Intan mengusap kedua matanya yang basah berlinang airmata, selalu di saat hujan mengguyur Kota Jakarta di siang hari.

Tak lagi dirundung duka, melainkan rasa putus asa yang teramat sangat.

Bayangan tentang Donny, sang kekasih yang amat dicintainya berkelebat dahsyat. Namun bagi Intan, cintanya pada Donny harus terhenti seiring dengan detak jantung kekasihnya yang tewas ditangannya sendiri. Intan.

Kehidupan percintaan keduanya memang tak bisa dibilang indah. Intan menyadari hal itu saat ia mendapati Donny bercumbu dengan perempuan lain di kamar tidur miliknya. Kejadian itu sontak membuat Intan dibakar rasa amarah, sekaligus kekecewaan karena melihat kekasihnya bergumul tanpa menggunakan sehelai benang dan bukan dengan dirinya.

Sakit hati. Marah. Kecewa. Sedih bukan kepalang. Semua rasa seakan menjadi satu. Seperti bom waktu yang setiap saat akan meledak.

Advertisement

Bukan Intan namanya kalau tidak bisa menyembunyikan sesuatu secara rapih. Bahkan menurut beberapa temannya, Intan termasuk perempuan batu, terlihat dari raut serta mimik wajahnya yang seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Namun, Intan adalah pendendam.

Sifat dendam yang telah mendarah daging sejak Intan kecil. Dendam bahwa segala sesuatunya, apapun yang ia sukai harus menjadi miliknya seutuhnya. Dendam yang telah membinasakan rasa pemaaf dan khilaf.

Pun ia turuti, saat Donny mengajaknya pergi setelah kejadian persetubuhannya dengan perempuan ‘itu’. Intan membisu, lupa akan rasa rindu yang sedari dulu ia puja pada kekasih di sebelahnya. Rasa rindu yang berubah menjadi rasa ingin membunuh.

“Kamu gak papa, yang?”, tanya Donny.

“I’m ok hun. I’m just not in a good mood today.”

“Aku worry, kamu ngilang dari dua minggu lalu. Aku watsap, bbm, SMS gak di \-read. Ditelpon gak diangkat. Makanya sekarang langsung aku jemput. Ngomong deh ada apa?”

“Berhenti di sini sayang. Aku pengen jalan-jalan ke kebun teh, mumpung adem.” jawab Intan.

Mobil pun berbelok ke arah perkebunan teh di Puncak. Intan keluar terlebih dulu. Raut wajahnya masam, lalu ia pun tersenyum simpul pada Donny yang bingung dengan sikap Intan.

“Jalan yuk ke sana.” ajak Intan.

“Ada yang mau kamu cari di sana, sayang? Yakin gak ada yang mau kamu omongin?” tanya Donny.

Intan mengajak Donny ke dalam hutan, jauh melewati perkebunan teh yang terbuka. Kini mereka berdua tepat berada di tengah pepohonan rimbun. Tak ada suara satupun, kecuali mereka berdua.

“I miss you like yesterday. I want you for life. But, I can’t feel your presence anymore hun.” Intan berbicara.

Donny masih menatapnya nanar.

“Kamu kenapa sih? Aneh banget. Please, don’t be so creepy like this.” lirih Donny.

Donny segera berbalik badan meninggalkan Intan. Tiba-tiba,

"CRAASSH!"

Intan menusuk punggung Donny dan menyobeknya hingga ke pinggang. Donny terkapar, kejang-kejang dalam keadaan tengkurap.

“Why…. Hun??… What the..”

Intan segera membalik badan Donny dan menusukkan pisaunya tepat di wajahnya yang tampan secara membabi buta.

“Now, you’re mine.”

Intan tersenyum.