga untuk dapat mengairi lahan sawahnya dengan cara bergilir.

Dimasa kademangan (1680-1959), musim kemarau yang sangat panjang pernah melanda, cara untuk mengairi lahan sawah dengan cara bergilir sudah tidak lagi dihormati petani. Untuk mendapatkan air para petani saling berebut untuk menyelamatkan tanamanya agar tidak mengalami gagal panen.

Advertisement

Syahdan pada hari Jumat Kliwon ketika itu disebuah sumber air ada dua orang petani yang saling bersitegang berebut air untuk mengairi lahan sawahnya sehingga mereka saling memukul, saling "sabet" dengan menggunakan cangkulnya masing-masing. Namun disaat itu datang Ki Singakerti memberi saran kepada keduanya untuk menggunakan sebilah kayu. Peristiwa yang cukup lama menyebabkan tubuh kedua petani itu mengalami luka-luka dan banyak mengucurkan darah, tidak lama kemudian turunlah hujan sangat lebat.

Kayu yang digunakan pun hingga kini di Gumelem dikenal dengan Kayu Rasidhe yang bermakna Udan deres lan Gedhe. Kedua petani itu sadar perbuatan yang dilakukannya, kemudian salin meminta maaf dan memanjatkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang menurunkan hujan sehingga tanaman dapat tumbuh subur kembali dan ladang petani dapat diolah untuk mendapatkan hasil guna menopang kehidupannya.

Dalam perkembangannya, Ujungan yang selalu digunakan sebagai sarana untuk memohon turunnya hujan selalu digelar pada mongso kapat (keempat) dan kamo (kelima) di musim kemarau selanjutnya telah dilakukan berbagai macam perubahan dengan tidak meninggalkan unsur "sakral"nya, diantaranya adalah dalam hal bagian tubuh yang disabet, sekarang hanya terbatas dari bagian lutut hingga telapak kaki, pelakunya pun dilengkapi dengan berbagai pelindung termasuk pelindung kepala yang dihias dengan berbagai ornamen, demikian juga alat pemukulnya pun telah menggunakan rotak sepanjang lengan orang dewasa dan telah dikemas dalam sebuah seni, dimana kedua orang pemain termasuk Wlandang (wasit) harus melakukan gerak tari dengan diiringi irama gamelan yang sangat sederhana.

Prosesi Seni Tradisional Ujungan

Prosesi Ujungan dimulai dengan ditandainya lantunan lagu-lagu sederhana dari tetabuhan yang sederhana pula, irama lagu pembuka yang wajib dipersembahakan adalah lagu "Di Gumelem"

Diakhir lagu pembuka, seorang tokok sepuh muncul ke arena memanjatkan doa-doa khusus untuk memohon keselamatan bagi semua yang terlibat di pementasan Ujungan. Di sudut lain kedua kubu mempersiapkan jago-jago ujungan yang telah dilengkapi dengan berbagai macam ornamen pakaian untuk ditandingkan.

Irama lagu makin lama makin cepat, pertanda pertarungan jago-jago ujungan dimulai. Dengan dipandu oleh seorang Wlandang (wasit) kedua jago dipertemukan dan diberi wejangan secukupnya oleh Wlandang dan selanjutnya kedua jago ujungan mengambil jarak atau posisi yang diyakini tepat untuk melakukan serangan. Sambil mencari peluang untuk menyerang, kedua jago ujungan menari dengan diiringi irama lagu-lagu sederhana. Ketika salah satu jago ujungan mempunya peluang mengayunkan rotan ke arah kaki lawan, lawan itupun berusaha menghindar dengan melompat setinggi-tingginga ke arah mundur dan seketika itu juga langsung mengambil gerakan menyerang juga.

Melihat kejadian saling serang, menghindar dan balik menyerang, Wlandang berusaha melerai dan selanjutnya menukar rotan, di Gumelem dikenal dengan Uluk Ujung.

Melihat kejadian saling serang, menghindar dan balik menyerang, Wlandang berusaha melerai dan selesailah pasangan jago ujungan yang pertama.

Masyarakat Gumelem meyakini apabila ada darah yang mengucur dari bagian kaki pemain atau jago-jago Ujungan, hujan pasti akan segera turun hujan.

SERRUUUUUUU!! Ketika acara Ujungan ini berlangsung, cuaca Gumelem lagi panas terik sekali, katanya sih efek sebelum Ujungan, tapi selang waktu satu jam usai acara Ujungan ini langsung turun hujan deras. Ujungan Effect! Berikut ini aku share video dari om Suryaden ini.