Untukmu yang terpisah jarak ribuan kilometer dariku … Bolehkah aku bercerita?

Aku memang bukan perempuan yang pandai mengungkapkan perasaan ketika tepat berdiri tegak di hadapanmu. Bukan pula gadis yang dengan mudah mengumbar kata sayang dan cinta layaknya sepasang kekasih di luar sana.

Aku masih yang dulu, gadis penuh teka-teki yang selalu bersifat seolah acuh di depanmu, walaupun sejujurnya hati ini meranggas setiap kali merindukanmu

Sesungguhnya gadis yang selalu dingin di hadapanmu ini tak lebih dari perempuan yang sedang berpura-pura tegar melewati setiap hari demi hari tanpamu..

Kusadari betul, tugas kuliah dan hidup di kota seberang sana, jauh dari teman, sanak keluarga sudah cukup membuatmu tertekan, lantas bagaimana mungkin aku tega merengek rindu, mengeluh akan keadaan kita yang justru hanya akan semakin membebanimu pikiranmu..

Sebagai perempuanmu, bukankah tugasku hanyalah mendukung setiap langkahmu

Andai saja kamu memahami, betapa remuk hati ini saat kamu, pria yang sekian lama menjadi tempat berbagi canda, tawa dan cerita justru memilih untuk kuliah jauh di sana dibanding di sini bersamaku. Namun dengan berjalannya waktu kini aku memahami, perpisahan kita hanyalah sementara..

Advertisement

Keputusanmu untuk meninggalkanku juga bukan tanpa alasan, apalagi kalau bukan untuk mengejar mimpi-mimpimu. Kamu sosok pria dengan kepercayaan diri dan ambisi tinggi tentu akan memilih tempat terbaik untuk mengemban ilmu. Tak sama halnya denganku, gadis pemalu yang lebih banyak menerima takdir tanpa mau berjuang lebih..

Malu rasanya tiap kali bercermin pada masa lalu, aku masih gadismu yang biasa saja seperti kemarin pertama kali kita berjumpa

Sementara kamu telah berubah menjadi sosok pria dewasa. Kamu tahu persis ada banyak hal yang harus dikorbankan dan ada sebagian yang memang pantas diprioritaskan

Bila kebersamaan kita saat ini adalah hal yang layak dikorbankan, bolehkah aku meminta agar kelak hidup menua bersamaku adalah satu dari sekian banyak target yang ingin engkau gapai?

Untukmu yang kupeluk dalam doa dan selalu kuharapkan dapat kutemui dalam mimpi tengah malamku

Bolehkah ku bertanya? Bukankah cinta namanya bila sanggup membuatku bertahan dalam penantian panjang ini?

Menutup mata akan setiap godaan yang datang , walau sebagai perempuan biasa kadang iri rasanya melihat teman sejawat dapat menghabiskan weekend dan agenda makan bersama. Sementara kita? masih berusaha menepis rindu, berdamai dengan sang jarak dan waktu.

Di saat kamu makan salad sendirian disana, akupun disini tak lebih baik kondisinya. Melahap dengan getir tiap suap nasi dan berharap kelak kita dapat duduk semeja, menghabiskan canda tawa setelah sekian lama tak berjumpa…

Bukankah cinta namanya bila hati ini masih saja memaafkan tiap kali kau acuhkan tak kau hiraukan demi kesibukan dan mimpi-mimpimu di seberang sana?

Dan setiap kerinduan itu kembali menyapa, aku hanya bisa memejamkan mata, menenggalamkan diri sendiri dalam kesibukan agar sejenak dapat menghapus bayang-bayangmu di setiap hela nafasku. Raga kita memang tak sanggup bersisian, tapi bolehkah hati kita tetap bersanding?

Mereka bilang sia-sia menghabiskan waktu menunggumu, bila di sini masih ada yang berharap bisa mengisi sebagian rongga di hatiku semenjak peninggalanmu.. Mereka lupa bukankah setiap hubungan harus didasari sebuah kesetiaan..

Yang kutahu setia itu bukan karena namamu ada di setiap bio sosmedku, bukan pula karena foto kita yang selalu kuumbar di hadapan mereka, namun setia itu tahu betul untuk siapa hatiku kalau bukan untukmu..

Bukan cinta namanya bila tak mampu mempersatukan kamu pria kurang peka dan aku gadis penuh teka-teki

Aku memang bukan perempuan sempurna, bahkan jauh dari sosok lemah lembut dan penurut. Sudah terlalu banyak episode-episode dimana kita beradu argumen, berselisih paham, hingga akhirnya cinta juga yang mempersatukan kamu dengan keegoisanmu dan aku dengan keras kepalaku

No matter how bad we fight, you are always be my home…

Bersisian sekian lama, menerka masa depan berdua memang bukan jaminan kelak kita akan hidup menua bersama, bila memang bukan aku yang digariskan oleh takdir untukmu.."

Namun, bolehkah aku meminta hubungan yang telah sekian lama kita perjuangkan akan berakhir di sebuah detik saat tanganmu menjabat tangan Ayahku dan berjanji sehidup semati bersamaku..

Padamu pria yang mengisi hari-hariku, menjadi teman berbagi cerita, canda dan tawa..

Akhirnya, pada jarak dan waktu kutitipkan hati dan rindu ini untukmu..

Mereka yang juga kelak menjadi saksi akankah kamu seorang pria yang kini sedang memantaskan diri akan bersatu denganku perempuan yang tak letih menjaga hati..