Intensitas ini kurasakan semakin dalam. Sejak pertama kali aku memasuki matamu. Ada cahaya disana, seperti bintang, aku temui pula keteduhan yang buatku tak pernah ingin beranjak. Hanya saja aku tak tahu pada bagian mana harus memulai. Semuanya serba terlalu, kau terlalu mempesona, dan aku terlalu biasa.

Dadaku sesak, tenggorokanku tercekat. Aku tak sanggup mengungkapkan apa yang terpendam dan ingin meledak, sebab siapa aku? Setiap kata-kata yang kurangkai dengan sedemikian rapi, nyatanya belum juga mampu menyentuh bagian hatimu yang terdalam. Tapi tak apa, bukan itu tujuanku sebenarnya.

Aku tak ingin hanya sekejap, lalu menghilang begitu saja. Setidaknya berharap kau akan merindukanku meski hanya sekilas pandangan mata. Kita sama-sama makhluk asing berbatas jarak dan ruang waktu. Tak mampu memandang lekat, tak bisa saling menggenggam erat, hatiku beku, hatimu kalut, aku misteri dan kau kabut. Aku tergantung dari tatapan matamu. Saat aku masih membisu, maka aku tak akan memulai sebuah kata.

Pada bagian abjad pertama, aku sering menyebutmu dalam diam, dalam sekilas pandangan mataku sebelum terlelap, dalam secangkir rindu pada kopiku tiap malam, dalam rinai hujan senja yang tak pernah kulewatkan.
Kata-katamu yang spontan dan abstrak langsung meluluhkan kerasnya hatiku.

Aku ingin yang seperti ini. Tidak memulai dengan kata-kata mawar tapi berduri, tidak pula mengawali kerlingan mata tapi membius ilusi, dan tidak menawarkan harapan yang kemudian mengabur hilang.

Advertisement

Bila kau tak keberatan, bolehkah kubungkus puisi untukmu setiap malam sebelum kau terlelap? Biar kuhitung bintang dalam kata-kata dan menerbangkannya bersama angin musim.

Bukan maksudku berlebihan. Tapi aku hanya ingin berbagi kisah tentang rindu yang mengendap-endap, tentang berbagai rasa yang meng-anakkan tawa dan duka. Tentang warnamu dan warnaku, tentang hidup, peradaban, dan cinta dari segala bentuk, entah dalam balutan adegan film, rangkaian lirik lagu, atau dalam goresan ilustrasimu.

Aku menyukai setiap keunikan tempat tinggalmu, setiap komponen budaya yang melekat di dalamnya, setiap keindahan musim yang tidak kutemui di sini, dan raut wajah yang selalu kurindukan. Maka mari memulai, dari mana saja. Dari ujung matamu atau mataku, dari aksen bahasamu atau aksen bahasaku. Mari saling berbagi pandangan tentang hidup yang terbungkus oleh filosofi dan tanda peradaban.

Bila yang kita butuhkan adalah sama, yaitu untuk didengar, maka berbagilah. Aku bukan perayu atau pengemis cinta. Tidak, cinta adalah nomor sekian. Aku masih terlalu lelah dan ingin sejenak melepas penat. Cukup untukku mengagumimu setelah kau tunjukkan apa yang selama ini kucari. Karena memang seperti itulah cara yang aku inginkan. Aku tak pernah menyalahkan harapan, sebab dengan harapanlah aku bertahan untuk berusaha menjaga dan mempertahankan dalam skala apa pun, terhadap siapa pun.