Angka kekerasan seksual semakin bertambah setiap tahunnya. Bahkan belakangan ini media dikejutkan karena adanya group Facebook bernama "Official Candy's Groups". Grup tersebut adalah group komunitas pedofil yang saling berbagi konten pelecehan dan pencabulan terhadap anak-anak. Hal itu tentunya sangat memilukan. Kekerasan seksual yang semakin marak terjadi tentunya sangat meresahkan banyak pihak terutama orangtua. Kekersan seksual pada anak akan memberikan dampak yang cukup berat bahkan mengancam masa depan anak.

Berdasarkan hal tersebut lima mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro yaitu Iftah Nur Indah Khikmatin, Ferlana Altinuari R, Nenis Digdyani, Krisdianti Adinda dan Ifti Aisha terdorong untuk membuat program SKETSA (Stop kekekrasan Seksual Terhadap Anak). Program ini dilaksanakan di TK Shofa Marwah, Meteseh, Semarang. SKETSA merupakan program pengabdian yang berupa rangkaian kegiatan baik kepada anak, guru maupun orang tua.

Program pada anak dilaksanakan selama empat pertemuan. Yang menarik dari program ini yaitu terdapat maskot laki-laki dan perempuan bernama Dona dan Doni yang berperan sebagai teman serta bertugas mengajarkan materi kepada anak-anak. Maskot ini juga berperan menjadi role model yang senantiasa mencontohkan perilaku terpuji kepada anak. Penyampaian materi dikemas secara apik karena menggunakan metode kreatif seperti drama, nyanyian, tarian serta tepuk-tepuk. Inti materi yang disampaikan meliputi bagian tubuh pribadi yang tidak boleh disentuh oleh sembarang orang serta mengajarkan anak tanggap terhadap situasi bahaya, serta perilaku apa yang harus dilakukan ketika anak berada di situasi tersebut.

Program ini mengandeng orang tua serta guru. Tujuan program ini mengandeng kedua belah pihak tersebut karena orang tua dan guru merupakan pihak banyak menghabiskan waktu bersama anak. Selain itu tujuan program mengandeng orang tua dan guru yaitu agar program SKETSA ini dapat berjalan lebih efektif. Berdasarkan hasil FDG ( Forum Discussion Group ) yang telah dilakukan diperoleh kesimpulan bahwa orangtua dan guru di TK Shofa Marwah masih menganggap bahwa seks edukasi merupakan hal yang tabu untuk dibicarakan pada anak, padahal fakta dilapangan anak sangat membutuhkan seks edukasi karena banyaknya anak menjadi korban/ pelaku kekerasan seksual karena kurangnya pemahaman anak tentang apa yang dilakukan serta dampak yang dilakukan. Oleh karena itu program pada orang tua dan guru terdapat sosialisasi yang dilakukan oleh psikolog langsung untuk memaparkan fakta dilapangan serta memaparkan materi tentang bagaimana cara mengajarkan seks edukasi secara tepat pada anak dan bagaimana cara memonitor kegiatan anak.

Program ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran pada orangtua dan guru tentang rentannya anak menjadi korban kekerasan seksual sehingga dapat meningkatkan monitoring orang tua maupun guru terhadap anak. Selain itu program ini diharapkan dapat membuat anak mandiri yaitu bisa menjaga diri sendiri karena tanggap terhadap situasi bahaya. Diharapkan program ini dapat mengurangi angka kekerasan seksual kepada anak khusunya di wilayah Semarang.