Aku masih bingung untuk menentukan langkah ku selanjutnya, dimana sebelumnya aku telah menaruh harapan besar kepada seorang wanita yang kudambakan,yang kunanti,dan yang kuimpikan untuk bisa menjadi milikku. Kulewati setiap cerita demi cerita dengannya bersama sebuah rasa yang terpendam,tersembunyi,dan hampir tidak tidak terlihat yang perlahan kutunjukkan kepadanya demi sebuah harapan. Kulakukan yang terbaik tapi tak terlalu baik mungkin bagi diriku karena terkadang aku berfikir melihat kebahagiannya saja itu sudah suatu kebahagiaan tersendiri untuk ku tanpa ku memikirkan kebahagiaanku sendiri.

Terkadang aku merasa jenuh dengan perasaan ini,perasaan yang mulai menggangguku untuk berfikir tentang hal-hal lain selain yang berkaitan dengannya. Semakin aku memikirkannya semakin sering aku teringat kepada semua hal yang berkaitan dengannya baik itu cerita yang pernah kami alami bersama maupun yang hanya dialami olehnya tetapi sepengetahuanku.

Aku sempat melakukan kebodohan yaitu dengan menjadikan seseorang temanku untuk menjadi pelampiasan perasaanku, aku melakukannya semata-mata agar aku bisa melupakannya. Tapi nyatanya aku tidak bisa. Hingga akhirnya aku putuskan untuk memberitahukan yang sebenarnya kepada temanku bahwa aku tidak menaruh perasaan apa" kepadanya. Melainkan aku hanya menjadikannya sebagai tempat pelampiasan perasaanku.

Ia menerima keputusanku dengan penuh kekecewan yang terlihat jelas dari pandangan matanya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa setelah itu, selainkan meminta maaf kepadanya atas apa yang telah kulakukan kepadanya. Dan satu-satunya alasanku mengatakan yang sebenarnya ialah aku tidak mau melihatnya lebih terluka jika ia tau yang sebenarnya lebih lama lagi.

Aku sadar ini adalah sebuah kesalahan dari kebodohan yang aku lakukan. Hubungan kami pun berakhir dan hanya menjadi sebatas teman biasa. Selanjutnya aku mulai mendekatinya dan berusaha menjadi teman baiknya. Dan itu berhasil, kamipun menjadi teman baik (bisa dibilang sahabat ) dan dari saat itu aku terus menjaga perasaannya karena aku takut ,aku takut jika harus melukai perasaannya.

Advertisement

Aku menikmati saat-saat dimana kami berdua tertawa bersama,saling cerita tentang diri masing-masing,saling tukar pendapat dsb. Hingga tiba saat dimana aku mengungkapkan perasaanku tetapi ia tidak merespon sebab aku mengatakannya saat kami hendak berjalan pulang dan ia bingung untuk menjawab tetapi mengucapkan beberapa pertanyaan dan aku menjawab dengan singkat"kamu itu istimewa" dan dia diam tanpa kata setelah itu.

Setelah aku mengungkapkan perasaanku saat itu aku meyakinkannya bahwa aku tidak ingin kalau harus jadi pacarnya atau kekasihnya. Hanya tetap ingin menjadi teman baiknya.

Setelah hari itu kamipun melewati hari-hari selanjutnya dengan sedikit canggung tetapi lama-kelamaan ia mulai kembali terbiasa. Hingga tiba saatnya dimana aku mengungkapkan perasaanku untuk kedua kalinya. Tepatnya satu hari setelah hari ulang tahunku dirumah teman ku yang juga sedang berulang tahun saat itu dan kami merayakannya disana. Aku mengatakan isi hatiku kepadanya, kuungkapkan semua perasaanku kepadanya. Lalu dia menjawabnya dengan terlihat sedikit malu karena bnyak teman kelasku yang berada disitu.

Jawabannya formal seperti jawaban wanita umum lainnya ketika menolak pria yang lain. Ia tidak bisa berhubungan denganku karena ia menganggap pacaran bukanlah satu-satunya jalan terbaik dan ia tidak mau hubungan kami jadi tidak sedekat dan seakrab sebelumnya hanya karena jika kami berpacaran lalu mendapatkan masalah dan selanjutnya memilih putus.

Iya itu memang suatu alasan yang logis menurutku dan aku juga berfikir demikian. Aku menerima keputusannya, tetapi salah satu temanku mengatakan pendapatnya kepadaku jika memang kalian berdua sudah berfikiran dewasa. Kenapa harus takut menghadapi masalah yang akan timbul kelak di hubungan kalian? Intinya temanku menganggap keputusan nya adalah suatu penolakan tetapi secara tidak langsung. Aku setuju dengan pendapat temanku.

Hari demi hari aku terus memikirkan alasannya dan aku memilih untuk perlahan-lahan melupakannya tetapi tidak menjauhinya. Aku berfikir kalau memang dia tidak bisa untuk menjadi kekasihku berarti ia hanyalah menjadi sebuah impian dalam hidupku. Dan aku pikir kalau ia memang sebuah impian dan hanya akan menjadi sebuah mimpi untuk kau dapatkan, maka dari itu bangunlah! Bangun dari mimpimu hingga engkau bisa melihat jelas, siapa saja orang-orang yang meyayangimu sehingga kamu akan mendapatkan kebahagiaan dari orang-orang yang menyayangimu.

Dan aku mulai melupakan mimpiku untuk menjadi kekasihnya dan sekarang aku telah mendapatkan seseorang yang menyayangiku dan aku juga menyayanginya,

Akhir-akhir ini aku mulai membiasakan diri dengan kekasih hatiku yang baru

Semoga aku bisa melewati setiap proses yang ada