Di pelaminanku, terlalu banyak kerumunan orang yang mengharuskan aku untuk fokus melihat satu sosok pria yang berdiri jauh menatapku tajam.

Ternyata dia datang.

Dia seorang pria yang pernah menempati sebagian ruang dalam hatiku. Dia pernah membelai rambutku lembut. Dia pernah memeluk erat tubuhku seperti memberikan kasih sayang terhadap adik perempuannya. Dia pernah menjadi seseorang yang benar-benar mengerti aku. Dia pernah menjadi seseorang yang membuatku tersenyum dikala air mata ini meleleh. Kami sering tertawa riang bersama dalam menghabiskan waktu kami. Dia juga mengajakku ke rumahnya untuk makan malam bersama orang tuanya di malam minggu kami. Dia seorang lelaki penyayang yang penuh dengan kelembutan hati.

Tapi waktu demi waktu berlalu,ia tak kunjung memberi pernyataan tentang apa dan bagaimana hubungan kami sesungguhnya. Sedangkan di usia yang telah cukup umur, orang tuaku sudah selalu mempertanyakan adanya pernikahan untuk ku. Aku tak tahu harus berbuat apa. Seseorang yang telah merebut hatiku, hanya dia. Namun apakah dia merasakan hal yang sama. Atau dia hanya mengganggapku sebagai adik perempuannya saja.? Benarkah hanya sebatas itu? Aku tak pernah mendapatkan jawabannya.

Malam itu, dia hanya mengatakan bahwa dia akan pergi untuk beberapa waktu dan ia akan memberikanku sebuah hadiah ketika dia kembali nanti. Dan benar, dia tak pernah memberiku kabar setelah pertemuan kami itu. Enam bulan berlalu,,dia tak kunjung membalas semua telepon dan sms ku, sampai aku datang ke rumahnya dengan sebuah undangan ditanganku yang aku titipkan ke orang tuanya. Dengan tatapan menyesal, orang tua nya seolah mengerti apa yang aku rasakan. Tapi apa boleh buat, orang tuanya juga tidak bisa memberikan penjelasan apapun tentang kepergian anaknya.

Advertisement

Sampai di acara pernikahanku, dia menjadi tak asing lagi setelah perpisahan kami untuk beberapa waktu. Tatapanku mengandung sejuta pertanyaan mengapa ia baru datang di saat seperti ini. Bulir air mata ini tak sengaja mengalir di saat ia menghampiri ku dan pasanganku untuk berlalu pergi. Bahu itu, yang dulu menjadi sandaran di saat tangisku meledak, sekarang bukan lagi bahu milik lelaki yang aku cintai. Semuanya harus berakhir. Karena aku sudah tak pantas lagi memeberikan sebagian dari ruang hatiku untuknya.

Hari-hariku berjalan sebagaimana mestinya sebagai orang yang sudah berumah tangga. Aku harus mengikis semua hal yang menjadi beban dalam hatiku tentang lelaki ku di masa lalu. Bagaimanapun aku sudah milik suamiku. Semuanya dapat kulalui perlahan untuk melupakan nya,. Hari berganti hari,,minggu berganti minggu dan bulan berganti bulan. Semuanya berjalan baik-baik saja.

Sampai pertemuan kami secara tidak sengaja, kami duduk berdua. Di tempat itu dia bercerita mengapa ia pergi untuk beberapa bulan lamanya, karena ia sudah menyiapkan segala hal untukku. Ia membangun tempat tinggal seperti apa yang kami bayangkan dahulu karena memang ia mendapat promosi jabatan di luar pulau dan semuanya untuk masa depan kami. Mengapa ia tidak bercerita satu hal pun tentang itu, karena itu semua akan ia berikan sebagai kejutan terindah ketika ia kembali dari perantauannya. Perlahan ia membuka sebuah kotak kecil didepanku yang ternyata adalah sebuah cincin yang ia siapkan untuk melamarku di hari yang lalu. Air mataku kembali berlinang tanpa aku perintah, aku hanya diam dan tak dapat berucap satu kata pun. Semuanya sudah terlambat. Dan tak seharusnya aku menyesali semua apa yang telah terjadi. Dia datang kembali ketika aku sudah menjadi milik orang lain dan itu membuat hati ini sesak melihat kenyaatan bahwa ia juga mencintaiku begitu dalam. Dia tetap menenagkan ku dengan kasih dan kelembutannya.

Setelah tangis ini reda dengan penghiburannya,,ia menyodorkan sebuah undangan pernikahan yang tercantum namanya dan seorang gadis lain. Iya benar, dia akan menikah. Dia akan menjadi pendamping hidup wanita lain. Saat itu aku tersenyum padanya dan memberi isyarat turut bahagia mendengar itu. Aku juga berusaha menguatkan hatiku. Ia berucap lembut dengan senyumnya yang khas itu untuk mencoba mencintai wanita yang akan menjadi belahan jiwanya dan tidak menyakiti hatinya.

Begitu sakit ketika aku mendengar ia akan mencoba mencintai wanita lain untuk menjadi pendamping hidupnya, yang seharusnya itu aku. Tapi ini semua keputusanku. Aku yang meninggalkannya terlebih dahulu. Kami belum pernah memulai kisah cinta kami tapi mengapa harus diakhiri seperti ini. Rasanya tak pantas aku menyesali semua ini. Kehidupan kami harus terus berjalan dan memang takdir kami mungkin tidak untuk bersatu. Cincin yang ia berikan menjadi saksi bisu tanda cinta kami. Cinta yang selalu kami pendam dan hanya Tuhan dan kami yang tahu. Cinta yang harus dikikis seiring berjalan nya waktu.

Langkah kaki kami tak akan lagi berjalan beriringan. Takdir mungkin lebih memilih cinta kami sebagai bagian dari kenangan yang indah. Kenangan yang terukir dalam diam tanpa harus menyakiti hati pasangan kami. Karena di depan sana, masih banyak kisah yang harus diukir bersama pasangan kami masing-masing.

Terimakasih pernah memberikanku cinta yang sempurna. Karena kami harus bahagia walaupun tanpa harus bersama.