Kali ini aku ingin mengalah kepada logika dan berpihak kepada rasa. Namun, apa daya diriku, seorang laki-laki yang tidak bisa lepas dari logika. Aku ingin bercerita tentang rasa, namun logikaku tidak bisa melepaskan diriku untuk merasa dengan sepenuhnya. Apakah aku sangat terbelenggu oleh logika? Tidak, aku tidak merasa terbelenggu, aku hanya merasa bahwa manusia selalu membutuhkan keseimbangan antara rasa dan logika.

Aku bicarakan logika dan rasa karena kali ini aku ingin membahas tentang kesiapan dalam "merasa". Ya, kamu pasti tahu tentang rasa, sesuatu yang sulit diekspresikan dengan kata-kata. Ada kalanya setiap manusia sebagai individu yang unik membutuhkan kesiapan dalam menghadapi rasa. Kesiapan untuk memulai sesuatu yang melibatkan rasa untuk ke depannya. Banyak orang mungkin bisa berkata bahwa kamu harus berani terjun bebas jika kamu ingin memulai untuk merasa. Namun, aku yakin setiap orang perlu waktu untuk mengumpulkan keberanian untuk terjun bebas ke dalam kedalaman rasa.

Ketika aku membicarakan rasa, mungkin saja aku membicarakan tentang cinta. Ya, cinta. Dimensi yang sangat pekat, dalam, dan sangat sulit digambarkan dengan media apapun. Mengapa aku gambarkan cinta sebagai dimensi? Karena aku memiliki pemikiran bahwa ketika kamu memasuki dimensi cinta, maka kamu akan berada di alam yang berbeda dengan dunia nyata. Pagimu bisa diwarnai dengan pelangi, namun malammu bisa dibalut oleh awan tebal dan badai sebagai tambahannya. Ya, seperti bermain roller coaster yang terkadang cepat terkadang lambat, terkadang membawamu keatas, terkadang membawamu kebawah. Namun, bukankah itu yang dimaksud dengan indah dunia? Bukankah setiap manusia mencari variasi untuk mewarnai hari-harinya?

Mungkin sedikit membingungkan, mungkin sedikit ambigu. Tapi, aku hanya berpikir bahwa untuk masuk kedalam suatu dimensi baru, aku membutuhkan waktu untuk mempersiapkan diriku. Aku tidak ingin langsung terjun bebas ke dalam pekatnya dimensi cinta. Ya, itulah logikaku. Berpikir rasional akan segala hal, membutuhkan persiapan untuk pergi terjun ke dalam dimensi yang berbeda. Namun, rasaku memiliki pendapat yang berbeda. Rasa menginginkanku untuk langsung terjun bebas tanpa persiapan apapun. Mencoba menikmati kepekatan dan setiap proses di dalamnya. Rasa menarikku untuk masuk ke dalam kepekatan dimensi cinta dan merasakan rasanya dibutakan oleh cinta, diguyur oleh lebatnya badai cinta, dan menikmati pelangi di pagi hari setelah badai itu berlalu.

Ini hanyalah sebagian dari pergulatan pikiranku. Antara logika melawan rasa. Bagaimana dengan pikiranmu? Apakah logikamu sudah bisa berdamai dengan rasa?