Untuk banyak alasan yang tidak mau diakui, kita pernah jatuh cinta, dulu. Disaat kesendirian begitu berisik mengusik kedamaian hidup dan kamu sedang merampungkan lukamu ditinggal wanitamu yang sebelumku, akupun begitu banyak-banyak masa lalu membawaku padamu, pada sebuah pertemuan yang wajar dan tanpa rencana akan jatuh cinta, sampai akhirnya kita menemukan dua tiga hingga lebih alasan untuk terjerat dalam suatu hubungan yang rumit menamakannya apa, kenyamanan membuat kita merasa saling memiliki kendati tidak.

Pilihan kita saat itu adalah menjalani, apa adanya, sambil membalut luka dulu masing-masing, kau adalah sebentuk mahluk yang menerima segalaku tanpa interupsi, segala keras kepalaku yang tidak kau lunakkan, aku menjadi diriku sendiri, itu adalah penghargaan cinta yang tertinggi kukira, setidaknya tidak menjadi boneka. Aku pun begitu padamu, kubiarkan kau bebas mengepakkan sayapmu kemanapun angin bertiup menghempas. Kita adalah penerimaan yang paling ikhlas, dulu.

Sampai akhirnya, kita mulai saling mendikte, dan merasa itu tidak beres. Aku mulai kebanyakan diam dan kau juga, itu adalah reprentase ketidak acuhan, tak acuh adalah sinyal lunturnya perasaan, dan hebatnya kita berdua melakukan pembiaran ,merasa begitu tangguh untuk dapat saling menyakiti. Kau berubah menjadi seseorang yang pandai membual, menjanjikan sesuatu yang tidak bisa kau penuhi, aku memercayai dan kepercayaanku kembali dengan rasa yang dikhinati, pahit dan banyak sekali. Aku memilih pergi, dan kau santai saja, sesal pun tak ada di air mukamu. Aku patah sekali!

Dulu, segala kenyamanan menjadikan cinta takluk pada jatuh, kita jatuh cinta. Hingga akhirnya keapatisan membuat kita terjatuh, luka. Tidak sedikit waktu, aku merampungkan patahan hatiku yang terjatuh berantakan, bergantian orang-orang baru datang menyisihkan tawa-tawa yang berangsur menutupi lukaku karenamu, hingga aku benar-benar telah sembuh, bahkan lupa bahwa pernah ada semacam kamu dalam hidupku dulu.

Di satu hari setelah kesembuhanku kau membagal hatiku lagi, datang masih dengan kenyamanan yang seperti dulu, sekali lagi kenyamanan darimu seperti candu, aku sakau sekali lagi. Dalam buaian kenyamanan itu kau mampu meyakinkanku bahwa yang dulu tidak akan terulang, ku peringatkan kau berkali-kali untuk tidak menjadi residivis, kau mengangguk meyakinkan. Indahnya, hatiku jatuh pada mencintaimu sekali lagi.

Advertisement

Akhirnya, tak ada angin tak ada hujan, badai datang, menyeretku dalam pusaran sakit yang deja vu, kau membanting hatiku lagi, kini dengan sangat keras dan dalam, aku terjatuh dalam luka yang parah. Kali ini kau simpan kebohongan yang lebih parah, ada dia, seseorang yang ternyata kau jamu dengan cintamu juga. Seketika aku ingin menjadi amukan Hera yang menelan selingkuhan Zeus dalam kutukan, tapi amarah akan kembali dengan rasa malu, aku lebih memilih berdamai dengan hatiku.

Kau, adalah dulu yang datang lagi untuk menyempurnakan luka yang pernah, mungkin ini menyenangkan bagimu, tak apa. Menyenangkan juga bagiku, telah mengajarimu kebesaran hati, aku yakin ada alasan mengapa kau begitu. Apapun, terima kasih, luka darimu selalu menjadi kudapan di hari-hariku yang lapar.