Mulai tahun 2015, anak muda Indonesia, khususnya para mahasiswa harus siap bersaing dengan anak muda dari penjuru Asia Tenggara dalam pasar tenaga kerja.

Menurut Bob Sadino dalam fanpage facebooknya, dengan di berlakukannya ASEAN Economy Community, pasar ASEAN akan menjadi sebuah pasar tunggal melalui lima kesepakatan kebijakan yaitu aliran bebas barang, aliran bebas jasa, aliran bebas investasi, aliran bebas modal, dan aliran bebas tenaga kerja. Pasar Indonesia yang besar akan menjadi perebutan konsumen bagi para pelaku usaha ASEAN.

Pertanyaannya adalah, sudahkah produk Indonesia, pekerja Indonesia, dan pengusaha Indonesia mempersiapkan diri?

Berikut ini sepuluh peranan orang bodoh yang saya rangkum dari beberapa tulisan Bob Sadino untuk mempersiapkan diri menghadapi MEA 2015 tersebut.

Orang bodoh hanya punya satu ide.

Orang pintar biasanya banyak ide, bahkan mungkin terlalu banyak ide untuk memulai bisnis sehingga tidak ada satupun yang jadi kenyataan. Hari ini, dia berniat memulai bisnis kuliner. Mungkin saja besok dia ingin memulai bisnis properti karena keuntungannya lebih banyak. Sedangkan orang bodoh hanya punya satu ide saja dan itulah yang akan menjadi pilihan usahanya sehingga dia bisa fokus dalam satu bisnis.

Orang bodoh pasti tidak pandai menghitung dan menganalisa bisnis.

Advertisement

Sebagian orang pintar sangat pandai dalam menghitung dan menganalisa. Setiap ide bisnis, dianalisa dengan sangat lengkap mulai dari modal, untung ruginya, sampai BEP. Sedangkan orang bodoh dalam hal menghitung pasti tidak pandai menganalisa sehingga lebih cepat memulai usaha. Lebih cepat lebih baik!

Orang bodoh pasti malas membaca.

Orang pintar pasti hebat dalam menganalisa. Sangat mungkin berpikir sebuah bisnis karena informasi yang berhasil dikumpulkannya sangat banyak, terutama dari buku-buku yang dia baca sehingga dia hanya mempelajarinya secara teori tanpa action. Berbeda dengan orang bodoh, dia tidak sempat membaca buku dan tidak sempat berpikir karena yang dia tahu, dia harus segera berbisnis.

Orang bodoh pasti berpikir bahwa kesuksesan sulit untuk didapat.

Orang pintar selalu merasa mampu melakukan berbagai hal dengan kepintarannya, termasuk mendapatkan kesuksesan dengan instan. Namun kita ketahui, sesuatu yang instan tak akan berujung baik. Berbeda dengan orang bodoh yang merasa dia harus memulai jalan panjang dan berliku sebelum mendapatkan hasil. Dan faktanya untuk mendapatkan kesuksesan, kita harus berjuang.

Orang bodoh berasal dari ibu yang bodoh.

Orang pintar berasal dari ibu yang pintar. Sedangkan orang bodoh berasal dari ibu yang bodoh. Faktanya, banyak pengusaha sukses yang berasal dari orang yang bodoh. Orang yang bodoh pasti berpikir seribu kali bagaimana dia bisa menjadi kaya dan dapat membeli mulut mereka yang dulu pernah menghinanya dengan memanggil kata goblok. Jika Anda bodoh, Anda patut berbahagia karena Anda adalah calon pengusaha.

Orang bodoh tidak tahu bisnis yang prospektif.

Dalam suatu diskusi ataupun seminar bisnis, pasti banyak orang pintar yang bertanya bisnis apa yang prospektif. Padahal bisnis yang prospektif adalah bisnis yang dijalankan, bukan yang ditanyakan terus-menerus.

Orang bodoh tidak akan pernah membenci hari Senin.

Hari Senin identik dengan kesibukan bagi orang kantoran yang berasal dari orang pintar. Maka dari itu, banyak yang benci dengan hari Senin. Kalau benci, mengapa masih di kerjakan? Keluar saja dari rutinitas yang dibenci dan dikerjakan yang disukai serta menghasilkan. Orang bodoh tidak akan membenci hari Senin karena baginya, hari apapun adalah sama. Dia tidak pernah merasa sibuk karena semuanya sudah dikerjakan oleh karyawannya.

Sekecil apapun usaha yang dijalankannya, dia adalah seorang bos.

Orang bodoh tidak akan pernah menerima gaji.

Orang pintar menunggu datangnya awal bulan yakni menerima gaji/upah atas apa yang sudah dia kerjakan. Gaji tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidup, membayar listrik, membayar air, dan yang terpenting adalah membayar biaya pendidikan anak-anak mereka. Sedangkan orang bodoh tidak akan pernah menerima gaji, melainkan dia memberi gaji kepada karyawannya karena baginya, gaji hanyalah ilusi. Kenyataan sebenarnya adalah tagihan.

Orang bodoh tidak akan pernah bisa menjadi koruptor untuk menikmati hidup.

Melihat pemberitaan media, banyak sekali koruptor di Indonesia. Apakah harus jadi koruptor untuk menikmati hidup? Jawabnya tidak. Kebanyakan koruptor berasal dari orang pintar. Namanya juga orang pintar, pasti banyak yang memilih saat pemilu. Berbeda dengan orang bodoh, tidak akan ada yang memilih. Kalaupun ada, pasti hanya sedikit.

Orang bodoh secepatnya beraksi, orang pintar menunggu sertifikasi.

Orang pintar belajar keras untuk mendapatkan ijazah dan secepat mungkin melamar pekerjaan. Yang lainnya, justru menunggu bisa mengikuti PLPG dan berharap mendapat sertifikasi (bagi guru). Orang bodoh berjuang keras secepatnya mendapatkan uang agar bisa membayar pelamar kerja.

Bagaimana pun, keputusan untuk menentukan langkah ada di tangan Anda sendiri. Apakah mau menjadi pegawai atau pengusaha. Menjadi pegawai demi mendapatkan pengalaman sah-sah saja. Namun, merintis usaha bukan hal yang mustahil asal dilakukan dengan sunguh-sungguh.